Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Derita Banjir Ketanggungan: Masalah Sistemik yang Perlu Solusi Total, Dari Hulu Hingga Hilir

IMG 20260326 WA0072
Ketua Sepakat Brebes Bermartabat, Azmi Asmuni Majid, mendampingi Wakil Bupati Brebes, Wurja, SE dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Dani Asmoro, saat meninjau lokasi banjir Ketanggungan.(Foto Istimewa)

BREBES – Banjir yang terus menghantui wilayah Ketanggungan, Brebes, tidak akan pernah menemukan titik terang jika penanganannya masih bersifat parsial dan reaktif. Menurut Ketua Sepakat Brebes Bermartabat, Azmi Asmuni Majid, diperlukan keberanian untuk melakukan pembenahan menyeluruh, mulai dari penetapan tata ruang yang tepat, pembangunan infrastruktur yang handal, hingga perubahan pola perilaku masyarakat secara menyeluruh.

Pernyataan itu disampaikannya kepada awak media hariandaerah.com pada, Kamis (26/03/2026), saat menyoroti kompleksitas masalah banjir yang selama ini hanya ditangani dengan cara tambal sulam. “Ini bukan masalah kecil yang bisa diselesaikan dengan tindakan sementara. Banjir di Ketanggungan adalah masalah sistemik yang membutuhkan pendekatan terpadu dan berkelanjutan,” tegas Azmi.

Salah satu akar masalah utama yang disebutkan adalah pendangkalan sungai akibat akumulasi sedimen dan sampah yang terus-menerus menumpuk. Kondisi ini membuat kapasitas tampung air sungai menurun drastis dari hari ke hari.

“Kalau upaya pengerukan dasar sungai, pelebaran alur, serta perawatan rutin tidak segera dilakukan secara berkala, sungai tidak akan mampu menahan debit air yang tinggi saat musim hujan tiba. Akibatnya, air akan meluap dan menyebabkan banjir yang luas,” jelasnya.

BACA JUGA:  Bupati Bengkalis Dukung Kuat Pengembangan Kelapa Sawit

Selain sungai, sistem drainase yang tidak berfungsi optimal juga menjadi faktor pendorong. Banyak saluran drainase yang tersumbat oleh sampah, tidak memiliki konektivitas yang baik antar bagian, atau bahkan dibangun dengan kapasitas yang terlalu kecil untuk menampung debit air hujan.

“Tanpa perencanaan drainase yang terpadu mulai dari wilayah hulu hingga hilir, kita hanya akan memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain, bukan benar-benar menyelesaikannya. Air yang seharusnya dialirkan dengan lancar justru tergenang dan menyebabkan kerusakan lebih luas,” tambah Azmi yang juga pengurus PMI Kabupaten Brebes.

Penyebab lain yang tak kalah penting adalah kerusakan ekosistem di daerah hulu akibat aktivitas penebangan liar dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Kondisi ini membuat daya serap tanah menurun drastis, sehingga air hujan tidak bisa terserap dengan baik dan langsung mengalir ke hilir dalam jumlah besar serta dengan kecepatan tinggi.

“Aliran air yang deras dan cepat dari hulu menjadi salah satu penyebab utama banjir yang sering melanda Ketanggungan. Kita tidak bisa hanya memperbaiki di hilir jika kondisi hulu terus dibiarkan rusak,” ujarnya.

BACA JUGA:  Emak-emak Tanara Serang Dukung Andra - Dimyati di Pilgub Banten

Menurut Azmi, penyelesaian masalah banjir tidak bisa menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Dibutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, sektor swasta, dan seluruh elemen masyarakat untuk menghasilkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan.

“Tanpa dukungan dan partisipasi semua pihak, setiap upaya yang dilakukan akan selalu terasa setengah-setengah dan sulit memberikan hasil yang maksimal,” jelasnya

Tak kalah pentingnya adalah perubahan perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah. Masalah sampah yang dibuang sembarangan ke sungai dan saluran air adalah faktor klasik namun tetap menjadi penentu keberhasilan upaya penanggulangan banjir.

“Upaya teknis seperti pengerukan sungai atau pembangunan drainase akan sia-sia jika masyarakat masih terus membuang sampah ke tempat yang salah. Dibutuhkan edukasi yang konsisten dan gerakan kolektif untuk mengubah pola pikir dan perilaku ini,” tegas Azmi.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *