Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Asal Mula Tari Dampeng Aceh Singkil, Disbudpar Aceh: Terus Dilestarikan

tari dampeng
Peragaan Tari Dampeng Asal Aceh Singkil. (Foto: Istimewa).

BANDA ACEH – Tari Dampeng adalah sebuah tarian milik suku Singkil yang biasa ditampilkan untuk merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam adat. Seperti acara khitanan, pernikahan dan menyambut tamu-tamu khusus seperti para pembesar (kepala daerah). Tarian ini diiringi dengan syair-syair khusus dengan menggunakan bahasa Singkil.

Makna dan Fungsi

Tari Dampeng merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (nasehat). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.

Sebelum Dampeng dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (jorong) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dan perempun dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara grup tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian dititikberatkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

Hal tersebut disampaikan seorang tokoh masyarakat Singkil, Sukardi, S.Sy, kepada media ini, Sabtu (29/4/2023).

“Tarian ini merupakan salah satu tarian persembahan pada masyarakat Suku Singkil. Tari ini biasa dipertunjukkan pada acara pernikahan sebagai rangkaian prosesi dalam mengantar ( mengarak) mempelai pria,” kata Sukardi.

tari dampeng
Dulmusrid disambut Tari Dampeng saat menghadiri Bursa Inovasi Desa di Kecamatan Suro Makmur, (Foto: Istimewa).

Dahulu tarian ini ditarikan oleh 2 orang saja, lanjut Sukardi, namun pada perkembangannya tarian ini kemudian ditarikan hingga oleh 8 orang. Jumlah penari haruslah genap karena beberapa gerak tari dilakukan secara berpasangan. Tarian ini pun menjadi simbolisasi gerakan melindungi raja (dalam hal ini mempelai pria atau marapulai dalam acara pernikahan).

“Dalam gerakan tarian ini, khususnya pada upacara pernikahan, kita dapat melihat 2 hingga 4 orang penari melingkari mempelai pria dan menari berputar-putar lingkaran dalam dengan menggunakan langkah yang serupa dengan langkah silat. Kemudian, 4 orang penari lain menari melingkar di lingkaran luar. Dan dalam rentak tertentu, seluruh penari di lingkaran dalam melakukan gerakan tari berpasangan dengan penari di lingkaran luar,” ujarnya.

Tarian ini, kata Sukardi, selalu diiringi dengan alat musik tradisional diantaranya gendang dendang dan bangsi. Selama perjalanan marapulai menuju rumah pengantin wanita atau dara baro, rombongan diiringi oleh musik tradisional tersebut.

BACA JUGA:  Konsisten Dukung Usaha Rakyat, Bank Aceh Salurkan KUR 2024 Rp1,5 Triliun

“Ketika rombongan sudah sampai di depan pintu pagar rumah dara baro, tarian ini pun dipersembahkan. Keluarga dara baro dan dara baro turut menyaksikan persembahan ini di depan pintu rumah mereka,” tuturnya.

Namun belakangan, tarian ini semakin jarang ditarikan pada upacara pernikahan karena masyarakat lebih banyak menggunakan shalawat badar sebagai pengiring kedatangan marapulai.

“Hal ini terjadi karena masyarakat menganggap dengan membawakan shalawat badar, prosesi pernikahan menjadi lebih khusyuk,” kata Sukardi dan juga seorang Alumni Fakultas Hukum dan Syariah UIN Ar-raniry ini.

Sukardi berharap semoga tari dampeng ini dipopulerkan kembali agar budaya ini tidak terlupakan dan terus dilestarikan kepada generasi penerus.

“Mari kita lestarikan kembali tari Dampeng ini, jangan sampai kita lupakan budaya kita,” ujarnya.

Sejarah Tari Dampeng

Kemudian, untuk sejarah tari Dampeng ini, Sukardi memaparkan, dikisahkan bahwa tarian ini diciptakan oleh seorang Teungku bernama Teungku Gemerinting yang berasal dari Singkil yang kemudian merantau ke Pagaruyung. Dalam perjalanannya menuju Pagaruyung, ia melewati hutan. Pada saat malam tiba ia memutuskan untuk beristirahat di atas pohon. Kemudian dari atas pohon itu, ia meihat seekor elang terbang berputar-putar di atas kepalanya. Dari gerakan elang tersebut, Teungku Gemerinting menciptakan sebuah gerak tari yang melambangkan kekuatan dan keperkasaan elang di angkasa.

“Tidak diketahui secara pasti  kapan tarian ini mulai muncul dan menjadi bagian dari pesta pernikahan. Namun, masyarakat meyakini bahwa tarian ini sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat dan diperkirakan tumbuh sejak zaman kerajaan mulai ada si Singkil,” pungkasnya.

Makna dan Fungsi

Tari Dampeng merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan (nasehat). Tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan dan kebersamaan.

Sebelum Dampeng dimulai yaitu sebagai mukaddimah atau pembukaan, tampil seorang tua cerdik pandai atau pemuka adat untuk mewakili masyarakat setempat (jorong) atau nasihat-nasihat yang berguna kepada para pemain dan penonton.

Lagu dan syair pengungkapannya secara bersama dan berkesinambungan, pemainnya terdiri dari pria-pria yang masih muda-muda dan perempun dengan memakai pakaian adat. Penyajian tarian tersebut dapat juga dipentaskan, dipertandingkan antara grup tamu dengan grup sepangkalan (dua grup). Penilaian dititikberatkan pada kemampuan masing-masing grup dalam mengikuti gerak, tari dan lagu (syair) yang disajikan oleh pihak lawan.

BACA JUGA:  Prajurit Yonif 854 Tembus Daerah Terisolir Pameu, Salurkan Bantuan Kasad untuk Warga Aceh Tengah

Eksistensi Tari Seudati Perlu Diangkat

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah menyebutkan, kesenian Aceh tentunya memiliki gerakan yang dinamis seperti tari Dampeng ini, dikarenakan penarinya memiliki energi yang atraktif jika tampil di panggung nasional atau internasional selalu menjadi “poin of interes” karena penuh semangat totalitas dan berdedikasi dalam menampilkan pertunjukan.

“Oleh sebab itu, menjadi salah satu indikasi, perlunya kita bersama-sama seluruh masyarakat untuk selalu menjaga dan mengembangkan serta mengangkat eksitensi seni budaya Aceh khususnya tari Dampeng ini,” harap Nurlaila saat ditemui hariandaerah.com di ruang kerjanya, Senin (2/5/2023).

Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap seni budaya Aceh semakin meningkat, oleh karena itu perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.

“Sebagai bentuk dukungan agar budaya Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pelaku budaya dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada di depan mata kita yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” pungkas Nurlaila.

Hal senada juga turut disampaikan Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal agar terus dirawat dan dilestarikan tari Dampeng ini agar tetap eksis.

“Kehadiran tari Dampeng di tengah masyarakat masih sangat perlu untuk dilaksanakan. Lewat Syair-syairnya banyak sekali nasihat di dalamnya, sehingga dapat menarik minat warga yang menyaksikannya,” ujarnya.

Pemerintah Aceh melalui Disbudpar, kata Almuniza, berkomitmen terus melestarikan beragam budaya kearifan lokal Aceh.

“Salah satu budaya kita yang perlu dilestarikan adalah tari Dampeng. Disbudpar Aceh terus Majukan Pariwisata’. Kiat-kiat pelestarian budaya Aceh akan terus kami gelorakan dan kami tingkatkan,” pungkasnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *