Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Daerah  

Dari Warung Kopi ke QRIS: Wajah Baru Ekonomi Digital di Lhokseumawe

WhatsApp Image 2025 09 06 at 23.29.24
Nurmansyah,S.Pd, M.Sos. (Foto: hariandaerah.com).

Oleh: Nurmansyah, S.Pd., M.Sos
Jurnalis Hariandaerah.com

Warung kopi (warkop) di Lhokseumawe bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi. Ia adalah ruang sosial, forum diskusi, bahkan arena membangun jejaring. Kini, aroma kopi hitam khas Aceh berpadu dengan bunyi notifikasi transaksi digital. Setiap kali pelanggan menempelkan layar ponsel untuk memindai kode QR di meja kasir, bunyi “ting” menggantikan suara gesekan uang kertas yang dulu begitu akrab.

Kehadiran QRIS, teknologi pembayaran digital dari Bank Indonesia, perlahan mengubah wajah perekonomian lokal. Di Lhokseumawe, warung kopi menjadi cermin bagaimana digitalisasi merasuk ke ruang-ruang sederhana, sekaligus memberi pesan kuat bahwa transformasi ekonomi kini hadir di tengah denyut kehidupan sehari-hari.

Perkembangan QRIS di wilayah kerja KPw BI Lhokseumawe menunjukkan tren positif. Pada Agustus 2023, pengguna QRIS sudah mencapai 40 ribu orang. Setahun kemudian, saat soft launching Pekan QRIS Nasional (PQN) 2024 di Lhokseumawe, tercatat 900 transaksi berlangsung hanya dalam satu acara.

Sebagai perbandingan, pada 2020 merchant QRIS di Lhokseumawe baru 9.199. Kini jumlahnya melonjak pesat, mencakup ribuan pelaku usaha mulai dari kafe modern, warung kopi tradisional, hingga pedagang kaki lima. Tren ini selaras dengan capaian nasional: hingga 2025, lebih dari 35 juta merchant di Indonesia sudah menggunakan QRIS—tonggak penting dalam sejarah digitalisasi ekonomi negeri.

Namun, jalan menuju ekonomi digital yang inklusif tidak selalu mulus. Di Aceh Utara, banyak gampong masih terkendala jaringan internet. Pedagang di pasar tradisional mengaku kesulitan jika sinyal melemah, sementara sebagian konsumen tetap nyaman dengan uang tunai.

BACA JUGA:  Brebes Raih Apresiasi BKN Pusat, Dinilai Cepat Bangun Manajemen Talenta ASN

Literasi digital juga menjadi pekerjaan rumah. Kekhawatiran soal penipuan, salah transfer, atau kerumitan teknis masih kerap muncul. Wajar, karena kasus kejahatan digital dan pinjaman online ilegal sering menghantui ruang publik.

Di sinilah media mengambil peran penting. Informasi ekonomi digital tidak cukup disajikan dalam bahasa teknis. Ia perlu dituturkan lewat cerita yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Bagaimana pedagang di Pasar Inpres Lhokseumawe merasa terbantu dengan QRIS karena tak lagi pusing mencari uang kembalian? Bagaimana nelayan di Pusong kini bisa menerima pembayaran hasil lautnya lewat transfer digital, bahkan dari pembeli di luar daerah? Kisah-kisah semacam ini membuat isu ekonomi terasa nyata, membumi, dan relevan.

Digitalisasi ekonomi bukan berarti menanggalkan identitas lokal. Justru sebaliknya, ia membuka ruang untuk memperkenalkan kekhasan daerah ke dunia luar. Kopi Aceh kini lebih mudah dinikmati pembeli di Jakarta atau Surabaya lewat transaksi daring. UMKM kreatif di Lhokseumawe dan Aceh Utara—dari anyaman pandan hingga kuliner khas seperti timphan dan boh rom-rom dapat menjangkau pasar yang lebih luas dengan bantuan teknologi.

Bank Indonesia melalui KPw Lhokseumawe aktif menggelar sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan UMKM terkait QRIS. Program peningkatan kapasitas bagi jurnalis, pelaku usaha, dan mahasiswa juga gencar dilakukan untuk memperluas literasi ekonomi.

BACA JUGA:  Cetak Pengurus Koperasi Kompeten,Pemko Padang Gelar Diklat dan Sertifikasi BNSP

Namun, kolaborasi tetap kunci. Pemerintah daerah harus memperkuat infrastruktur internet di pelosok, perbankan menyediakan layanan yang ramah bagi pedagang kecil, sementara media menjaga kejernihan informasi di tengah derasnya arus hoaks.

Digitalisasi adalah keniscayaan. Namun, setiap daerah punya ritme dan tantangan sendiri. Lhokseumawe—kota yang pernah berjaya dengan industri minyak dan gas—kini menatap babak baru melalui ekonomi digital. Dari warung kopi hingga marketplace daring, semua berkontribusi membangun wajah ekonomi yang lebih inklusif.

Jika proses ini dijalankan dengan kolaborasi, Lhokseumawe dan Aceh berpotensi menjadi contoh daerah yang mampu beradaptasi dengan arus besar digitalisasi nasional, tanpa kehilangan akar budaya.

Transformasi ekonomi digital ibarat secangkir kopi Aceh: hangat, pekat, dan menyimpan aroma harapan. QRIS hanyalah pintu masuk. Yang lebih penting adalah semangat belajar, keberanian beradaptasi, dan kebersamaan untuk saling mendukung.

Jika warung kopi bisa menjadi pionir perubahan, maka sektor lain pun tak ada alasan untuk tertinggal. Lhokseumawe siap membuktikan: kota kecil di ujung Sumatera juga bisa berdiri sejajar dalam ekosistem Indonesia digital yang inklusif dan berdaya saing.

Penulis

Penulis: NurmansyahEditor: Herlin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *