KOTA LANGSA – Anggota Komisi III DPR RI, HM Nasir Djamil menegaskan bahwa Pemerintah Pusat harus serius dalam memajukan Pelabuhan Kuala Langsa, Kamis (25/07/24).
Hal ini disampaikan saat terima laporan dari General Manager PT Pelindo di Kota Langsa bahwa masalah teknis tidak dapat bersandarnya kapal dengan kapasitas diatas 3000 GT, akibat dangkalnya muara di existing alur pelayaran dari telaga tujuh menuju Dermaga Kuala Langsa.
Nasir Djamil mengharapkan agar pelabuhan Kuala Langsa mempunyai Cetak Biru Pengembangan Pelabuhan, sehingga dapat menilai dan estimasi berapa perputaran uang ketika kapal-kapal besar masuk dan bersandar di pelabuhan Kuala Langsa.
Dalam pertemuan dengan GM PT Pelindo di Kuala Langsa, Rabu (24/07/2024) sore itu, Anggota Komisi III DPR RI ini ada menerima beberapa hal menyangkut masalah teknis, terutama tidak dapat berlabuh atau bersandarnya kapal dengan kapasitas diatas 3000 GT.
“ini mengakibatkan dangkalnya muara di existing alur pelayaran dari telaga tujuh menuju dermaga Kuala Langsa. Sehingga untuk melakukan bongkar muat harus ship to ship dan ini membutuhkan cost (biaya) tinggi,” ucapnya.
Untuk hal tersebut, Nasir Djamil mengatakan agar Pelindo selaku operator Pelabuhan harus melakukan kajian teknis tentang rencana pengerukan pelabuhan.
Ia menegaskan, tentu Pemerintah Pusat harus serius mendorong PT Pelindo kawasan Kuala Langsa agar bisa segera melaksakan pengerukan sedimen dimuara sampai dermaga dengan kajian-kajian yang baik secara teknis dan bisnis.
“hal yang dilakukan ini harus dapat memberikan prospek yang baik terhadap perekonomian Kota Langsa dan secara global untuk Aceh kedepannya,” ungkap Nasir Djamil.
Sementara itu, Dewan Pembina Basabnas Aceh, Abu Dalem Syukri ikut menyampaikan kondisi kekinian Kuala Langsa yang mati suri, tidak ada bongkar muat layaknya sebuah Port (pelabuhan).
“secara teknik Produksi CPO di Aceh sangat luar biasa, akan tetapi faktanya kenapa harus bongkar muat ke Belawan, sementara kita punya pelabuhan sendiri,” ujar Ketua Pengcab IMI Kota Langsa ini.
Ia menambahkan, peluang bisnis port (pelabuhan Kuala Langsa) sangatlah bagus. Tidak lama lagi akan dilakukan pengoboran lepas pantai Aceh Utara (offshore), yang mana jarak tempuh antara titik pengeboran ke Dermaga di Lhokseumawe itu 6O mil laut, sedangkan ke pelabuhan Kuala Langsa hanya 40 mil laut.
“ini kan potensi yang sangat baik, tentunya perusahaan Offshore akan lebih memilih pelabuhan Kuala Langsa untuk workshopnya. Sehingga ini ini merupakan potensi ekonomi dan bisnis port Kuala Langsa,” tandas Abu Dalem.
Turut hadir dalam kunjungan kerja anggota Komisi III DPR RI, Nasir Djamil ke PT Pelindo kawasan Kuala Langsa, yaitu Komandan Kamla, Syahbandar, Dinas Perhubungan dan Kasat Airud Polres Langsa.













