Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Jejak Rempah Nusantara di Anjungan PKA ke-8 Sabang

¬¬Jejak Rempah Nusantara di Anjungan PKA ke-8 Sabang
Anjungan Kota Sabang di PKA ke-8. (Foto: Harian Daerah/Imam)

BANDA ACEH – Sabang menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah Aceh. Daerah ini menjadi pusat perdagangan penting di masa lalu dan menjadi pencatatan peradaban Aceh dalam perdagangan rempah-rempah di dunia.

ULIYA Azry berdiri di garis antrean Sabang Uncover yang mengular. Untuk membunuh waktu, matanya menjelajahi isi ruangan anjungan milik Pemerintah Kota Sabang di arena Pekan Kebudayaan Aceh ke-8, di Kompleks Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh.

“Kalau tidak bisa menyelam, yang penting bisa foto seolah-olah berada di dasar laut,” kata Aulia, Jumat (10/11/2023).

WhatsApp Image 2023 11 20 at 00.29.45Wahana menyelam virtual ini menjadi salah satu magnet penunjung PKA. Wahana ini memungkinkan pengunjung untuk mengabadikan gambar bawah laut Sabang lengkap dengan ikan-ikan kecil.

Panitia Anjungan Sabang, Dayana mengatakan, wahana bawah laut tersebut ditampilkan secara visual melalui proyektor, masyarakat dapat berfoto dengan visual di dalam laut.

“Konsepnya sebenarnya adalah memperlihatkan Sabang sebagai the golden Island kita ingin tampilkan wisata baharinya sejarah,” kata Dayana.

Wahana ini, kata Dayana, disiapkan untuk memperkenalkan pengunjung PKA dengan suasana bawah laut di Sabang tanpa perlu menyelam. Setidaknya, sebut Dayana, mereka semakin tertarik untuk datang ke Sabang dan mencoba destinasi wisata bawah laut yang kini semakin populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Sabang.

BACA JUGA:  Didukung Bea Cukai untuk Naik Kelas, Sambal Sunti Khas Aceh yang Tembus Pasar Digital

Tidak hanya itu, di anjungan Sabang, pemerintah kota juga menampikan beragam kuliner khas Pulau Weh. Kepala Museum Sabang BPKS , Evan Boy Foreman, mereka juga menampilkan banyak atraksi menarik jalur rempah. Di sini, pengunjung dapat menikmati kuah plik u, kuah keong cu, dan cemilan lain yang umumnya berbahan hasil laut.

“Alhamdulillah dapat apresiasi bagi pengunjung yang sampai hari ini Sabang masih mempertahankan ciri khas makanan tradisional jalur rempah,” kata Evan Boy Foreman.

Bukan itu saja, Anjungan Sabang juga menghadirkan penganan khas seperti wajik dengan cita rasa cengkeh. Makanan lain yang juga diminati para pengunjung adalah Coklat Kilometer Nol alias Cokinol.

Untuk menyempurnakan nuansa kelautan yang menjadi ciri khas Pulau Weh, pemerintah kota membuat miniatur kapal layar. Dinding kapal dibalut dengan daun pisang kering. Kapal itu memiliki panjang satu lengan pria dewasa.

Tak hanya bentuknya, di dalam miniatur kapa itu juga terdapat kue timpan dan kue seupet yang di tata laksana layar kapal. Sementara di lambung bawah kapal, disusun kue bhoi bentuk ikan. Ada juga kue dengan bentuk menyerupai bintang laut dan karang. Di sampingnya, terdapat sebuah peti berisi kue loyang dan ragam cemilan lain.

“Sabang itu kaya dengan hasil bawah laut. Jadi ini menggambarkan ikan-ikan, karang lautan, aneka ikan hias, bintang laut jadi aneka ragam kekayaan bawah laut kita juga punya, selain kekayaan di darat kayak cengkeh,” kata Penggerak Swadaya Masyarakat Seksi Kerja Sama Ekonomi Dinas Pariwisata Sabang, Yunita Herawati.

BACA JUGA:  Dewan Pers Gelar Workshop Peliputan Pemilukada 2024 di Provinsi Aceh

WhatsApp Image 2023 11 20 at 00.29.44Timpan yang disuguhkan terbuat dari tepung dengan isi serikaya atau kelapa dan dibalut dengan daun pisang. Sedangkan kue seupet yang menjadi layar kapal, dibuat dengan cara dijepit menggunakan dua lempeng besi lalu dibakar dengan tungku arang batok kelapa. Proses dan bahannya sederhana. Bagi warga Aceh, kue-kue itu sangat istimewa.

Penjabat Wali Kota Sabang, Reza Fahlevi, mengatakan Sabang adalah bagian dari sejarah rempah dan sejarah kejayaan Pulau Weh saat menjadi pusat perdagangan dunia. Selain sejarah rempah rempah-rempah, stan Sabang juga memamerkan kekayaan nilai budaya, pelestarian, dan suguhan hiburan kebudayaan.

“Sabang juga mengikuti berbagai rangkaian lomba kebudayaan yang diadakan. Ini adalah kontribusi maksima Sabang untuk menyukseskan PKA VIII,” kata Reza. “Mudah-mudahan Sabang mendapatkan hasil yang terbaik untuk Sabang,” katanya. (ADV)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *