TANGERANG, – Bayangkan hidup berhimpitan di ruang sempit antara dua tembok, itulah ‘sosompang’, tempat tinggal keluarga Adi di Kampung Tangga Jiman, Desa Kampung Kelor, Sepatan Timur. Kisah pilu ini mengetuk hati banyak orang, dan alhamdulillah, pemerintah Setempat bergerak cepat.
Pemerintah Kecamatan Sepatan Timur bersama Pemerintah Desa Kampung Kelor langsung bergerak setelah mendengar kabar tentang keluarga Adi yang hidup dalam kondisi memprihatinkan. Aksi cepat tanggap ini dilakukan setelah informasi mengenai keluarga Adi yang menempati ‘sosompang’ atau emperan di antara dua tembok sebagai tempat tinggal mereka, sampai ke telinga mereka.
Pada Senin, 20 Oktober 2025, Camat Sepatan Timur, Miftah Shuritho, S.STP., M.M., melalui Kasi Binwas Edwin, turun langsung ke lokasi rumah keluarga Adi di RT 04/02 Kampung Tangga Jiman, Desa Kampung Kelor, untuk melihat sendiri bagaimana kondisi mereka.
“Kami memastikan bahwa keluarga Pak Adi memang tinggal di tempat yang sangat tidak layak. Terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah menyampaikan informasi ini. Dengan begitu, pemerintah bisa segera menindaklanjuti,” ujar Edwin.
Pemerintah desa dan kecamatan telah menyiapkan langkah konkret: membangun rumah layak huni untuk keluarga Adi dengan menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2025.
“Insyaallah pembangunan rumah akan segera direalisasikan di lahan yang sudah disiapkan,” tambahnya.
Riri Ayu Rahmawati, istri Adi, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Perhatian dari pemerintah ini adalah secercah harapan bagi mereka.
“Alhamdulillah, kami merasa diperhatikan. Terima kasih kepada pemerintah desa, kecamatan, dan teman-teman media yang sudah peduli. Jika rumah ini nanti terbangun, kami akan menjaganya dengan baik,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Warga sekitar pun menyambut baik langkah sigap pemerintah ini. Mereka berharap, perhatian semacam ini akan terus berlanjut, agar tak ada lagi warga Sepatan Timur yang terpaksa hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi.
Kisah keluarga Adi memang menyayat hati. Bersama istri dan dua anaknya, Adi tinggal di bangunan tambahan sempit yang menempel pada rumah orang tuanya. Kondisi tempat tinggal tersebut jauh dari kata layak huni, bahkan sangat memprihatinkan.
Udin, ayah Adi, dengan nada sendu menceritakan bahwa keluarga anaknya sudah lama menempati bangunan tersebut karena himpitan ekonomi.
“Tanah untuk membangun rumah sebenarnya sudah ada, tapi biaya pembangunannya yang belum ada. Anak saya hanya bekerja dengan penghasilan pas-pasan, jadi mustahil bisa membangun rumah sendiri,” tuturnya penuh harap.
Semoga dengan bantuan yang diberikan, keluarga Adi dapat segera merasakan hidup yang lebih layak dan nyaman. Ini adalah bukti bahwa kepedulian dan aksi nyata bisa mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik.














