Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Learning Loss Setelah Lebaran, Siapa Bertanggung Jawab?

IMG 20260330 WA0003
Zulfikar Aliboto akademisi uinsuna Lhokseumawe. hariandaerah.com/foto istimewa

Dunia pendidikan Indonesia kerap mengabaikan fenomena kehilangan pembelajaran atau kehilangan pembelajaran setelah libur panjang, terutama setelah Lebaran. Meskipun demikian, Idul Fitri terkait dengan libur panjang, mobilitas sosial yang tinggi, dan pergeseran dalam rutinitas belajar, yang semuanya berdampak besar pada kontinuitas dan kualitas pembelajaran siswa. Kondisi ini dilihat dari sudut pandang pendidikan Islam sebagai masalah bukan hanya teknis akademik; itu juga berkaitan dengan pembentukan karakter, disiplin, dan tanggung jawab bersama untuk menjaga amanah ilmu. Akibatnya, pertanyaan utama yang harus diajukan adalah: siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan pengetahuan setelah Lebaran?
Secara sederhana, learning loss didefinisikan sebagai penurunan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan siswa sebagai akibat dari penundaan proses pembelajaran selama periode waktu tertentu. Libur Lebaran, yang biasanya berlangsung lama, seringkali menyebabkan kebiasaan belajar peserta didik terganggu. Peserta didik beristirahat dari proses kognitif yang intens karena pola tidur mereka berubah, aktivitas yang lebih berfokus pada rekreasi dan bersosialisasi, dan kurangnya stimulasi akademik. Setelah kembali ke sekolah, banyak guru menemukan bahwa siswa mengalami penurunan daya ingat, kesulitan memahami materi lanjutan, dan bahkan kehilangan keinginan untuk belajar.

Sebenarnya, fenomena ini bertentangan dengan prinsip kontinuitas dalam penelitian ilmiah. Menurut Islam, ilmu harus dicari secara terus menerus tanpa jeda. Konsep thalabul ilmu minal mahdi ilal lahdi, yang berarti menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat, menyatakan bahwa proses belajar tidak boleh berhenti apapun. Namun, dalam kenyataannya, sistem pendidikan kontemporer seringkali gagal menginternalisasi prinsip-prinsip ini dengan baik, terutama dalam konteks liburan panjang seperti Lebaran.

Tanggung jawab terhadap learning loss tidak dapat ditanggung oleh satu pihak. Ini adalah hasil dari hubungan yang rumit antara berbagai pihak yang terlibat dalam sistem pendidikan: orang tua, guru, sekolah, peserta didik, dan bahkan pemerintah. Masing-masing memiliki peran yang saling terkait. Pertama adalah peserta didik sendiri, sebagai subjek utama pembelajaran, siswa bertanggung jawab secara pribadi untuk mempertahankan pendidikan mereka. Dalam pendidikan Islam, siswa dianggap tidak hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kesadaran intelektual dan spiritual untuk terus berkembang. Namun, kesadaran ini belum sepenuhnya terbentuk pada usia tertentu, terutama di tingkat dasar dan menengah.
Oleh karena itu, tidak realistis untuk mengharapkan siswa dapat menghindari kehilangan pengetahuan secara mandiri jika mereka tidak memiliki lingkungan yang mendukung.

Kedua orang tua, orang tua memiliki peran yang sangat taktikal dalam menangani kehilangan pengetahuan setelah Lebaran. Keluarga memiliki lebih banyak kendali atas aktivitas anak selama liburan. Sayangnya, banyak orang tua yang menganggap libur sebagai waktu yang bebas dari pendidikan. Anak-anak dibiarkan larut dalam hiburan, penggunaan gawai berlebihan, dan kurangnya aktivitas akademik. Orang tua adalah pendidik utama dalam pendidikan Islam (al-umm madrasatul ula). Mereka memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak terus mendapatkan stimulasi kognitif dan spiritual, bahkan saat mereka tidak berada di sekolah. Salah satu faktor utama yang menyebabkan learning loss adalah ketidaksadaran atau kelalaian orang tua dalam menjalankan peran ini.

BACA JUGA:  Bupati Mitha Tinjau Jalan dan Jembatan Putus di Buara, Instruksikan Perbaikan Darurat

Ketiga Adalah guru, ada tugas yang tidak kalah penting bagi guru. Proses pembelajaran sebelum libur Lebaran seringkali tidak direncanakan dengan mempertimbangkan kehilangan informasi. Guru biasanya hanya menutup materi tanpa memberikan penguatan atau rencana untuk membuat siswa tetap terlibat dengan pelajaran selama liburan. Selain itu, tidak semua guru melakukan evaluasi diagnostik saat siswa kembali ke sekolah untuk mengetahui seberapa parah penurunan kemampuan siswa. Akibatnya, pembelajaran langsung terus berlanjut tanpa mempertimbangkan kondisi nyata siswa. Akibatnya, gap pemahaman semakin besar.

Keempat adalah Lembaga (sekolah), sebagai penyelenggara pendidikan, institusi sekolah bertanggung jawab untuk membuat kebijakan dan program yang meminimalkan kehilangan pelajar. Sekolah harus tidak hanya berkonsentrasi pada kurikulum formal, tetapi juga membuat metode pembelajaran yang dapat disesuaikan dengan liburan panjang. Misalnya, mereka dapat memberikan tugas proyek yang relevan selama liburan, memberikan modul pembelajaran mandiri, atau menggunakan teknologi digital untuk menghubungkan siswa dengan materi pelajaran. Tanpa kebijakan sekolah yang jelas, upaya untuk mengatasi kegagalan belajar akan bersifat sporadis dan tidak efektif.

Kelima pemerintah, sebagai pemegang kebijakan pendidikan, pemerintah bertanggung jawab secara struktural untuk mengantisipasi dan mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Panduan yang jelas untuk guru dan sekolah harus menyertai kalender akademik yang menetapkan libur panjang. Selain itu, pemerintah harus mendukung penguatan literasi keluarga agar orang tua sadar dan tahu bagaimana mendampingi anak mereka belajar di rumah. Jika tidak ada perubahan kebijakan yang menyeluruh, kehilangan pengetahuan akan terus berulang setiap tahun. Sebenarnya, kehilangan pengetahuan setelah Lebaran memiliki ironi tersendiri dalam konteks pendidikan Islam. Setelah menjalani ibadah Ramadan yang menuntut ketekunan, kesabaran, dan pengendalian diri, Lebaran adalah momentum kemenangan spiritual. Sebenarnya, nilai-nilai ini seharusnya berkembang dan berkontribusi pada peningkatan kualitas belajar. Jika intelektualitas dan kedisiplinan menurun setelah Ramadan, ada yang perlu dievaluasi dalam proses internalisasi nilai-nilai.

BACA JUGA:  Wapres Gibran Dukung Rehabilitasi Mangrove di Tangerang: Investasi Masa Depan Pesisir

Pengalaman kehilangan pengetahuan juga terkait dengan cara kita memahami cuti sistem pendidikan. Banyak orang menganggap liburan sebagai jeda total dari belajar. Namun, dalam perspektif pendidikan Islam, belajar tidak terbatas pada ruang kelas atau waktu formal. Misalnya, bersilaturahmi saat Lebaran dapat memberikan pelajaran sosial, budaya, dan agama jika dimaknai dengan benar. Anak-anak dapat belajar tentang prinsip keluarga, empati, komunikasi, dan adat istiadat. Namun, potensi ini tidak akan berkembang dengan baik tanpa bantuan yang tepat. Untuk mengatasi penurunan pembelajaran setelah Lebaran, tidak cukup hanya menambah jam pelajaran atau memberikan tugas tambahan setelah liburan. Ada kebutuhan untuk pendekatan yang lebih luas dan integratif. Pertama, paradigma harus diubah untuk melihat belajar sebagai proses yang tidak terbatas pada tempat dan waktu. Kedua, peran keluarga sebagai mitra utama dalam pendidikan harus diperkuat. Ketiga, sekolah dan guru harus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual dan adaptif.

Keempat, pemerintah harus mendukung kebijakan yang mendorong kerja sama antar pemangku kepentingan.
Teknologi juga dapat membantu mengurangi kehilangan pembelajaran. Selama liburan, siswa dapat tetap terhubung dengan materi pelajaran melalui platform pembelajaran digital, aplikasi pembelajaran, dan sumber belajar online. Namun, agar teknologi ini tidak menjadi distraksi yang hanya memperburuk situasi, disarankan untuk menggunakannya dengan bimbingan.
Dalam jangka panjang, membangun masyarakat dengan budaya belajar yang kuat sangat penting. Dalam budaya ini, prestasi akademik tidak hanya penting, tetapi ilmu dicintai sebagai ibadah. Ketika belajar dianggap sebagai kebutuhan daripada kewajiban, kemungkinan kehilangan pengetahuan dapat diminimalkan.

Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kehilangan pengetahuan setelah Lebaran? Jawabannya adalah semua orang. Aktor tidak dapat dibebaskan dari tanggung jawab ini. Orang tua, guru, sekolah, dan pemerintah semuanya harus bekerja sama untuk membuat lingkungan pendidikan yang konsisten. Setelah Lebaran, hilangnya pengetahuan harus menjadi refleksi bersama bahwa pendidikan adalah proses pembentukan manusia, bukan sekadar transfer pengetahuan. Menjaga amanah Allah terhadap potensi akal yang diberikan kepada manusia dalam perspektif pendidikan Islam berarti terus belajar. Jika kita lalai untuk memperhatikannya, bukan hanya pengetahuan yang hilang, tetapi juga kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik secara pribadi. Oleh karena itu, Lebaran tidak seharusnya menjadi momentum kemunduran, tetapi seharusnya menjadi titik awal untuk meningkatkan kualitas diri, termasuk belajar.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *