Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Mendegradasi Manusia Dalam Rantai Makanan

Screenshot 2025 0128 095457 1
Ocit Abdurrosyid Siddiq

Mendegradasi Manusia Dalam Rantai Makanan
Oleh _ Ocit Abdurrosyid Siddiq

Memasuki pekan ketiga, program Makan Bergizi Gratis atau MBG, belum datang juga ke sekolah swasta yang saya kelola. Ada hampir 1.000 peserta didik di yayasan pendidikan yang saya kelola. Hingga pekan ketiga, mereka baru bisa menyaksikan kawannya di sekolah lain yang sedang makan siang tanpa bayar itu, di televisi.

Bisa jadi, hal yang sama juga terjadi pada peserta didik lain. Bukan hanya di sekolah saya, bukan hanya di kecamatan kami saja, bukan hanya di kabupaten kami saja, bahkan bisa jadi hal serupa juga terjadi di provinsi lain. Bukan hanya terjadi di sekolah swasta saja. Bahkan bisa jadi ada sekolah negeri yang belum mendapatkan program MBG ini.

Di tengah suasana seperti itu, tiba-tiba Kepala Badan Gizi Nasional mengatakan bahwa “Mungkin saja ada satu daerah suka makan serangga, belalang, ulat sagu, bisa jadi bagian protein,” kata Dadan, Kepala BGN saat hadir dalam acara Rapimnas Pira Gerindra pada Sabtu, 25 Januari 2025 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Di awal, rencana program BGN ini begitu menarik perhatian. Bayangkan, setiap hari anak-anak sekolah bisa makan tanpa bayar, bergizi pula. Semua akan ditanggung oleh pemerintah. Walau muncul pertanyaan, dari mana biaya yang pastinya begitu besar untuk program ini, akhirnya pengusung program ini, pasangan Capres Prabowo-Gibran terpilih.

Karena mesti segera memenuhi janji, maka pada 6 Januari 2025, program ini digulirkan. Persoalannya, keuangan negara dalam APBN belum siap sepenuhnya. Beredar kabar, untuk sementara menggunakan uang pribadi Prabowo. Catatan khusus untuk ini, program negara tapi menggunakan dana pribadi, itu ciri amatir dalam mengelola negara! Terkesan baik namun tidak benar.

BACA JUGA:  Camelia Panduwinata Sambut 1 Muharam Lewat Pawai Obor Bareng Warga Cilendek

Pada pekan pertama, banyak stasiun televisi yang menayangkan adegan beberapa peserta didik sedang makan siang di dalam ruang kelas. Sebagian besar dari mereka begitu senang dan antusias bisa makan siang tanpa mesti membawa bekal dari rumah, atau merogoh kantong untuk beli makan siang di kantin sekolah.

Beberapa diantaranya ada yang merasa kecewa karena kualitas makanan tidak seperti yang dibayangkan. Atas tanggapan seperti ini, beberapa pihak melarang tayangan peserta didik yang sedang makan gratis di sekolah. Bahkan Deddy Corbuzer, seorang pendengung, memaki dengan nada nyinyir atas pengakuan siswa tersebut.

Pada pekan kedua, muncul informasi bahwa karena dana APBN belum siap sepenuhnya untuk pembiayaan program MBG, rakyat disarankan berkontribusi atau iuran. Hal ini sebagaimana saran Ketua DPD RI. Lalu muncul informasi bahwa dana zakat akan diarahkan untuk itu. Belakangan, Kepala BGN berfatwa bahwa serangga bisa jadi bagian dari menu Makan Bergizi Gratis.

Menurut Tempo.co sebagaimana dikutip dari Nutritional and Sensory Quality of Edible Insects, tidak semua serangga bisa, aman, dan bermanfaat bila dikonsumsi. Hanya beberapa saja diantaranya. Misalnya jangkrik yang kaya protein dan mengandung asam lemak tak jenuh. Kemudian belalang, sumber protein tinggi dengan lemak rendah.

BACA JUGA:  Musrenbang Rajeg Transformasi Menuju Pembangunan Berkelanjutan

Ulat hongkong yang mengandung protein, lemak sehat, dan serat chitin. Lalu ulat sagu yang kaya energi dan sering dimakan mentah atau dipanggang. Kemudian kumbang kelapa yang sering dikonsumsi di wilayah Asia Tenggara karena kaya protein. Tapi manusia pemakan serangga seperti yang disebutkan itu masih terbatas. Hanya ada di wilayah tertentu saja.

Bahwa serangga itu layak dimakan dan kandungannya bermanfaat bagi perkembangan dan kesehatan tubuh, itu benar. Tapi pada sebagian besar masyarakat, memakan serangga itu belum begitu familiar. Malah sebaliknya. Harenek hayang utah! Jadi, bila gegara MBG anak-anak warga bangsa terpaksa sampai menyantap makanan yang tidak biasa dimakan, enya geh gratis, bergizi koq gini amat ya.

Tanpa diembeli dengan “bergizi” dan “gratis” pun, jangkrik dan belalang yang merupakan bagian dari serangga, di kampung kami tidak kami makan. Kami biarkan mereka sebagai bagian dari rantai makanan pada posisi kedua. Setelah binatang itu dimaknai sebagai hama perusak tanaman. Yang kemudian menjadi santapan ular atau kodok!

Anak didik kami, bukan sekelas ular. Apalagi sekelas kodok!
***

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *