BREBES – Kegiatan outing class yang seharusnya menjadi momen edukasi menyenangkan bagi siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Bulakamba, berubah menjadi mimpi buruk. Ratusan siswa, guru, dan wali murid justru terlantar berjam-jam di rumah makan wilayah Kendal, Minggu (03/05/2026), setelah pihak pengelola wisata kabur tanpa melunasi pembayaran bus, konsumsi, dan tiket masuk objek wisata, padahal sekolah sudah melunasi seluruh biaya kepada biro tersebut.
Insiden bermula saat rombongan tiga bus usai berziarah ke makam KH Dimyati Rois di Kaliwungu singgah untuk istirahat. Saat itulah, pengelola biro Pesona Wisata berpamitan hendak mengambil uang tunai di ATM, namun tak kunjung kembali. Akibatnya, pihak pengemudi bus menolak melanjutkan perjalanan karena belum menerima pembayaran sewa, membuat rombongan terjebak dalam kebingungan, kepanikan, dan kelelahan menunggu berjam-jam di bawah terik matahari.
Perjalanan baru bisa dilanjutkan ke Semarang setelah pihak sekolah bergerak cepat bernegosiasi dan membayar ulang seluruh biaya sewa bus di tempat. Kerugian pun tak terelakkan, sekolah harus mengeluarkan dana dua kali lipat dengan total kerugian mencapai Rp37 juta, belum termasuk biaya makan dan tiket wisata yang ternyata juga belum dilunasi biro wisata tersebut. Hingga kini, pihak sekolah berencana melaporkan oknum pengelola ke kepolisian atas dugaan penipuan dan penggelapan uang.
Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Brebes, Aditya Perdana, membenarkan kejadian tersebut dan mengonfirmasi adanya laporan resmi dari kepala sekolah. “Kami sedang mendampingi proses pelaporan ke polisi. Ke depannya, kami imbau sekolah jauh lebih teliti memilih mitra, cek izin operasional, dan disarankan menggunakan biro wisata yang tergabung dalam asosiasi agar ada jaminan tanggung jawab jika terjadi masalah,” tegasnya Rabu (06/05/2026).
Sementara itu, Ketua Asosiasi Biro Wisata Brebes (Asbita), Teguh Tetuko, menegaskan bahwa nama Pesona Wisata tidak tercatat sebagai anggota organisasi mereka. “Kami sudah cek data, biro tersebut bukan bagian dari kami, sehingga kami tidak bisa memberikan tanggapan lebih lanjut,” ujarnya. Kejadian ini menjadi pelajaran penting agar kegiatan wisata pendidikan ke depan lebih terjamin keamanan dan kepastian hukumnya.







