Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Nasib 2 Juta Warga Gaza Setelah Upaya Diplomatik Dipimpin AS Gagal

Nasib 2 Juta Warga Gaza Setelah Upaya Diplomatik Dipimpin AS Gagal
Warga Palestina mencari korban di bawah reruntuhan di lokasi rumah yang hancur akibat serangan Israel di Khan Younis di selatan Jalur Gaza, Senin (16/10/2023). (Foto: Reuters)

JAKARTA – Upaya meringankan nasib 2 juta warga Gaza atas krisis air bersih, krisis makanan dan obat-obatan tak membuahkan hasil, setelah upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat gagal, akibatnya nasib warga Gaza bagaikan di ujung tanduk.

Kegagalan diplomasi terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken melakukan tur ke lima negara Teluk Arab dan Mesir. Upaya diplomatik regional Blinken sejauh ini gagal mencapai tujuannya untuk menciptakan tempat berlindung yang aman bagi warga sipil di Gaza dan membuka koridor pasokan kemanusiaan.

Sementara media AS melaporkan bahwa Presiden AS Joe Biden sedang mempertimbangkan perjalanan ke Israel karena situasi yang memburuk secara drastis.

Ketika Israel mengerahkan pasukan dan kendaraan lapis baja di sekitar perbatasan Gaza sebagai persiapan untuk invasi darat, Biden mengatakan akan menjadi “kesalahan besar” bagi Israel jika mencoba menduduki kembali wilayah tersebut dengan pasukan darat, 18 tahun setelah menarik pasukannya.

“Apa yang terjadi di Gaza, menurut saya, adalah Hamas dan elemen ekstrim Hamas tidak mewakili seluruh rakyat Palestina,” kata Biden dalam wawancara dengan program berita CBS 60 Minutes, seperti dikutip cnbcindonesia.

Biden mengatakan dia yakin Hamas harus dilenyapkan seluruhnya “tetapi perlu ada otoritas Palestina. Perlu ada jalan menuju negara Palestina“.

Pada Senin, Biden membatalkan perjalanan yang dijadwalkan ke Colorado untuk mengadakan pertemuan keamanan nasional mengenai krisis Gaza. Ini terjadi di tengah laporan bahwa ia mungkin akan mengunjungi Israel dalam beberapa hari mendatang.

BACA JUGA:  AS Tambah Pangkalan Militer Baru di Filipina, 1 Diantaranya Menghadap Laut Cina Selatan

John Kirby, juru bicara dewan keamanan nasional AS, membenarkan bahwa Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah mengundang Biden tetapi ia mengatakan: “Saya tidak punya perjalanan untuk berbicara atau mengumumkan, sehubungan dengan Israel.”

Setelah Israel memutus pasokan air dan listrik ke Gaza, situasi itu menambah kesengsaraan masyarakat Gaza, yang sudah menderita akibat blokade Israel sejak 2007. Sejak perang Israel-Hamas pecah akhir pekan lalu, sudah lebih dari 3.300 orang terbunuh termasuk 1.900 warga Palestina dan 1.400 warga Israel.

Sesaat setelah serangan kelompok Hamas Palestina ke Israel, negara tersebut membalasnya dengan menutup akses luar ke Gaza. Pengepungan Israel pun menyebabkan berkurangnya persediaan makanan, air, listrik, dan obat-obatan bagi warga.

Saat ini truk-truk yang membawa perbekalan yang sangat dibutuhkan telah menunggu berhari-hari di perbatasan Mesir dengan Gaza, namun serangan Israel yang berulang kali dan kebuntuan diplomatik dengan Kairo membuat mereka tidak dapat masuk.

Penduduk di wilayah tersebut, yang dikuasai oleh Hamas, mengatakan serangan semalam antara Minggu dan Senin adalah yang terberat saat konflik memasuki hari ke-10.

Menurut seorang pejabat bantuan, beberapa truk PBB yang membawa minyak diizinkan masuk ke Gaza dari Mesir pada Senin pagi namun penyeberangan tersebut tetap ditutup untuk sebagian besar pengiriman bantuan kemanusiaan.

“Tidak ada makanan, tidak ada hal semacam itu yang berhasil melewatinya,” kata sumber bantuan. “Tidak ada seorang pun yang bisa mendekati perbatasan itu.”

BACA JUGA:  Camellia Panduwinata Respon Situasi Genting Jalur Gaza

Pejabat PBB menyebut ribuan nyawa pasien di Gaza terancam, dan warga sipil di sana menunggu tanpa ada cara untuk melarikan diri. Tim Blinken sebelumnya telah mencoba merundingkan jalan keluar yang aman melalui penyeberangan Rafah bagi sekitar 500 warga Palestina-Amerika yang terjebak di dalamnya.

“Gerbangnya ditutup. Mereka tidak membiarkan siapapun lewat,” kata seorang wanita Palestina yang mencoba menyeberang pada Senin. “Kami datang jam 9 pagi. Sekarang sudah hampir pukul 13.15 dan bahkan belum dibuka sedetik pun. Banyak orang lain yang menunggu panggilan telepon yang mengatakan bahwa penyeberangan telah dibuka.”

Gaza kehabisan kebutuhan dasar untuk mempertahankan hidup dalam menghadapi blokade total Israel dan kampanye pengeboman, pembalasan atas serangan Hamas pekan lalu yang menewaskan lebih dari 1.300 warga Israel, sebagian besar warga sipil.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan satu juta orang telah menjadi pengungsi sejak serangan Hamas, dan Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan 2.329 warga Palestina telah terbunuh di Gaza. Adapun laporan terkini menyebutkan korban tewas di pihak Palestina mencapai 2.800 orang.

Semakin banyak warga Palestina di Gaza yang bertahan hidup dengan meminum air yang kotor dan asin. Israel mengatakan pihaknya telah kembali memompa air ke wilayah di selatan Jalur Gaza, namun tidak jelas berapa banyak air yang masuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *