Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Wisata  

Disbudpar Aceh: Jangan Lupakan Sidalupa, Ayo Eksiskan!

sidalupa
Tarian Sidalupa Asal Aceh Barat. (Foto: Istimewa).

BANDA ACEH – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat baru-baru ini menerima sertifikat penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) seni tradisional Sidalupa dari Dinas Pariwisata Aceh. Sertifikat tersebut diberikan dalam acara Perayaan penyerahan sertifikat warisan budaya tak benda tahun 2022 yang diselenggarakan di Hotel Grand Aceh Banda Aceh.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal berharap, kiranya kesenian Sidalupa ini dapat dieksiskan kembali setelah sekian lama yang hampir dilupakan oleh masyarakat.

“Dengan diterimanya WBTB ini, kita harapkan Sidalupa jangan dilupakan, mari kita eksiskan. Tugas kita selanjutnya adalah berkomitmen merawat agar warisan luluhur ini tetap eksis,” harap Almuniza.

Senada dengan itu, Kabid Seni dan Bahasa Disbupar Aceh, Nurlaila Hamjah menambahkan, bahwa dengan bertambahnya koleksi karya budaya Aceh yang sudah ditetapkan pemerintah pusat ini semakin dipromosikan, terlestarikan atau tidak hilang tergerus zaman.

Dengan telah ditetapkan puluhan warisan budaya yang sudah dimiliki saat ini, kata Nurlaila dapat menjadi semakin terkenal dan terus sama-sama menjaga, sesuai tagline ‘Lestarikan Budaya, Majukan Pariwisata’.

“Dengan harapan banyak wisatawan nusantara maupun mencanegara berkunjung ke Aceh untuk mengetahui budaya yang kita miliki,” pungkasnya.

sidalupa
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal (kiri) saat menyarahkan Sertifikat kesenian tradisional “Si Dalupa” sebagai Warisan Budaya Tak Benda Tahun 2022 kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Barat Husaini (kiri). (Foto: Istimewa).

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  (Kadisdikbud) Aceh Barat Drs. Husaini, M.Pd mengatakan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengharapkan penetapan Sidalupa sebagai warisan tak  benda ini, bisa menjadi momentum masyarakat untuk terus melestarikan budaya-budaya daerah kedepannya. Sidalupa yang merupakan kesenian tradisonal yang muncul dan berkembang ditengah masyarakat Aceh Barat, terutama di Kecamatan Woyla Barat, Woyla dan Bubon.

BACA JUGA:  Lima Anjungan Kabupaten/Kota Yang Jadi Tempat Favorit Untuk Berswafoto di Ajang PKA ke-8

Asal-usul nama Sidalupa

“Nama Sidalupa merupakan gabungan dari nama tokoh dalam hikayat itu sendiri yaitu Si Dal dan Upa, maka dikenal dengan Si Dalupa, dapat juga bermakna Sida lupa keu adek, adek lupa keu da (Kakak lupa adik, adik lupa akan kakak),” kata Husaini, Kamis (13/4/2023).

Dalam memajukaan kebudayaan yang saat ini, kata Husaini, pihaknya terus mendorong agar tidak hanya berkaitan dengan upaya merawat tradisi peninggalan luhur, akan tetapi juga membuatnya terus adaptif dan relevan dengan kondisi saat ini.

“Kebijakan pemajuan kebudayaan harus menjadi gerakan yang didorong oleh semua pelaku seni dan budaya di seluruh daerah,” tuturnya.

BACA JUGA:  Pj Bupati Aceh Utara Mahyuzar Terima WTP ke-9 dari BPK RI

Kemudian, Husaini mengharapkan penetapan tersebut bisa menjadi momentum masyarakat untuk terus melestarikan budaya-budaya daerah.

“Kita mengharapkan dengan ditetapkannya Sidalupa ini menjadai WBTB, semoga menjadi momentum bagi masyarakat untuk terus melestarikan budaya-budaya daerah kita kedepannya,” harapnya.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Aceh Barat, Mahdi Efendi berterima kasih kepada pemerintah pusat dan Provinsi Aceh yang telah menetapkan Warisan Budaya Takbenda dari Kabupaten Aceh Barat, menjadi warisan budaya tak benda.

“Pemerintah daerah juga apresiasi kepada pelaku dan semua pihak terlibat ikut mendukung mulai dari proses pendaftaran, pengusulan sampai ke penetapan yang ditandai dengan penerimaan sertifikat ini,” kata Mahdi.

Ia juga mendorong masyarakat Aceh Barat agar terus menggali dan menginventarisir warisan budaya yang dimiliki.

Sehingga hal ini menjadi tugas bersama untuk melakukan perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan, sebagai upaya kita dalam pelestarian Warisan Budaya Tak Benda, sehingga memberi manfaat bagi masyarakat.

Ia menambahkan misi pemajuan kebudayaan yang saat ini kita dorong tidak hanya berkaitan dengan upaya merawat tradisi peninggalan luhur, akan tetapi juga membuatnya terus adaptif dan relevan dengan kondisi saat ini.

“Kebijakan pemajuan kebudayaan harus menjadi gerakan yang didorong oleh semua pelaku seni dan budaya di seluruh daerah,” pungkas Mahdi Efendi.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *