Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Brebes Expo 2026 Harus Jadi Mesin Ekonomi, Bukan Sekadar Keramaian Seremonial

IMG 20260815 WA0057
Ilustrasi: Brebes Expo 2026 bukan sekadar pesta kemeriahan, melainkan diharapkan menjadi mesin penggerak ekonomi lokal.(Foto dok hariandaerah.com)

BREBES — Kemeriahan Brebes Expo 2026 yang memadati Stadion Karangbirahi, Jumat (14/8/2026) lalu, patut diapresiasi. Namun semangat itu tak boleh berhenti begitu saja saat pesta selesai. Agar berdampak nyata, Brebes Expo harus bertransformasi menjadi mesin penggerak ekonomi lokal yang berkelanjutan.

Demikian ditegaskan Pengamat Politik dan Kebijakan Publik, Azra Fadillah Prabowo, S.I.P., saat diwawancarai awak media. Lulusan FISIP yang juga Konsultan Pusat Studi Politik dan Kebijakan Publik ini menilai kegiatan semacam ini memiliki nilai strategis jika tidak sekadar menjadi agenda seremonial memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

“Brebes Expo harus menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi daerah yang berkelanjutan. Bukan selesai begitu saja saat lampu panggung padam,” tegasnya.

Azra menunjuk data BPS tahun 2024 yang menunjukkan perekonomian Brebes tumbuh 5,02 persen. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 33,28 persen; industri pengolahan 19,31 persen; serta perdagangan besar dan eceran sekitar 16,18 persen.

BACA JUGA:  Bupati Tangerang Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik, RSUD Pakuhaji Termotivasi!

“Angka ini membuktikan: ruang promosi, perdagangan, dan penguatan produk lokal memang memegang peran kunci dalam memutar roda ekonomi Brebes,” urainya.

Pesan Bupati Brebes Hj. Paramitha Widya Kusuma agar masyarakat membeli dan menggunakan produk lokal, menurut Azra, harus diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.

“Semangat bertemunya pemerintah dengan masyarakat, pelaku usaha dengan pembeli, dan produk lokal dengan pasar yang lebih luas — itulah yang harus terus dijaga setelah Expo selesai,” ujarnya.

Ia mengusulkan empat langkah strategis agar Brebes Expo berdampak jangka panjang:

Pertama, Pemkab wajib mendata transaksi dan mengevaluasi omzet UMKM selama Expo. Keberhasilan tidak diukur dari seberapa ramai pengunjung, melainkan seberapa besar perputaran uang yang tercipta.

Kedua, UMKM potensial yang tampil harus mendapat pendampingan berkelanjutan: mulai dari perbaikan kemasan, branding, legalitas usaha, sertifikasi, pemasaran digital, hingga akses pembiayaan.

BACA JUGA:  Jadi Atensi Publik, Kasatreskrim Baru Didorong Tuntaskan Galian

Ketiga, Brebes Expo perlu diarahkan menjadi ruang business matching. Jangan hanya jual langsung ke pengunjung, tapi hubungkan UMKM dengan perbankan, jaringan ritel, hotel, restoran, marketplace, hingga pembeli dari luar daerah.

Keempat, bangun katalog digital “Produk Unggulan Brebes”. Sehingga produk yang dipamerkan tetap bisa diakses dan dibeli masyarakat sepanjang tahun, tak hanya saat Expo berlangsung.

Azra menegaskan, ukuran keberhasilan Brebes Expo bukan keramaian semata.

“Lihatlah berapa banyak UMKM yang naik kelas, berapa transaksi tercipta, seberapa luas pasar terbuka, dan seberapa besar manfaat ekonomi kembali ke masyarakat. Jika tercapai, Brebes Expo bukan sekadar pesta tahunan, melainkan mesin penggerak ekonomi lokal dan etalase kemajuan Kabupaten Brebes,” pungkasnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *