Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Opini  

Wukuf di Arafah: Ketika Manusia Berhenti Sejenak, Indonesia Diajak Bercermin — Gedung Tinggi Harus Seimbang dengan Akhlak Mulia

IMG 20260602 WA0008
Azmi Asmuni Majid pegiat sosial dan juga PHD Kabupaten Brebes 2026.(Foto dok hariandaerah.com/Azmi)

Mekkah- Wukuf di Padang Arafah merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji, sebuah momen suci yang sarat makna mendalam bagi umat Islam. Di tempat ini, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia berkumpul dalam satu waktu dan tempat, hadir dengan beragam latar belakang: berbeda bahasa, warna kulit, jabatan, kekayaan, maupun tingkat pendidikan. Ada yang menteri, ada petani; ada profesor, ada tukang becak; ada yang bergelar, ada yang tak tamat sekolah. Namun, di hadapan Allah di Padang Arafah, semuanya menjadi sama.

Tidak ada kursi VIP, tidak ada karpet khusus, tidak ada jalur prioritas. Semua mengenakan pakaian serupa, berdiri sejajar, dan menengadahkan tangan dengan harapan yang sama. Di Arafah, manusia dikembalikan pada hakikatnya: makhluk kecil yang bergantung sepenuhnya kepada Sang Pencipta.

Namun, ada ironi yang sering terjadi. Setelah pulang dari Arafah, tidak sedikit yang kembali sibuk mengagungkan diri, membanggakan jabatan, memperdebatkan status, dan merasa lebih mulia dari orang lain. Padahal, Arafah baru saja mengajarkan satu kebenaran sederhana: manusia yang hebat bukanlah mereka yang berdiri paling tinggi, melainkan mereka yang paling banyak menundukkan diri dengan kerendahan hati.

Demikian poin penting yang disampaikan oleh pegiat sosial Azmi Asmuni Majid dalam tulisannya yang penuh renungan bertajuk “Wukuf di Arafah: Ketika Manusia Berhenti Sejenak, Indonesia Seharusnya Ikut Berhenti dan Bercermin”, yang ditulisnya langsung dari Padang Arafah pada 9 Dzulhijah 1447 Hijriah atau bertepatan dengan 26 Mei 2026.

Azmi mengutip firman Allah dalam Surah Al-Hajj ayat 27, yang memerintahkan manusia untuk datang berhaji, baik berjalan kaki maupun mengendarai kendaraan, dari segala penjuru yang jauh. Menurutnya, ayat ini bukan sekadar perintah perjalanan fisik ke Makkah, melainkan perjalanan menuju kesadaran; pengakuan bahwa manusia bukanlah pusat alam semesta.

BACA JUGA:  ARAH BARU PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Di era saat ini, manusia telah menciptakan kecerdasan buatan, mobil tanpa sopir, hingga wahana antariksa. Namun, satu hal yang masih sulit dikuasai adalah hati nurani. Arafah hadir setiap tahun untuk mengingatkan: kemajuan teknologi tidak otomatis menjadikan manusia lebih bijaksana.

“Dunia hari ini dipenuhi manusia yang cerdas tapi kehilangan arah, kaya namun miskin ketenangan, terhubung internet namun terputus dengan Allah,” tulis Azmi.

Mengutip sabda Rasulullah ﷺ “Al-Hajju Arafah” (Haji itu adalah Arafah), Azmi menegaskan bahwa inti dari seluruh perjalanan haji ada di momen wukuf itu sendiri. Arafah adalah tempat berhenti, seperti tempat istirahat sementara (pitstop) dalam perjalanan hidup. Seringkali manusia terlalu sibuk berlari mengejar jabatan, uang, pujian, dan pengakuan, hingga ada yang sukses mencari nafkah namun gagal menemukan makna hidup.

“Ada yang rumahnya dua lantai tapi shalatnya tinggal separuh, mobilnya bertambah tapi sabarnya berkurang, rekeningnya naik tapi syukurnya turun. Arafah seolah berkata: Berhentilah sebentar, bercerminlah, lihat dirimu. Sebab yang paling menakutkan bukan kehilangan uang, tapi kehilangan arah,” tegasnya.

Pesan mendalam ini kemudian dikaitkan Azmi dengan kondisi pembangunan di Indonesia. Data menunjukkan ekonomi tumbuh 5,61 persen pada triwulan pertama 2026, digitalisasi berkembang pesat, dan infrastruktur terus dibangun. Namun, pertanyaan krusial diajukan: Apakah manusia Indonesia ikut tumbuh? Atau hanya gedung-gedung yang bertambah tinggi?

Menurut Azmi, gedung tinggi tidak otomatis melahirkan manusia berakhlak mulia. Jalan mulus tidak menjamin hati yang lurus. Internet cepat tidak menjamin pemahaman yang benar; justru sering terjadi sebaliknya: jari semakin cepat berkomentar, namun verifikasi kebenaran semakin lambat. Ilmu makin sedikit, tapi semua orang merasa paling benar, paling pandai, dan berhak menghakimi, padahal hanya membaca judul berita tanpa memahami isinya.

“Jika Arafah punya suara, ia akan berkata: Wahai manusia, sebelum menghakimi orang lain, hakimilah dirimu sendiri. Di Arafah, orang menangisi dosa sendiri, bukan sibuk mencari dosa orang lain,” tulisnya mengingatkan makna hadits Nabi bahwa orang yang berhaji dengan baik akan pulang bersih seperti bayi yang baru lahir.

BACA JUGA:  Iduladha sebagai Sekolah Kehidupan, Menanamkan Nilai Tauhid, Empati, dan Pengorbanan

Azmi menekankan, tujuan utama haji adalah membangun manusia, bukan sekadar mengangkat status sosial. Pelajaran besar dari Arafah untuk Indonesia adalah: jangan hanya membangun jalan, tapi bangun juga manusia yang berjalan di atasnya. Jangan hanya membangun sekolah, tapi bangun karakter anak didiknya. Jangan hanya menyediakan internet, tapi bangun etika penggunaannya. Jika manusianya tidak dibangun, maka pembangunan hanya akan menghasilkan tumpukan bangunan mati.

Masalah utama bangsa ini, lanjut Azmi, seringkali bukan soal anggaran yang kurang, melainkan kurangnya integritas. Arafah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu bermula dari pengakuan kecil: kata “saya salah”. Kalimat sederhana ini seringkali sangat mahal harganya, sulit diucapkan pemimpin maupun rakyat, padahal banyak masalah selesai hanya dengan kata “saya minta maaf”.

“Indonesia tidak butuh orang pandai berdebat, tapi butuh orang pandai bercermin. Bangsa besar bukan yang bebas kesalahan, tapi yang mau memperbaiki kesalahan. Itulah hakikat Arafah,” tandasnya.

Di akhir tulisannya, Azmi berharap kita semua mendapatkan makna Arafah dalam kehidupan. Bahwa ada orang yang berdiri fisik di Arafah namun hatinya tak hadir, namun ada pula yang belum pernah ke sana tapi hatinya setiap hari sedang wukuf berserah diri kepada Allah.

“Semoga kita dipertemukan dengan Arafah dalam hati kita masing-masing,” pungkas Azmi Asmuni Majid.

 

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *