Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Analisis Politik: “Brebes Beres” Bukan Sekadar Slogan, Tapi Upaya Benahi Fondasi Daerah

IMG 20260425 WA0028 1
Foto Ilustrasi dok hariandaerah.com/Putra Zambase

BREBES – Dalam lanskap politik daerah yang dinamis, visi dan program kerja pasangan Kepala Daerah Kabupaten Brebes, Paramitha Widya Kusuma, S.E., M.M. bersama Wakil Bupati Wurja, S.E., yang mengusung slogan “Brebes Beres”, mulai menjadi sorotan publik. Program ini dinilai bukan sekadar jargon, melainkan sebuah upaya konsolidasi arah pembangunan yang lebih terstruktur, responsif, dan terukur.

Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Politik, Azra Fadilah Prabowo, S.I.P., yang bekerja di Konsultan Politik PSPK (Pusat Studi Politik & Kebijakan) kepada awak media hariandaerah.com pada, Sabtu (25/04/2026).

Menurut Azra, konsep “Brebes Beres” dapat dianalogikan seperti sebuah rumah besar yang sudah lama dihuni, namun baru saja memulai proses penataan ulang secara total.

“Selama bertahun-tahun, rumah ini tetap berdiri kokoh, tetapi beberapa ruang di dalamnya mengalami penumpukan persoalan. Mulai dari tata kelola birokrasi, pelayanan publik, hingga pembangunan infrastruktur yang belum merata,” ujar Azra membuka analisisnya.

Lebih jauh ia menjelaskan, “Brebes Beres” hadir bukan sekadar mengecat ulang dinding luar agar terlihat rapi, melainkan membenahi fondasi dan menata ulang isi rumah secara menyeluruh.

Secara politis, langkah yang diambil Bupati Paramitha Widya Kusuma ini memiliki makna strategis yang dalam. Azra membedah setidaknya ada tiga hal penting yang sedang dijalankan:

BACA JUGA:  Salah Satu Personel Satuan Samapta Polres Simeulue Jadi Pelatih Tinju Profesional

1. Konsolidasi Kepemimpinan
Kepala daerah sedang mengirimkan pesan kuat bahwa pemerintahan tidak lagi berjalan secara parsial atau sendiri-sendiri.

“Ibarat sebuah orkestra, setiap perangkat daerah kini diarahkan untuk bermain dalam satu irama. Jika sebelumnya ada nada yang sumbang karena ego sektoral, kini mulai diselaraskan menuju harmoni kebijakan yang utuh,” jelasnya.

2. Rebranding Kepercayaan Publik
“Brebes Beres” bukan hanya slogan administratif, tetapi juga strategi membangun kembali kepercayaan masyarakat. Dalam politik lokal, kepercayaan adalah aset paling berharga.

“Ketika masyarakat melihat perubahan nyata, meski kecil namun konsisten, maka legitimasi kepemimpinan akan menguat secara alami. Ini adalah upaya rebranding citra daerah menjadi lebih baik dan tertata,” tambahnya.

3. Manajemen Krisis yang Lebih Terstruktur
Brebes selama ini menghadapi berbagai tantangan klasik daerah, seperti kemiskinan, pengangguran, kesenjangan layanan, dan infrastruktur.

“Program ini dapat diibaratkan sebagai ‘peta jalan baru’ yang mencoba mengubah pendekatan reaktif menjadi proaktif. Bukan lagi menunggu masalah membesar, tetapi memetakan dan menyelesaikannya sejak dini,” tegas Azra.

Namun demikian, sebagai sebuah program politik, “Brebes Beres” juga menghadapi tantangan krusial. Analogi sederhananya, menata rumah besar bukan hanya soal niat pemilik, tetapi juga kesiapan seluruh penghuni untuk berubah.

BACA JUGA:  Tak Perlu Ribet, Akses Kesehatan Bersama JKN Kini Semudah Sentuhan Jari

“Tanpa disiplin birokrasi dan pengawasan yang kuat, slogan ini berpotensi berhenti hanya sebagai simbol tanpa substansi. Jangan sampai hanya terlihat beres dari kejauhan, tapi di dalamnya masih berantakan,” ungkapnya dengan lugas.

Karena itu, kunci keberhasilan program Mita-Wurja ini terletak pada tiga hal:

1. Konsistensi implementasi di lapangan, bukan hanya di atas kertas.

2. Penguatan sistem evaluasi dan transparansi anggaran.

3. Keterlibatan aktif masyarakat sebagai pengawas sekaligus mitra pembangunan.

Lebih jauh Azra menambahkan, pada akhirnya, “Brebes Beres” adalah sebuah ujian kepemimpinan tersendiri. Apakah mampu mengubah harapan menjadi kenyataan, atau sekadar menjadi jargon politik musiman yang terlupakan.

“Jika diibaratkan perjalanan, Brebes saat ini bukan lagi berada di titik awal, tetapi sudah memasuki fase menentukan arah. Apakah benar-benar ‘beres’ secara menyeluruh, atau hanya ‘terlihat beres’ dari kejauhan,” pungkasnya.

“Brebes Beres bukan tujuan akhir, melainkan proses panjang yang menuntut keberanian, konsistensi, dan integritas tinggi dari pemangku kebijakan maupun seluruh masyarakat Brebes,” tutup Azra Fadilah Prabowo.

 

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *