Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Posyandu ILP Banyu Urip Menguatkan Pelayanan Kesehatan Berbasis Masyarakat

IMG 20260809 WA0003
Aktivitas Posyandu ILP di Pekon Banyu Urip, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Tampak kader dan masyarakat mengikuti rangkaian pelayanan serta pendataan Posyandu di dalam ruangan. Bidan Desa Fontana Sriwijayati turut mendukung pelaksanaan pelayanan kesehatan bersama kader dan pemerintah pekon.

PRINGSEWU,HARIANDAERAH.COM — Posyandu sering kali dipahami secara sederhana sebagai tempat menimbang balita, mencatat berat badan, lalu selesai. Padahal, dalam gagasan Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), pelayanan kesehatan di tingkat pekon sedang bergerak menuju sesuatu yang jauh lebih luas: mendekatkan layanan dasar kesehatan kepada masyarakat sepanjang siklus kehidupan.

Gambaran itu terlihat dalam kegiatan Posyandu ILP Cempaka 1 di Pekon Banyu Urip, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Sejumlah masyarakat tampak mengikuti aktivitas pelayanan di dalam ruangan, sementara para kader dan petugas kesehatan menjalankan tugas pelayanan serta melakukan pencatatan.

Aktivitas yang tampak dalam kegiatan tersebut bukan sekadar rutinitas administratif. Para kader terlihat melayani masyarakat di sejumlah meja pelayanan, melakukan pendataan dan pencatatan, berinteraksi dengan warga, serta membantu kelancaran rangkaian pelayanan Posyandu. Kehadiran para ibu dan anak juga menjadi bagian dari dinamika pelayanan kesehatan berbasis masyarakat tersebut.

Di titik inilah Posyandu ILP memiliki makna yang lebih strategis. Ia bukan hanya tempat bertemunya kader dengan balita, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Kepala Pekon Banyu Urip, Irwan Heri, menempatkan kegiatan Posyandu sebagai bagian penting dari pelayanan kemasyarakatan di tingkat pekon. Menurutnya, keberadaan Posyandu harus terus didukung karena pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat akan lebih mudah diakses, terutama oleh keluarga yang membutuhkan pemantauan kesehatan secara berkala.

BACA JUGA:  Polres Pringsewu Gelar Karnaval Budaya, Gratis untuk Umum dan Berhadiah Menarik

Bagi pemerintah pekon, kegiatan semacam ini juga menjadi ruang pertemuan antara pelayanan publik dan partisipasi masyarakat. Pemerintah menyediakan dukungan, kader menjalankan fungsi pelayanan di lapangan, sementara masyarakat menjadi bagian aktif yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Sementara itu, Bidan Desa Banyu Urip, Ibu Fontana Sriwijayati, turut berperan dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan di Posyandu. Kehadiran bidan desa menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan Posyandu tidak berhenti pada aktivitas penimbangan dan pencatatan, tetapi terhubung dengan pelayanan serta pemantauan kesehatan masyarakat.

Dalam konsep ILP, pelayanan kesehatan memang diarahkan untuk menjangkau berbagai kelompok usia. Mulai dari ibu hamil dan nifas, bayi dan balita, anak-anak, remaja, usia produktif dan dewasa, hingga lanjut usia.

Artinya, Posyandu perlahan sedang meninggalkan paradigma lama bahwa urusan Posyandu adalah urusan ibu dan anak semata. Ia berkembang menjadi pintu masuk pelayanan kesehatan dasar yang lebih inklusif.

Karena itu, keberadaan kader Posyandu juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka berada di garis paling dekat dengan masyarakat. Mereka mengenal warga, memahami lingkungan sosialnya, sekaligus menjadi penghubung antara masyarakat dengan fasilitas pelayanan kesehatan.

Dalam kegiatan di Banyu Urip tersebut, suasana pelayanan memperlihatkan bagaimana kerja kolektif itu berlangsung. Ada warga yang datang, kader yang melayani, petugas yang menjalankan fungsi kesehatan, serta pemerintah pekon yang mendukung keberlangsungan kegiatan.

BACA JUGA:  Kapolres Pringsewu Harap PP Polri Terus Berikan Masukan Konstruktif Bagi Kemajuan Institusi

Keterangan kepada komunitas: kegiatan Posyandu ILP merupakan bagian dari pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang membutuhkan keterlibatan bersama. Pemerintah pekon, kader, bidan desa, keluarga, serta masyarakat memiliki peran masing-masing agar pelayanan kesehatan dasar benar-benar dapat dirasakan secara luas.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Posyandu bukan semata-mata seberapa banyak warga datang dalam satu kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat semakin sadar untuk memeriksakan kesehatan, apakah persoalan kesehatan dapat ditemukan lebih awal, dan apakah warga memperoleh akses pelayanan sebelum masalah berkembang menjadi lebih serius.

Di Banyu Urip, ruang Posyandu menjadi contoh kecil dari gagasan besar tersebut. Sebuah ruangan sederhana, sejumlah meja pelayanan, kader, bidan desa, dan masyarakat yang datang bersama-sama menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan publik tidak selalu harus dimulai dari gedung besar.

Kadang, ia justru dimulai dari sebuah pekon dari meja pelayanan yang sederhana dan dari orang-orang yang bersedia bekerja untuk memastikan masyarakat tidak berjalan sendirian menghadapi persoalan kesehatan. ( Heru )

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *