BANDA ACEH — Menutup akhir tahun 2024, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Aceh menyelenggarakan High Level Meeting (HLM) untuk memperkuat sinergi dalam pengendalian inflasi dan hilirisasi komoditas pangan, yang diselenggarakan di Banda Aceh, Selasa (31/12/2024).
Kegiatan dimulai dengan talkshow interaktif yang menghadirkan tiga narasumber:
- Dr. T. P. Saiful Bahri, S.P., M.P. memaparkan model bisnis dan hilirisasi komoditas beras.
- Hafinuddin membahas inovasi teknologi Rumpon Ijuk untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap.
- Yuliana menjelaskan model bisnis dan hilirisasi komoditas cabai rawit.
Kepala KPwBI Aceh, Rony Widijarto P., mengungkapkan bahwa ekonomi Aceh menunjukkan perbaikan yang signifikan dengan inflasi yang stabil dan rendah hingga November 2024, yaitu sebesar 1,55% (yoy).
“Angka ini sangat baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah. Meskipun ada sedikit tekanan inflasi pada akhir tahun karena peningkatan konsumsi selama liburan, kenaikannya masih dalam batas wajar dan sesuai target nasional,” ujar Rony.
Selain inflasi, pertumbuhan ekonomi Aceh juga terus menunjukkan tren positif. “Pertumbuhan ekonomi yang terkendali dan inflasi yang terjaga menjadi akselerasi positif bagi perekonomian Aceh,” tambahnya.
Rony menekankan pentingnya penguatan sektor pangan strategis seperti beras, cabai, dan perikanan. Salah satu program unggulan adalah hilirisasi cabai merah yang melibatkan pesantren, kelompok tani, dan UMKM untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mengurangi volatilitas harga.
Pada sektor perikanan, inovasi teknologi Rumpon Ijuk, hasil kerja sama BI Aceh dengan Universitas Teuku Umar, terbukti meningkatkan efisiensi hingga 16,78% dan efektivitas tangkapan nelayan hingga 47,75%. Dampaknya tidak hanya menekan laju inflasi dari sektor perikanan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan nelayan.
Kepala Dinas Pangan Aceh, Drs. Surya Rayendra, yang mewakili Pj. Gubernur Aceh, menyampaikan apresiasi terhadap capaian pengendalian inflasi di Aceh.
“Inflasi yang berada pada angka 1,55% mencerminkan stabilitas yang luar biasa. Hal ini merupakan hasil kolaborasi erat antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan para mitra strategis,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya kesiapan dalam menghadapi potensi risiko inflasi di masa mendatang. Melalui sinergi yang kuat, Bank Indonesia dan TPID Aceh optimis mampu menjaga daya beli masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi di tahun mendatang. Langkah konkret akan terus didorong untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan produksi pangan, dan memperkuat hilirisasi sebagai akselerator perekonomian Aceh.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Pangan Aceh yang mewakili Pj. Gubernur Aceh, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, kepala instansi vertikal, serta para penjabat kepala daerah dari beberapa kabupaten/kota di Aceh.













