KOTA LANGSA – Jaringan Anak Syuhada (JASA) Kota Langsa menggelar seminar pemuda dengan tema “Peran pemuda Aceh dalam menjaga perdamaian menuju Aceh yang sejahtera dan bermartabat serta mendukung Asta Cita”, Senin (20/10/2025).
Seminar yang dilaksanakan di gedung KNPI Kota Langsa itu dihadiri puluhan pemuda dan kaum milenial dengan pemateri dari Akademisi IAIN Langsa, Dr. Zulkarnain dan Sekretaris KNPI Kota Langsa, Basyaruddin ST.
Ketua DPW JASA Kota Langsa, Adoe Bustami melalui Wakil Ketua, Syahputra dalam sambutannya menyampaikan, sejak ditandatangani MoU Helsinki pada Agustus 2005, Aceh memasuki era baru yang penuh harapan, yaitu era perdamaian dan pembangunan.
Kemudian dijelaskan, perdamaian Aceh kini telah berjalan dua dekade, dan generasi muda yang tumbuh setelah masa konflik disebut sebagai generasi pasca konflik yang memegang peranan strategis dalam menjaga warisan itu.
“Maka sangat penting dilakukan pembinaan, agar peran pemuda tidak hanya sebagai penerima warisan damai, tetapi sebagai pelaku utama dalam merawat, memperkuat dan menyebarluaskan nilai-nilai perdamaian ditengah masyarakat,” terang Syahputra.

Sementara, Dr. Zulkarnain dalam materinya menyampaikan terkait peran pemuda Aceh dalam menjaga perdamaian dan warisannya demi tujuan kesejahteraan dan dukungan asta cita pembangunan Aceh berkelanjutan.
”Dalam menjaga perdamaian, pemuda Aceh memiliki dua peran penting yaitu sebagai penjaga dan perawat perdamaian,” ucapnya.
Selanjutnya dikatakan, peran pemuda juga sebagai penggerak pembangunan agar asta cita dapat terwujud secara nyata di Aceh.
Dr Zulkarnain menerangkan, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan komunikasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat terutama para pemuda, agar ekonomi kreatif dan kewirausahaan terus dapat tumbuh sempurna di masa depan.
Adapun tantangan perdamaian, dikatakan tidak hanya berhenti pada absennya kekerasan. Pemuda Aceh dihadapkan pada realitas baru, seperti pengangguran, polarisasi sosial, radikalisme, dan memudarnya ingatan kolektif tentang pentingnya menjaga perdamaian.
Akademisi ini menambahkan, bahwa pemerintah pusat telah menetapkan Asta Cita sebagai delapan arah kebijakan strategis pembangunan nasional yang mencakup peningkatan kualitas SDM, tranformasi ekonomi, digitalisasi, tata kelola pemerintahan, dan pemerataan pembangunan.
“Sehingga untuk mensukseskannya, maka peran generasi muda Aceh menjadi sangat penting dalam mewujudkannya,” ungkap Dr Zulkarnain.
Senada itu, Basyaruddin selaku pemateri lainnya menyampaikan bahwa perdamaian tidak hanya sebagai warisan, tapi juga didapatkan melalui perjuangan para syuhada, sehingga generasi muda tidak hanya penikmat perdamaian.
”Jadi generasi muda Aceh harus dapat menjaga dan pengawal pembangunan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Aceh untuk mewujudkan Aceh damai, maju dan bermartabat. Bukan hanya menjadi penikmat hasil perdamaian,” tutup Sekretaris KNPI Langsa dengan tegas.














