BANDA ACEH – Gangguan layanan komunikasi di Aceh masih terus berlangsung akibat belum stabilnya jaringan listrik di berbagai kabupaten/kota. Kondisi ini terjadi setelah proses sinkronisasi listrik kembali mengalami kendala, sebagaimana dilaporkan Serambi News dalam pernyataan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, Selasa (9/12/2025).
“Sinkronisasi antara pembangkit Arun ke Bireuen berjalan dengan lancar. Dari Bireuen ke Sigli juga berjalan baik, namun begitu sampai Sigli terjadi ketidakstabilan sistem kelistrikan dari Arun ke Sigli, sehingga pembangkit tadi malam sempat padam,” ungkap Darmawan.
Belum pulihnya pasokan listrik berdampak langsung pada operasional Base Transceiver Station (BTS), perangkat utama pemancar dan penerima sinyal telekomunikasi. Ketika listrik padam, sebagian besar BTS tidak dapat menyala karena sangat bergantung pada suplai daya yang stabil.
Berdasarkan data infrastruktur telekomunikasi yang dihimpun per pukul 16.59 WIB hari ini, terdapat 1.871 titik yang mengalami power failure, yakni kondisi ketika perangkat jaringan tidak dapat beroperasi karena tidak menerima pasokan listrik sama sekali. Secara keseluruhan, 2.040 infrastruktur telekomunikasi di Aceh dilaporkan terdampak.
Dampak tersebut tersebar di seluruh kabupaten/kota, dengan jumlah gangguan terbesar terjadi di Aceh Utara dan Aceh Besar. Situasi ini menyebabkan layanan seluler, internet, hingga komunikasi dasar belum dapat kembali normal, meskipun sebagian perangkat masih berfungsi secara terbatas.
Direktur Utama PLN menegaskan bahwa tim teknis terus bekerja untuk mempercepat penormalan jaringan listrik, namun proses sinkronisasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindari potensi kerusakan lanjutan. “Ini membutuhkan waktu sampai hari Minggu untuk memulihkan Banda Aceh,” ujarnya.
Sejauh listrik belum stabil, operator telekomunikasi masih mengandalkan langkah mitigasi sementara. Namun, gangguan komunikasi diperkirakan akan berlanjut hingga pasokan listrik kembali normal sepenuhnya.








