Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Kita Jadi Pintar, Bisa Membaca, Berhitung, Mengenal Baik dan Buruk Berkat Guru

Picsart 25 12 04 21 17 05 207
Prof ,Dr, Zulfikar Alibuto Siregar,MA direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe. hariandaerah.com/foto. ist

Ada satu adegan yang nyaris dimiliki semua orang, tetapi jarang kita ingat dengan sadar: seseorang pernah memegang tangan kita, menuntun pensil di atas garis buku tulis, dan mengucapkan bunyi “b-a, ba” berulang-ulang sampai kita menirukannya dengan benar. Orang itu bukan siapa-siapa dalam berita nasional. Ia tidak masuk daftar tokoh berpengaruh. Namanya mungkin sudah tidak kita ingat. Tetapi tanpa kesabarannya pada pagi-pagi yang membosankan itu, kalimat yang sedang Anda baca sekarang hanyalah deretan coretan hitam tanpa arti. Kita terlalu terbiasa dengan kemampuan membaca sehingga lupa bahwa ia tidak datang sendiri.

Tidak ada bayi yang lahir bisa mengeja, Kemampuan mengubah simbol menjadi bunyi, bunyi menjadi kata, dan kata menjadi gagasan adalah teknologi budaya yang diwariskan secara manual dari satu manusia ke manusia lain, dengan pengulangan yang melelahkan dan tanpa jaminan berhasil. Guru adalah penyalur warisan itu. Ia berdiri di titik paling rawan dalam rantai peradaban: titik di mana pengetahuan bisa putus dalam satu generasi jika tidak ada yang bersedia mengajarkannya kembali.
Membaca Bukan Sekadar Mengeja
Sebagai pengajar di perguruan tinggi, saya sering menemukan mahasiswa yang lancar membaca tetapi kesulitan memahami. Mereka bisa melafalkan seluruh paragraf tanpa satu pun kesalahan pelafalan, namun gagal menjawab pertanyaan paling sederhana: apa sebenarnya maksud penulis? Mana klaim utamanya, mana yang hanya ilustrasi? Di titik itulah saya justru semakin menghargai apa yang dikerjakan guru-guru di jenjang dasar dan menengah dan semakin paham betapa sulitnya pekerjaan mereka. Yang mereka tanamkan sesungguhnya bukan keterampilan teknis mengeja, melainkan kebiasaan untuk berhenti, bertanya, dan mencurigai makna. Guru yang baik jarang hanya berkata, “Bacalah halaman lima puluh.” Ia bertanya, “Menurutmu, kenapa tokoh itu memilih pergi?” atau “Kalau kamu jadi dia, apa yang kamu lakukan?” Pertanyaan semacam itu tampak sepele dan tidak terukur dalam rapor. Namun di situlah literasi sesungguhnya dibangun: bukan pada kecepatan membaca, melainkan pada keberanian menafsirkan dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa tafsir kita bisa salah.

Fenomena ini menjadi sebuah refleksi penting bagi saya sebagai seorang pendidik. Sebab, kemampuan membaca pada hakikatnya tidak berhenti pada kemampuan mengenali huruf, kata, kalimat, dan paragraf. Membaca adalah proses intelektual yang menuntut seseorang untuk menghubungkan informasi, menemukan hubungan antargagasan, mengenali tujuan penulis, membedakan fakta dan opini, mengidentifikasi argumen, serta membangun penafsiran berdasarkan konteks yang tersedia. Dengan demikian, seseorang dapat dikatakan lancar membaca secara teknis, tetapi belum tentu memiliki kemampuan literasi yang kuat. Kelancaran membaca hanyalah pintu masuk; pemahaman adalah ruang yang harus dimasuki, dijelajahi, dan direnungkan.

Di titik inilah saya justru semakin menghargai pekerjaan guru-guru pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Saya semakin memahami bahwa pekerjaan mereka jauh lebih kompleks daripada sekadar mengajarkan anak membaca dan menulis. Mereka sedang membangun fondasi berpikir yang akan dibawa seorang anak sepanjang kehidupannya. Ketika seorang guru meminta peserta didik membaca sebuah cerita, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya kemampuan mengenali kata dan memahami kalimat, tetapi juga kemampuan bertanya, menalar, membandingkan, menyimpulkan, dan mengambil makna dari pengalaman orang lain. Apa yang tampak sederhana di ruang kelas anak-anak sebenarnya merupakan proses panjang dalam membentuk cara seseorang memahami dunia.

Guru yang baik karena itu tidak berhenti pada instruksi, “Bacalah halaman lima puluh.” Ia melangkah lebih jauh dengan mengajak peserta didik berdialog dengan teks. Ia mungkin bertanya, “Menurutmu, mengapa tokoh itu memilih pergi?” atau “Apa yang menyebabkan tokoh tersebut mengambil keputusan itu?” Bahkan pertanyaan yang lebih sederhana seperti, “Kalau kamu berada dalam posisi tokoh tersebut, apa yang akan kamu lakukan?” sesungguhnya memiliki kekuatan pedagogis yang luar biasa. Pertanyaan tersebut memaksa peserta didik untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi mengolahnya. Mereka belajar melihat sebuah peristiwa dari berbagai sudut pandang, mempertimbangkan alasan, menyusun argumen, dan menyadari bahwa sebuah teks tidak selalu memiliki makna yang dapat diterima secara pasif.

BACA JUGA:  Berikan Motivasi Kepada Siswa-Siswi, Kapolsek Arongan Lambalek Sambangi Sekolah TK Negeri 1

Di era ketika informasi datang deras dan sebagian besar dirancang untuk memancing emosi ketimbang menyampaikan fakta, kemampuan itu bukan lagi keterampilan akademis. Ia adalah alat bertahan hidup. Orang yang tidak terlatih membaca secara kritis akan membaca judul dan mengira ia sudah membaca berita. Ia akan meneruskan pesan berantai tanpa memeriksa siapa yang mengarangnya. Ia akan mengambil keputusan besar memilih pemimpin, menanam uang, mempercayai obat berdasarkan potongan informasi yang dipilihkan algoritma untuknya. Maka setiap guru bahasa Indonesia yang memaksa muridnya menemukan gagasan pokok sebuah paragraf, meskipun murid itu mengeluh dan menganggapnya membosankan, sedang mengerjakan pekerjaan pertahanan nasional. Ia hanya tidak pernah diberi tahu bahwa pekerjaannya
Berhitung, atau Belajar Bernalar
Hal serupa berlaku pada matematika, Banyak orang dewasa mengaku “tidak berbakat matematika” dan berhenti di situ, seolah-olah itu sifat bawaan seperti golongan darah. Padahal yang sesungguhnya diajarkan guru matematika bukan tabel perkalian, melainkan struktur berpikir: bahwa setiap pernyataan harus punya alasan, bahwa langkah kedua bergantung pada langkah pertama, bahwa jawaban bisa dan harus diperiksa kebenarannya, dan bahwa keyakinan tidak sama dengan kebenaran.

Orang yang terbiasa berhitung dengan jujur lebih sulit ditipu. Ia curiga pada janji imbal hasil investasi yang secara aritmetika mustahil. Ia bisa menghitung sendiri bunga efektif pinjaman daring yang ditawarkan dengan bahasa manis. Ia tidak mudah terpukau oleh persentase yang disajikan tanpa angka dasarnya, atau grafik yang sumbunya sengaja dipotong agar kenaikan tampak dramatis. Dalam masyarakat yang sedang berhadapan dengan judi daring, pinjaman ilegal, dan investasi bodong tiga persoalan yang tidak asing di Sumatera Utara kemampuan berhitung adalah bentuk perlindungan konsumen yang paling murah dan paling tahan lama. Guru matematika di sebuah sekolah dasar di pelosok Nias, Mandailing Natal, atau Tapanuli Selatan, yang malam ini mungkin sedang mengoreksi tumpukan buku tulis sambil menahan kantuk, sebenarnya sedang membangun benteng warga negara terhadap manipulasi. Ia mengerjakannya sendirian, tanpa sorotan, dan sering kali dengan honor yang tidak cukup untuk membeli buku bagi anaknya sendiri.

