BANDA ACEH – Dalam rangka menyukseskan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-8 Pemerintah Kabupaten Aceh Timur akan mempromosi sebanyak 100 item cagar budaya.
Hal tersebut disampaikan, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Timur, Suriadi,. SE, Sabtu (4/10/2023).
“Promosi 100 item cagar budaya bagian penting untuk merawat budaya agar tidak tidak menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Suriadi.
Suriadi mengatakan diantara mempromosikan ratusan ragam budaya itu Kabupaten Aceh Timur kali ini juga memamerkan sebuah Kitab Suci Alqur’an tinta emas.
“Kitab suci Alquran ini dari daerah Lokop Kecamatan Serbajadi dengan lukisan ditengahnya sangat indah yang dikenal dengan puncok rumbong,” sebut Suriadi
Suriadi memperkirakankan 100 item cagar budaya diantaranya bate ranup perak, cape kepala tali pigang, cerana buah, pistol marsose portigus abad 18, cerapam merantek bulat, cerapam merantek biasa, cirik panjang.
Selain mempromosi sebanyak 100 item dalam ajungan cagar budaya, Dekranasda juga menampilkan berbagai kerajinan tangan masyarakat seperti kain tenun, anyaman pandan, wadah batok, dan tikar. Selain itu, sesuai dengan tema rempahkan bumi pulihkan dunia juga memaerkan kulit maneh, kunyit dan lain-lain.
Dia berharap, seluruh masyarakat Aceh Timur khususnya mendukung dan menyukseskan PKA kali ini yang menjadi agenda 4 tahunan ini.
“Mari kita dukung PKA dan kita meriahkan dengan menghidupkan kembali adat Aceh yang telah tertimbun lama, sehingga generasi Aceh ke depan mengetahui berbagai peninggalan keturunan Aceh masa lalu,” pungkas Suriadi.
Sementara itu PJ. Bupati Aceh Timur Ir. Mahyuddin, M.Si ikut menghadiri langsung kesiapan anjungan Kabupaten Aceh Timur dalam mempersiapkan pameran di PKA tahun ini. Saat ke Anjungan ia juga ikut ditemani PJ. Walikota Langsa Syaridin.
Pada kesempatan tersebut, Mahyuddin mengatakan, Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) menjadi kesempatan besar bagi masyarakat untuk kembali mengenang kisah dan sejarah Aceh.
Dari masing-masing daerah tentu memiliki cerita tentang bagaimana kehidupan warganya mulai dari adat istiadat, kebudayaan, hingga benda yang kerap digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Peninggalan benda koleksi masyarakat terdahulu berbagai macam ragam yang dipamerkan dalam Anjungan Aceh Timur, sebagai bagian pelajaran bagi para pengunjug PKA di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.
Benda-benda bersejarah di anjungan Aceh Timur itu seperti peninggalan sejarah masa kerajaan Peureulak, Jepang hingga masa penjajahan Belanda.
Mulai dari parang (golong) orang Aceh, Bedil VOC (senapan, pistol), keris peninggalan kerajaan, hingga pedang samurai Jepang.
Bukan hanya itu saja, ada beberapa benda lainnya yang memiliki nilai sejarah khususnya digunakan masyarakat Aceh Timur zaman dulu juga turut disajikan. Berikut beberapa diantaranya:
Cerepa Bakong, Cirik Panyang, Kom Kue Meuseukat, Puan Ranub, dan Lusong Kuningan.
Cerepa Bakong
Cerepa Bakong adalah benda yang digunakan oleh kaum laki-laki untuk meletakkan bakung rokok dan daunnya. Benda ini terbuat dari bahan kuningan dengan ukiran indah dan halus bermotif Canek On Kaye. Cerepa Bakong ini sudah ada sejak abad ke-18 masehi.
Cirik Panyang.
Cirik Panyang adalah wadah yang digunakan untuk mengisi air minum. Benda ini terbuat dari kuningan dengan bentuk seperti leher unta dan sudah ada sejak abad ke-19 masehi. Pada masa itu, Cirik Panyang dibawa oleh pedagang-pedagang Arab ke Sumatera, untuk berdagang dan mencari rempah-rempah.
Kala itu, banyak rakyat Aceh yang menukarkan rempah dengan barang-barang dagangan orang-orang Arab dan India.
Kom Kue Meuseukat.
Sebuah wadah digunakan untuk meletakkan Kue Meuseukat, yang dibawa pada acara adat tertentu dan hari-hari besar Islam. Benda ini terbuat dari kuningan dengan bentuk bulat berornamen ukiran daun kayu. Benda ini sudah ada sejak abad ke-19 masehi, dibawa oleh pedagang-pedagang dari India yang mengincar rempah-rempah Aceh sekaligus berdagang.
Puan Ranub.
Puan Ranub adalah benda yang digunakan masyarakat Aceh Timur pada abad ke-18 masehi untuk menaruh sirih dan perlengkapannya seperti kapur, pinang, dan cengkeh. Puan Ranup ini biasa juga digunakan untuk memuliakan undangan dan pada hari Raya Islam.
Lusong Kuningan.
Lusong Kuningan merupakan benda yang digunakan untuk menumbuk rempah-rempah ramuan obat-obatan seperti lada, cengkeh, kunyit, kayu gaharu, dan lainnya. Benda ini sudah ada sejak abad ke-16 masehi.
kemudian lanjut dia, benda-benda bersejarah lainnya yang sering digunakan oleh masyarakat Aceh Timur pada zaman dahulu yakni, Plok Peng Logam, Mundam, Cirik Meutangke, Kom Emas dan Kande Tujoh Mata.
Plok Peng Logam
Plok Peng Logam digunakan oleh masyarakat Aceh Timur pada abad ke-19 masehi untuk menyimpan uang logam dalam pecahan Dirham, Keuh, Kupang, Ringgit dan lainnya. Plok Peng Logam ini terbuat dari kuningan dengan motif ornamen putik bungong jeumpa. Benda tersebut biasanya digunakan oleh kaum perempuan untuk menabung uang.
Mundam.
Mundam merupakan sebuah wadah yang digunakan untuk mengisi air cuci kaki pengantin pada acara adat perkawinan ketika menginjak kain tutu di depan pelaminan. Mundam terbuat dari kuningan dengan bentuk bulat seperti buah labu, benda ini sudah ada sejak ke-17 masehi.
Cirik Meutangke.
Cirik Meutangke adalah wadah yang digunakan untuk mengisi air minum seperti air putih, kopi, dan teh. Benda ini terbuat dari kuningan dengan motif seperti burung angsa. Pada abad ke-18 masehi, Ciri Meutangke kerap digunakan oleh kaum bangsawan dan Uleebalang.
Kom Emas.
Kom Emas merupakan sebuah wadah yang digunakan untuk menyimpan perhiasan. Benda ini dibuat dari bahan kuningan dengan motif ukiran Canek On Kaye dan Putik Delima di tangkai paling ujung pada bagian tutup, dan benda ini sudah ada sejak abad ke-19 masehi.
Kande Tujoh Mata.
Kande Tujoh Mata merupakan sebuah lampu gantung berantai dengan motif pucok reubong dengan tujuh sumbu lampu ganjil. Lampu Tujoh Mata ini biasa digunakan sebagai penerang dalam rumah yang digantung di atas atap. Benda ini sudah ada sejak abad ke-16 masehi. (ADV)














