Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Lewat MATAHATI BAWANG MERAH, Gus Bill Angkat Identitas Brebes Lewat Seni Jalanan

IMG 20260912 063109
Mural “MATAHATI BAWANG MERAH” karya Gus Bill ManusiaBiasa, dipajang di Alun-alun Brebes pada hari pertama Bawang Merah Brebes Festival 2026, Jumat 11/9/2026.(Dokumen hariandaerah.com)

BREBES — Hari pertama gelaran Bawang Merah Brebes Festival 2026, Jumat (11/9/2026) di Alun-alun Brebes, disemarakkan dengan sentuhan seni visual yang khas. Seniman mural asal Brebes, Gus Bill ManusiaBiasa, meluncurkan karya terbaru bertajuk “MATAHATI BAWANG MERAH”, sebuah perpaduan bahasa street art dengan identitas paling ikonik Kabupaten Brebes.

Karya ini bukan sekadar penghias ruang festival. MATAHATI BAWANG MERAH tampil sebagai narasi visual tentang Brebes. Bawang merah, telur asin, warna-warna berani, figur tangan, serta karakter MATAHATI dirangkai menjadi satu komposisi yang mudah dikenali sekaligus memiliki identitas yang kuat.

Dua figur berbentuk hati dengan sorot mata menjadi pusat perhatian. Mata menjadi simbol untuk melihat, sementara hati mengajak untuk merasakan. Di sekelilingnya, bawang merah, telur asin, tangan, serta bidang-bidang geometris berwarna kontras saling melengkapi.

Karya ini mengingatkan bahwa identitas daerah tidak cukup hanya dilihat sebagai komoditas atau simbol ekonomi. Di balik bawang merah, ada petani, keluarga, pasar, tradisi, kerja keras, pengetahuan, dan kehidupan masyarakat yang membentuk Brebes dari generasi ke generasi.

Gus Bill dikenal melalui karakter MATAHATI, bahasa visual yang telah lama tumbuh bersama perjalanan kreatifnya. Dalam karya ini, MATAHATI dipertemukan secara langsung dengan bawang merah sebagai salah satu identitas paling kuat Kabupaten Brebes.

BACA JUGA:  Pastikan Pelayanan Berjalan Lancar, Kapolres Aceh Barat Sidak Ruang SPKT dan SKCK

Yang menarik, Gus Bill tidak sekadar menggambar bawang merah secara realistis. Ia memasukkan ikon tersebut ke dalam dunia visual MATAHATI. Pendekatan ini membuat karya tersebut memiliki dua identitas sekaligus: sangat Gus Bill dan sangat Brebes.

Warna-warna terang, garis hitam tegas, bidang dekoratif, serta karakter yang komunikatif membawa energi street art ke tengah festival. Karya terasa dekat bagi anak muda, namun simbol-simbolnya tetap dapat dipahami lintas usia.

Kehadiran MATAHATI BAWANG MERAH juga memperlihatkan bahwa festival daerah dapat berkembang lebih luas daripada sekadar agenda keramaian. Bawang merah memang menjadi titik berangkat, namun festival dapat menjadi ruang pertemuan antara pertanian, ekonomi masyarakat, kreativitas, hiburan, seni, dan kebanggaan terhadap daerah.

Ketika petani menghadirkan hasil bumi dan seniman menerjemahkan identitas yang sama melalui karya visual, keduanya sesungguhnya sedang menceritakan Brebes menggunakan bahasa yang berbeda. Satu melalui tanah dan hasil panen, satu lagi melalui garis, bentuk, warna, dan imajinasi.

Bagi Gus Bill, karya ini sekaligus mempertegas hubungan antara perjalanan seorang seniman dan kota tempat identitas kreatifnya tumbuh. Alih-alih meninggalkan akar lokal untuk terlihat universal, MATAHATI BAWANG MERAH justru menunjukkan: sesuatu yang sangat lokal dapat menjadi menarik ketika disampaikan dengan bahasa artistik yang kuat dan jujur.

BACA JUGA:  Pimpinan Dewan Minta Pj Bupati Tak Zalimi ASN, Begini Penjelasan BKPSDM Aceh Barat

Bawang merah mungkin pemandangan sehari-hari bagi warga Brebes. Namun ketika masuk ke dalam karya seni, sesuatu yang biasa dapat memperoleh cara pandang baru.

“Itulah salah satu kekuatan seni. Ia tidak selalu menciptakan sesuatu yang belum pernah ada. Terkadang seni justru membuat manusia melihat kembali sesuatu yang setiap hari berada di depan mata, tetapi jarang benar-benar diperhatikan,” ujar Gus Bill.

Pada akhirnya, MATAHATI BAWANG MERAH bukan hanya cerita mengenai sebuah panel mural. Karya ini menjadi pertemuan antara Gus Bill ManusiaBiasa, karakter MATAHATI, bawang merah, masyarakat, festival, dan Brebes dalam satu bidang visual.

Dari Alun-alun Brebes, Gus Bill menghadirkan pesan sederhana namun kuat: daerah memiliki banyak cerita yang layak dibawa ke dalam seni, dan seniman memiliki kesempatan untuk membuat cerita itu terus hidup dengan bahasa zamannya.

“MATAHATI BAWANG MERAH” akhirnya bukan sekadar karya tentang bawang merah. Ia adalah cara seorang seniman memandang tanah kelahirannya — dengan mata, dengan hati, dan melalui karya.

 

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *