KOTA LANGSA – Seorang pengusaha di Provinsi Aceh menilai untuk berinvestasi di Aceh tidaklah aman, karena minimnya perhatian pemerintah terhadap jaminan keamanan bagi investor.
Hal tersebut disampaikan oleh salah satu pengusaha yang juga investor, Sures Kumar yang merupakan pengelola pusat perbelanjaan Langsa Town Square (Latos) di Kota Langsa, Aceh kepada hariandaerah.com.
Sures menceritakan pengalaman buruknya selama menjadi investor di Aceh dan mengungkapkan jika pemerintah cenderung membiarkan para pengusaha menghadapi tekanan atau intimidasi dari berbagai pihak, termasuk oknum-oknum ormas yang kerap datang untuk memeras.
”Saya menegaskan, dukungan dan perlindungan bagi investor di Aceh sangat minim, serta tidak ada keberpihakan dari pemerintah terkait keamanan, karena kita disini ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah. Saya juga pernah menerima berbagai ancaman,” ucapnya,
Kekecewaan Investasi Ratusan Miliar
Sures mulai mengatakan, setelah lebih dari 14 tahun, permasalahan gedung yang dibangunnya melalui kerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemko) Langsa hingga kini belum menemukan solusi.
“Saya kecewa dengan investasi ratusan miliar di Latos yang telah ditanam di Aceh,” ungkap Sures, Kamis (05/02/2026).
Sures menjelaskan, dalam perjanjian awal, Pemko Langsa bertindak sebagai pemilik lahan, sementara dirinya sebagai investor bertugas membangun dan mengelola gedung tersebut.
Bank Daerah turut dilibatkan sebagai mitra pendamping selama proses pembangunan agar proyek selesai tepat waktu, namun nyatanya berbalik 360 derajat.
”Perjanjian kerja sama Bangun Guna Serah (BGS) dibuat pada 2011, saat Wali Kota dijabat Almarhum Zulkifli Zainon,” ujarnya.
Ia menambahkan, bahwa Investor yang bekerja sama dengan pemerintah dalam proyek pembangunan pasar modern wajib mendapatkan dukungan dari bank daerah sebagai bank pendamping.
“Namun, kenyataannya tidak ada bank daerah maupun bank pendamping lain yang bersedia membantu pembiayaan pembangunan,” kata Sures.
Akibat dari itu, Sures pun merasa telah ditipu oleh pihak pemerintah dan bank daerah yang sebelumnya telah berkomitmen.
Sehingga terpaksa ia bekerja sendiri untuk menyelesaikan pembangunan lantai dasar guna menampung 136 pemilik awal yang sudah mendaftar dan harus mendapatkan kembali hak gerainya.
Meski merasa terjebak, Sures mengaku tetap berupaya merampungkan pekerjaan itu dengan menggunakan dana pribadinya tanpa bantuan perbankan.
Sures lalu mengisahkan kembali, pada tahun 2015 saat dirinya meminta bantuan Pemko Langsa di bawah kepemimpinan Wali Kota Usman Abdullah (Toke Seum). Saat itu Pemko Langsa sempat mencoba memediasi dengan pihak bank daerah.
“Namun hasilnya tetap nihil. Tak ada bank yang bersedia menjadi pendamping dalam kerja sama tersebut,” terangnya lagi.
Sures juga mencoba melakukan berbagai upaya lain, termasuk mencari dukungan dari bank konvensional di Aceh. Namun, hasilnya tetap sama, tidak ada.
Perjuangan pun terus dilakukan Sures secara mandiri dalam menyelesaikan pembangunan gedung Latos tersebut, dan dengan penuh kesedihan disampaikan, bahwa berinvestasi di Aceh bukanlah hal mudah.
”Pengalaman pahit ini menjadi salah satu alasan mengapa Aceh begitu sulit menarik minat investor. Meskipun ada pihak yang berniat berinvestasi untuk kemajuan daerah, mereka mungkin akan menghadapi kesulitan dan penderitaan seperti yang saya alami,” kisahnya dengan penuh haru.
Tak lupa Sures menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi gedung Latos yang sejatinya dirancang menjadi salah satu ikon Kota Langsa, namun kini masih tak terselesaikan secara sempurna.
“Latos ini memiliki potensi besar sebagai pusat bisnis yang mampu menciptakan ribuan lapangan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah,” sebutnya.
Sures pun berharap dan optimis kepada Wali Kota Langsa yang baru, agar dapat memberikan solusi atas nasib gedung Latos tersebut.
Menurutnya, Jeffry Sentana yang saat ini memimpin Kota Langsa dapat menjadi titik terang untuk menyelesaikan persoalan yang sudah berpuluh tahun tak kunjung tuntas.
”Besar harapan saya kepada adinda Jeffry Sentana selaku pemimpin Kota Langsa. Saya yakin “Ada Secercah Harapan untuk masa depan Latos” begitu juga bagi investasi di Aceh,” tutup Sures Kumar dengan penuh harapan.














