Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Dunia  

Luas Jalur Gaza Kecil Hanya 365 Km, Tapi Selalu Gagal Dikuasai Israel

palestina
Warga Palestina mencari korban tertimbun reruntuhan. (Foto: Screenshoot You Tube RCTI).

BANDA ACEH – Israel terus menggempur Jalur Gaza hingga menghacur leburkan wilayah Gaza. Gempuran sepekan terakhir sejak tanggal 7 Oktober 2023 merupakan balas dendam atas aksi brutal yang dilakukan kelompok Hamas Palestina.

Dalam sehari, Israel telah melakukan serangan dengan lebih dari 1.200 ton amunisi bom yang dianggap ilegal secara internasional, mengakibatkan kerusakan yang parah.

Ribuan rumah telah hancur atau rusak parah, mendorong 445.000 warga sipil untuk mengungsi, sementara upaya penyelamatan oleh Tim SAR menghadapi banyak hambatan.

Serangan Israel telah menyasar warga sipil, paramedis, fasilitas kesehatan, dan institusi pendidikan. Hingga saat ini, 144 lembaga pendidikan, termasuk universitas, sekolah, dan taman kanak-kanak, menjadi target serangan.

Situasinya semakin memprihatinkan dengan peningkatan jumlah korban jiwa di Gaza yang terus berlanjut. Bahkan dalam setiap interval 5 menit, seorang warga Palestina di Gaza tewas akibat serangan Israel. Menurut kantor Informasi Pemerintahan Gaza, 64% dari korban jiwa adalah anak-anak dan wanita.

BACA JUGA:  Indonesia Galang Dukungan Internasional Untuk Sidang Khusus PBB Mengenai Gaza

Wilayah Jalur Gaza dengan jumlah penduduk lebih dari dua juta penduduk dan luas lebih kurang 365 Kilometer Pesergi ini diprediksi akan mengalami krisis kemanusiaan dengan mulai habisnya bahan bakar dan makanan,

Pemerintah Israel juga menyerukan peringatan bagi lebih dari satu juta penduduk Gaza Utara untuk mengungsi ke Gaza Selatan dalam waktu 24 jam.

Terhitung sudah empat kali Israel bertarung dengan Hamas untuk memperebutkan Gaza sejak Tahun 2008. Ambisi Israel untuk mendapatkan Gaza selalu dipatahkan oleh pasukan militer Palestina yang mengadang.

Walaupun Gaza hanya memiliki luas 365 kilpmeter persegi, Israel selalu gagal menjadi penguasa Gaza. Gaza sendiri merupakan wilayah pesisir yang terletak di jalur perdagangan dan maritim kuno di sepanjang pantai Mediterania, dikutip dari Reuters.

Gaza pernah jatuh di tangan pemerintahan Inggris setelah Perang Dunia I, lalu berpindah tangan ke Mesir, dan berakhir ditaklukkan oleh Israel pada Perang Enam Hari pada Tahun 1967. Namun sejak 1993, wilayah tersebut diserahkan kepada Otoritas Nasional Palestina.

BACA JUGA:  Indonesia Dorong Resolusi PBB Untuk Dukung Perdamaian di Gaza

Dalam kurun waktu berabad-abad tersebut, Israel dihadapkan pada tantangan untuk melawan negara-negara Arab dan Palestina demi menguasai Gaza.

Israel dianggap tidak layak menguasai Tepi Barat dan Jalur Gaza yang sebagian besar dihuni oleh warga Palestina. Israel tidak hanya berperang melawan pemerintah Palestina, tetapi juga kelompok-kelompok militan Palestina.

Faksi atau kelompok militan Palestina pada umumnya bekerja sama dan mendapat sokongan dana, senjata, serta pelatihan militer dari Iran higga Suriah.

Kelompok militan Palestina, seperti Hamas, Fatah, dan Jihad Islam Palestina (PIJ) bahkan ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh beberapa negara karena aksi militernya menyerang Israel.

Terbukti dalam beberapa hari saja, Hamas dapat seketika membombardir Israel dengan ribuan roket yang membunuh banyak orang.

Sampai saat ini, strategi umum yang digunakan Israel untuk bisa menekan Palestina adalah melakukan blokade kebutuhan pokok.

Dikutip dari CNN Indonesia, sejak Hamas berhasil menguasai Gaza pada Tahun 2007, Israel banyak menerapkan pembatasan impor ketat, pemadaman listrik, dan penutupan perbatasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *