Hariadaerah.com – Prestasi bisa saja didapatkan dimana saja, baik itu Akademik maupun Non-Akademik. Bahkan, penyandang disabilitas sekalipun dapat meraihnya.
Hal tersebut, seperti Aulia Rachmi Kurnia (24), mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan penyandang disabilitas netra. Namun, Aulia memiliki segudang prestasi yang dapat dibanggakan.
Bahkan, orang-orang tak dapat mempercayai kebenaran prestasi yang dimiliki Aulia. Sebab, ia telah menjadi sutradara film pendek. Namun, hingga saat ini judul film pendek itu masih dipertanyakan. Pasalnya, film pendek tersebut telah tayang pada Maret 2023 lalu dan telah diputar diberbagai kalangan komunitas pecinta film tanah air ternama.
Aulia merupakan mahasiswi fakultas ilmu budaya jurusan bahasa dan sastra indonesia angkatan tahun 2022.
Dilansir hariandaerah.com dari laman resmi web Universitas Gajah Mada (UGM), Jumat (18/08/2022) bahwa awalnya Aulia terlahir normal. Namun, pada usia 5 tahun Aulia sakit yang begitu parah, hingga menyebabkan Aulia kehilangan penglihatan. Namun, meski kehilangan penglihatan tak menyurutkan semangatnya untuk terus berprestasi.
Tentu bukan hal yang tak mudah, bahwa menjadi sutradara film bukan hal yang gampang. Ditambah dengan kondisi fisiknya saat ini. Walaupun, ia mengetahui bahwa sebagai sutradara memiliki beban yang amat besar.
Namun, ditengah keterbatasan itu, ia bersyukur telah dikelilingi orang-orang baik yang amat percaya akan potensinya dan mendukung penuh mensutradari film tersebut.
“Kesulitan ya pasti ada karena keterbatasan visual. Namun, sangat terbantu ada asisten sutradara yang bisa menjadi ‘mata’ saya dan team work yang luar biasa selama produksi film,” kata Aulia sepert menguip laman UGM, Rabu (16/08/2023).
Adapun film pendek yang disutradarai Aulia itu berdurasi 40 menit. Dan menceritakan tentang kisah sepasang kekasih. Dimana, pihak laki-laki itu merupakan penyandang disabilitas netra.
Tahun 2021, Aulia juga terlibat ikut serta dalam memproduksi film ‘Seutas Asa’. Aulia dipercaya menjadi salah satu pemeran dalam film yang dibuat oleh temannya sesama penyandang disabilitas netra.
Iapun merasa bangga dengan keikutsertaan di dunia film. Apalagi, film berjudul ‘Masih Tanda Tanya’ itu juga jadi pengalaman pertamanya untuk belajar dan berkarya di bidang perfileman.
“Gak nyangka aja bisa jadi sutradara. Saya bisa belajar banyak hal tentang bagaimana proses syuting, belajar manajemen pra hingga paska produksi. Belajar matengin naskah, pengambilan gambar dan juga kerja tim,” jelas dia.
Tak puas dengan hal itu, dengan segala kemampuannya, Aulia berencana ingin menulis naskah film dengan terus mengkampanyekan isu-isu inklusifitas khususnya disabilitas melalui dunia perfileman.
Aulia juga berharap, melalui dunia perfileman ini dapat menginspirasi banyak orang, tidak hanya di Yogyakarta. Namun juga di Indonesia bahkan dunia.
“Jangan berhenti berkarya. Sebab, berkarya itu tidak mengenal golongan, disabilitas atau bukan. Selagi ada niat kita bisa berkreasi dan yakinlah ada orang-orang yang akan mendukung kita,” pungkasnya.








