SIMEULUE – Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Simeulue memfasilitasi program peningkatan kapasitas bagi masyarakat pesisir, salah satunya melalui Pelatihan Penyusunan Proposal Berbasis Lembaga Adat Panglima Laot.
Pelatihan Penyusunan Proposal Berbasis Panglima Laot merupakan program strategis dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk memperkuat kapasitas kelembagaan adat. Pelatihan ini membekali para pengurus lembaga adat dengan keterampilan merumuskan proposal yang komprehensif agar mampu mengakses berbagai kolaborasi pendanaan dan program keberlanjutan sektor kelautan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Simeulue, Supriman Juliansyah, S.Pi, M.M, menekankan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan adat, khususnya Panglima Laot, dalam menjaga dan mengelola ekosistem pesisir serta laut secara berkelanjutan.
”Panglima Laot memiliki peran historis dan struktural yang sangat kuat di Aceh. Melalui pelatihan ini, kita berharap lembaga adat mampu menyusun proposal program yang akuntabel dan komprehensif, sehingga dapat mengakses berbagai kolaborasi pendanaan demi kelestarian laut kita,” ujar Supriman kepada Wartawan Sabtu (04/07/2026).
Adapun kegiatan tersebut difasilitasi oleh UPTD Pengelola KKPD DKP Aceh dan FFI ini bertujuan untuk memberikan pembekalan teknis kepada para peserta. Selama kegiatan berlangsung, para peserta dibekali dengan berbagai materi esensial, antara lain, teknik analisis masalah, mengidentifikasi tantangan nyata di wilayah pesisir masing-masing, penyusunan rencana aksi, merumuskan program kerja yang sejalan dengan prinsip konservasi dan manajemen anggaran, menyusun rencana pendanaan proposal yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,
Supriman berharap, melalui pelatihan dan pendampingan tersebut, sinergi antara pemerintah, lembaga swadaya internasional seperti FFI dan kearifan lokal Panglima Laot dapat terus berjalan beriringan demi menjaga masa depan sektor kelautan dan perikanan.
“Dengan adanya pelatihan ini, DKP berharap lembaga adat Panglima Laot tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga motor penggerak proposal-proposal produktif,” harapnya. (*)