Yang Paling Sulit, Mengenal Baik dan Buruk
Dari tiga hal dalam judul tulisan ini, yang terakhir adalah yang paling berat. Membaca bisa diukur dengan tes. Berhitung bisa dinilai dengan angka. Tetapi bagaimana mengukur keberhasilan seorang guru menanamkan rasa malu ketika berbuat curang, atau keberanian mengakui kesalahan di depan orang banyak? Pendidikan karakter tidak berlangsung melalui ceramah di depan kelas. Ia menular melalui teladan yang tidak disengaja: guru yang mengembalikan uang kembalian, yang meminta maaf ketika keliru menghitung nilai, yang tidak membedakan anak pejabat dan anak buruh, yang tetap datang mengajar meski honornya terlambat tiga bulan. Anak-anak jauh lebih peka pada ketidakkonsistenan daripada yang kita kira. Mereka tidak belajar dari apa yang kita katakan, melainkan dari apa yang kita lakukan saat mengira tidak ada yang memperhatikan. Di sinilah letak beban moral profesi guru yang jarang dibicarakan. Seorang akuntan boleh bersikap buruk di luar jam kerja tanpa merusak neracanya. Seorang guru tidak punya kemewahan itu. Ia diawasi tiga puluh pasang mata yang sedang menyusun peta tentang bagaimana manusia dewasa seharusnya bersikap. Dan peta itu akan mereka bawa seumur hidup. Ironisnya, justru di wilayah inilah guru paling rentan. Menegakkan disiplin bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakterkini menjadi tindakan berisiko. Dan risikonya bukan sekadar teguran administratif, melainkan panggilan kepolisian.

BACA JUGA:  Latih Konten YouTube, Martunis: Wawasan Media Sosial Bagi Pemuda Gampong

Seorang guru setiap hari berhadapan dengan tiga puluh, empat puluh, bahkan lebih pasang mata yang sedang menyusun peta tentang bagaimana manusia dewasa seharusnya bersikap.
Mereka mengamati bukan hanya ketika guru sedang mengajar, tetapi juga ketika guru sedang marah, kecewa, lelah, mendapatkan perlakuan tidak adil, atau menghadapi persoalan pribadi. Mereka memperhatikan apakah guru memperlakukan semua orang dengan adil. Mereka mengamati apakah guru meminta maaf ketika salah. Mereka melihat apakah guru tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan. Dan tanpa disadari, mereka sedang belajar: “Beginilah seharusnya orang dewasa bersikap.”
Peta moral itu kelak mereka bawa ke dalam kehidupan. Mereka akan menjadi orang tua, pemimpin, pegawai, pengusaha, birokrat, ulama, akademisi, atau anggota masyarakat. Ketika saat itu tiba, sebagian nilai yang mereka praktikkan mungkin tidak lagi mereka ingat berasal dari buku mana atau dari pelajaran apa. Namun, mereka mungkin masih mengingat seorang guru yang pernah berkata, “Kalau salah, akui saja,” lalu benar-benar mengakui kesalahannya sendiri. Mereka mungkin mengingat guru yang tidak pernah membedakan anak kaya dan anak miskin. Mereka mungkin mengingat guru yang menolak menerima sesuatu yang bukan haknya. Mereka mungkin mengingat guru yang menegur dengan tegas tetapi tetap menunjukkan kasih sayang.

Di situlah paradoks sekaligus kemuliaan profesi guru. Guru dituntut membentuk manusia, sementara dirinya sendiri juga manusia yang tidak luput dari kekurangan. Guru dituntut menjadi teladan, sementara ia juga menghadapi kelelahan, tekanan ekonomi, persoalan keluarga, tuntutan administrasi, dan berbagai ekspektasi masyarakat. Karena itu, kita tidak boleh menuntut guru menjadi manusia tanpa kesalahan. Yang harus kita dorong adalah agar guru memiliki keberanian untuk memperbaiki diri, membangun budaya refleksi, bekerja dalam sistem yang sehat, dan mendapatkan perlindungan ketika menjalankan tugasnya secara profesional. Menegakkan disiplin memang tidak boleh menjadi tindakan sewenang-wenang. Perlindungan terhadap peserta didik adalah prinsip yang harus dijaga. Namun, perlindungan terhadap peserta didik tidak semestinya dimaknai sebagai pembiaran terhadap perilaku yang salah, sebagaimana perlindungan terhadap guru juga tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran terhadap tindakan kekerasan. Keduanya harus ditempatkan dalam kerangka yang sama, pendidikan yang bermartabat, aman, adil, dan berorientasi pada pembentukan manusia. Karena itu, sekolah membutuhkan mekanisme disiplin yang jelas, proporsional, mendidik, terdokumentasi, dan disepakati bersama oleh guru, peserta didik, orang tua, serta pihak sekolah.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *