Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Cegah Stunting, Dinkes Aceh Ajak Masyarakat Tingkatkan Asupan Protein Hewani

Stunting
Kabid Kemas Dinkes Aceh, dr. Sulasmi, MHSM. (Foto: hariandaerah.com/Herlin).

BANDA ACEH – Masalah stunting merupakan salah satu isu penting dalam dunia kesehatan anak-anak yang masih menjadi perhatian besar, khususnya anak-anak di negara terbelakang dan negara berkembang. Stunting sendiri mengalami perubahan. Menurut WHO (2015), stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.

Selanjutnya menurut WHO (2020) stunting adalah pendek atau sangat pendek berdasarkan panjang / tinggi badan menurut usia yang kurang dari -2 standar deviasi (SD) pada kurva pertumbuhan WHO yang terjadi dikarenakan kondisi irreversibel akibat asupan nutrisi yang tidak adekuat dan/atau infeksi berulang / kronis yang terjadi dalam 1000 HPK.

Hal tersebut disampaikan, Kepala Dinas kesehatan Aceh, dr. Munawar, Sp. OG (K) melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kemas) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Sulasmi, MHSM saat dikonfirmasi hariandaerah.com diruang kerjanya, Senin (11/12/2023).

“Stunting adalah masalah tumbuh kembang anak yang ditandai dengan tinggi badan anak yang rendah, sementara berat badannya mungkin normal sesuai dengan usianya. Anak dikatakan stunting bila tinggi badannya tidak bertambah signifikan sesuai dengan usianya atau bila dibandingkan dengan tinggi badan yang anak itu dapatkan saat baru lahir,” kata Sulasmi.

Lebih lanjut, Sulasmi mengatakan, stunting bisa dicegah dengan protein hewani karena peran protein hewani sebagai zat gizi makro yang memiliki sumber asam amino esensial terbaik yang diperlukan tubuh untuk mengaktifkan berbagai enzim dan hormon pertumbuhan. Selain itu katanya, protein hewani memiliki vitamin dan mineral yang menunjang pertumbuhan dan perkembangan kognitif anak.

“Sayangnya, asupan protein hewani di Indonesia masih rendah. Bahkan, konsumsi protein hewani di Indonesia seperti daging dan ikan, termasuk yang terendah jika melihat data dunia Food and Agriculture Organization of The United Nations,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sulasmi menuturkan, Konsumsi daging penduduk Aceh masih di bawah 40 gram atau masih jauh dibandingkan dengan provinsi lain yang stuntingnya rendah. Konsumsi ikan di Aceh juga masih belum maksimal padahal Aceh yang kaya hasil laut. Sedangkan beberapa penelitian menyimpulkan bahwa balita yang kurang mengkonsumsi protein hewani berisiko 1,6 kali lebih besar mengalami stunting.

“Sumber protein hewani seperti ikan, susu dan produknya, daging, telur, dan unggas ternyata memiliki kelengkapan vitamin dan mineral berbeda-beda,” tuturnya.

“Contoh protein hewani yang memiliki vitamin dan mineral yang lengkap adalah hati (ayam/sapi) yang mengandung sangat tinggi vitamin A, vitamin B12, folat, zink, dan besi, namun memiliki kandungan kalsium yang rendah,” sambungnya.

Ia menambahkan, kerang mengandung sangat tinggi vitamin A, vitamin B12, zink, dan besi, namun memiliki kandungan folat dan kalsium yang rendah. Semenntara, telur ayam mengandung sangat tinggi vitamin A, vitamin B12, dan zink, mengandung tinggi folat, namun memiliki kandungan zat besi dan kalsium yang rendah.

BACA JUGA:  Wakapolda Aceh Buka Asistensi Tanda Tangan Elektronik Serta EMP Offline Dan Online
stunting
Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang Bersama Ibu-Ibu TP-PKK Kota Sabang, Saat Membagikan Sebanyak 950 Kemasan Produk Olahan Ikan Berupa Sempol, Otak-Otak, dan Ekado, Kepada Masyarakat (Foto: hariandaerah.com/H).

Ikan juga mengandung sangat tinggi vitamin B12, zink, dan zat besi, namun memiliki kandungan vitamin A, folat dan kalsium yang rendah. Semakin tinggi kandungan vitamin dan mineral yang dimiliki oleh protein hewani maka semakin mudah penyerapan protein tersebut di saluran pencernaan.

“Oleh karena itu, konsumsi beragam protein hewani di dalam saat ini sangat digalakkan terutama pada kelompok masyarakat rentan yaitu ibu hamil, balita dan anak dibawah usia 2 tahun dan ibu menyusui., karena kelompok masyarakat ini mengalami siklus kehidupan inti yang sering disebut sebagai 1000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan),” jelasnya.

“Pada 1000 HPK, jika kondisi gangguan gizi dapat diatasi maka dapat menekan kemungkinan terjadinya gizi buruk dan stunting pada periode kehidupan anak selanjutnya,” ungkapnya.

Menurut Kabid  Kesmas Dinkes Aceh itu, nutrisi dalam sebutir telur sangat kaya akan zat gizi yang bisa mencegah anak menjadi Stunting.

“Dalam sebutir telur itu, banyak sekali mengandung zat gizi. Telur banyak protein hewani dan asam amino esensial yang sangat bagus bagi perkembangan anak. Protein hewani itu sangat bagus untuk perkembangan balita. Untuk mencegah stunting, anak bisa diberikan dua porsi makanan tinggi protein hewani setiap hari, bisa berupa kombinasi antara telur dan ikan, telur dan ayam atau ikan dan ayam atau daging,” ujarnya.

Sekarang ini, lanjutnya Sulasmi, ibu hamil harus memeriksakan kesehatannya sebanyak 6 kali selama kehamilan, dimana 2 kali diantaranya harus dilakukan pemeriksaan oleh dokter menggunakan USG. Hampir semua Puskesmas saat ini sudah tersedia USG. Sulasmi juga menjelaskan, bahwa saat ini sudah ada dana khusus di Puskesmas yang dianggarkan untuk makanan bagi ibu hamil KEK.

“Ada dana BOK salur yang disalurkan ke Puskesmas. Dianggarkan untuk makanan bagi ibu hamil KEK, untuk menekan angka Stunting,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut, Sulasmi  berpesan khusus kepada ibu hamil dan anak balita harus lebih banyak mengkonsumsi protein hewani agar terhindar dari Stunting. Ibu hamil harus banyak makan.

Porsi makan ibu hamil harus lebih banyak dari pada sebelum hamil, kalau biasa makannya 1 potong ikan, saat hamil harus makan 2 potong ikan. Karena janin sangat membutuhkan asupan protein hewani agar anak yang dilahirkan kelak tidak mengalami Stunting.

“Perkembangan anak saat ditentukan pada 1000 HPK kehidupan sampai dengan dengan anak berusia 5 tahun, karena pada periode ini, anak mengalami pertumbuhan yang sangat cepat,” pungkasnya.

BACA JUGA:  Polisi Salurkan Sembako untuk Masyarakat Korban Bencana

Terkait pencegahan stunting dengan protein hewani salasah satunya ikan yang kaya dengan protein. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Sabang bersama ibu-ibu TP-PKK Kota Sabang, membagikan produk olahan ikan kepada masyarakat di wilayah setempat.

Sebanyak 950 kemasan produk olahan ikan berupa sempol, otak-otak, dan ekado, dibagikan kepada masyarakat yang melintas di jalan Sabang Fair dalam beberapa hari yang lalu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang, Zulfan mengatakan bagi-bagi produk olahan ikan yang dibalut dengan aksi  Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) tersebut, merupakan rangkaian dari peringatan Hari Ikan Nasional yang jatuh pada 21 November 2023 yang lalu

“Ini juga bentuk kampanye kita untuk mengedukasi, memberikan pemahaman manfaat dan nilai gizi yang terkandung dalam ikan, serta memberi saran-saran ragam jenis pengelolaan ikan kepada masyarakat. Sekaligus upaya kita untuk menurunkan angka stunting dengan makan makanan bergizi tinggi,” jelasnya.

stunting
DKP Kota Sabang Bersama Ibu-Ibu TP-PKK Kota Sabang Membagikan Produk Olahan Ikan Kepada Masyarakat Sabang. (Foto: hariandaerah.com/H).

Lebih lanjut dikatakan, produk olahan ikan yang dibagikan tersebut merupakan hasil produksi para peserta yakni Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (Pohlahsar) serta Unit Pengolahan Ikan Kota Sabang, yang telah mengikuti pelatihan pengolahan ikan di dinas terkait pada tanggal 22-24 November 2023

“Dengan giat ini, semoga masyarakat yang kita latih, mampu melakukan produksi mandiri. Selain itu kita juga berharap kampanye ini dapat mengedukasi masyarakat bahwa ikan mengandung banyak manfaat dan bergizi tinggi, sehingga mereka akan lebih senang dan gemar makan ikan,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua III TP- PKK Kota Sabang Zikri Hayati, bahwa ikan memiliki gizi yang tinggi, sebagai antioksidan, mengurangi resiko penyakit, dan yang terpenting mampu meningkatkan kecerdasan otak, karena mengandung omega 3. Sehingga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak dan mengurangi resiko stunting.

“Jadi aksi Gemarikan ini tentunya sangat mengedukasi masyarakat, terutama manfaatnya terkait stunting. Juga mungkin ada beberapa anak yang tidak suka makan ikan, namun dengan edukasi pengolahan yang beragam, anak-anak akan senang memakannya,” ujar Zikri.

Dia turut mengajak semua masyaraka terutama kaum ibu, untuk lebih gemar memasak dan mengonsumsi ikan di rumah bersama keluarga.

“Semoga lebih banyak lagi kegiatan- kegiatan seperti ini ke depannya, yang turut melibatkan kami TP-PKK Kota Sabang. Sehingga melalui kader-kader yang ikut berpartisipasi, mereka bisa mengembangkan program edukasi yang sama di desa masing-masing. Sehingga manfaatnya bisa sampai ke pelosok Sabang, terutama dampaknya dalam hal menurunkan angka stunting” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *