PRINGSEWU – Kontestasi demokrasi di tingkat pekon bukan sekadar kompetisi untuk menentukan siapa yang memperoleh suara terbanyak. Lebih dari itu, pemilihan kepala pekon merupakan momentum untuk menguji kedewasaan berdemokrasi sekaligus menentukan arah kepemimpinan dan pembangunan masyarakat dalam beberapa tahun ke depan.
Hal tersebut tergambar dalam Pemilihan Kepala Pekon (Pilkakon) Waykunyir, Kecamatan Pagelaran Utara, Kabupaten Pringsewu, Lampung, yang berlangsung pada Selasa, 27 Oktober 2026. Berdasarkan hasil penghitungan suara, Sumono, calon nomor urut 1, berhasil memperoleh suara terbanyak dan mengungguli dua pesaingnya.
Sumono meraih 233 suara, disusul Saibi dengan 189 suara dan Suparman yang memperoleh 66 suara. Dari keseluruhan 501 suara yang digunakan, sebanyak 488 dinyatakan sah dan 13 lainnya tidak sah.
Hasil tersebut menempatkan Sumono sebagai peraih suara terbanyak dalam kontestasi Pilkakon Waykunyir. Namun, kemenangan dalam pemilihan sejatinya bukanlah garis akhir perjuangan seorang pemimpin. Justru setelah memperoleh kepercayaan masyarakat, tanggung jawab yang lebih besar mulai menanti, terutama dalam menerjemahkan pilihan politik warga menjadi kerja nyata yang dapat dirasakan bersama.
Saat ditemui di kediamannya, Sumono menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan kepercayaan kepadanya. Ia memandang hasil pemilihan tersebut sebagai amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab demi membawa Pekon Waykunyir ke arah yang lebih baik.
Menurut Sumono, dukungan masyarakat menjadi motivasi untuk bekerja secara maksimal dan memperjuangkan harapan warga dalam berbagai bidang pembangunan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga dan seluruh pihak yang telah memberikan dukungan selama proses pemilihan berlangsung.
Di sisi lain, Sumono menekankan pentingnya mengakhiri perbedaan pilihan setelah kontestasi demokrasi selesai. Baginya, perbedaan dukungan merupakan bagian yang wajar dalam proses demokrasi dan tidak seharusnya berkembang menjadi sekat sosial yang menghambat kehidupan bermasyarakat.
Pesan tersebut menjadi penting karena demokrasi di tingkat pekon memiliki dimensi yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Para pemilih yang sebelumnya berbeda dukungan tetap akan hidup berdampingan, bekerja sama, serta menghadapi persoalan pembangunan yang sama. Karena itu, kemenangan seorang calon semestinya tidak dimaknai sebagai kemenangan satu kelompok atas kelompok lainnya, melainkan sebagai awal dari tanggung jawab untuk melayani seluruh masyarakat.
Sumono mengajak warga Waykunyir kembali memperkuat persatuan dan mengesampingkan perbedaan yang muncul selama tahapan pemilihan. Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat berpartisipasi dalam pembangunan tanpa dibatasi oleh pilihan politik masing-masing.
Pilkakon memang menghasilkan pemenang berdasarkan suara yang diperoleh. Akan tetapi, kualitas kepemimpinan selanjutnya tidak cukup diukur dari angka kemenangan. Masyarakat tentu menantikan bagaimana kepercayaan tersebut diwujudkan melalui tata kelola pemerintahan pekon yang transparan, pelayanan publik yang baik, pembangunan yang sesuai kebutuhan, serta kebijakan yang memperhatikan kepentingan bersama.
Dengan demikian, tantangan Sumono setelah unggul dalam Pilkakon Waykunyir bukan hanya menjaga kepercayaan para pemilihnya, melainkan juga membangun hubungan yang setara dengan seluruh warga, termasuk mereka yang memberikan suara kepada calon lain.
Pada akhirnya, persatuan yang disampaikan setelah pemilihan perlu dibuktikan melalui tindakan dan kebijakan. Sebab, demokrasi yang sehat tidak berhenti ketika penghitungan suara selesai, tetapi berlanjut melalui kepemimpinan yang terbuka, bertanggung jawab, dan mampu menempatkan kepentingan masyarakat di atas perbedaan pilihan. ( HERU )








