Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Pekon Lugusari Raih Juara Pertama Lomba 3 Pilar Tingkat Provinsi, Bukti Nyata Sinergi TNI-Polri-Desa

IMG 20250701 WA0049
Tiga Pilar Pekon Lugusari menerima piagam dan trofi Juara I Lomba 3 Pilar Tingkat Provinsi Lampung pada peringatan Hari Bhayangkara ke 79 di Mapolda Lampung Selasa 1 Juli 2025.

Pringsewu – Tiga unsur kunci di tingkat pemerintahan desa kepala pekon, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas menunjukkan bahwa kolaborasi bukan sekadar jargon. Pekon Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, menjadi bukti nyata dari sinergi ini, setelah meraih juara pertama dalam Lomba 3 Pilar Tingkat Provinsi Lampung, yang digelar oleh Polda Lampung dalam rangka Hari Bhayangkara ke-79, 1 Juli 2025.

Lomba tersebut menjadi ajang evaluatif yang mengukur keselarasan kerja antara aparatur sipil desa dan aparat keamanan dalam membangun pelayanan publik, stabilitas sosial, serta ketahanan masyarakat di wilayah masing-masing.

Sinergi yang Terstruktur dan Berkelanjutan :

Dalam struktur 3 Pilar Pekon Lugusari, terdapat tiga figur sentral: Adi Sutrisno sebagai Pj Kepala Pekon, Brigadir Yori sebagai Bhabinkamtibmas, dan Serka Sulistyo dari Koramil 05 Pagelaran sebagai Babinsa. Ketiganya tidak hanya mengisi peran masing-masing secara administratif, tetapi juga aktif turun langsung merespons dinamika sosial di tingkat akar rumput.

Lomba yang diikuti oleh perwakilan dari berbagai kabupaten/kota di Lampung ini memiliki kriteria penilaian berbasis kerja nyata. Salah satu aspek yang menonjol dari Pekon Lugusari adalah laporan tertulis dan presentasi mereka pada 30 Juni 2025 di Mapolda Lampung, yang berisi dokumentasi program-program berbasis partisipasi masyarakat.

“Yang kami sampaikan bukan konsep teoritis. Ini murni kegiatan lapangan yang rutin kami jalankan bersama warga,” ujar Serka Sulistyo saat ditemui di sela perayaan sederhana usai pengumuman pemenang.

Program Lapangan yang Terukur dan Responsif :

Dalam laporannya, Tim 3 Pilar Lugusari memaparkan sejumlah program dengan orientasi sosial dan keamanan, di antaranya:

BACA JUGA:  Bupati Pringsewu Resmikan Rumah BUMN, Dorong 3.000 UMKM Talenta Muda

Pelaksanaan ronda malam berbasis dusun, sebagai langkah preventif terhadap tindak kejahatan.

Patroli rutin saat hari besar keagamaan dan akhir pekan untuk menjaga ketertiban umum.

Pendampingan bagi warga dengan gangguan kejiwaan, agar tetap terpantau dan tidak membahayakan lingkungan sekitar.

Sosialisasi antinarkoba dan edukasi kenakalan remaja ke sekolah, kelompok pemuda, hingga majelis taklim.

Mediasi sengketa sosial, mulai dari urusan tanah hingga konflik rumah tangga.

Gotong royong pembersihan lingkungan, seperti jalan pekon dan fasilitas ibadah.

Pengawasan penyaluran bantuan sosial, untuk menjamin akurasi dan transparansi.

Pos pengaduan masyarakat yang aktif menerima laporan warga untuk ditindaklanjuti secara langsung oleh unsur terkait.

Semua program tersebut tidak hanya didokumentasikan dalam bentuk narasi, tetapi juga disertai bukti foto kegiatan, rekapan pemetaan potensi konflik, serta testimoni dari warga yang menyatakan manfaat kehadiran 3 Pilar.

Penghargaan yang Merefleksikan Reputasi Sosial :

Penghargaan diserahkan langsung di Mapolda Lampung pada puncak Hari Bhayangkara ke-79, yang tahun ini mengusung tema nasional: “Polri Presisi Mendukung Percepatan Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan Menuju Indonesia Emas.”

Dalam konteks itu, kerja 3 Pilar Lugusari seolah menjadi representasi mikro dari bagaimana pelayanan negara semestinya hadir: menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung, akuntabel, dan adaptif.

“Pencapaian ini bukan hasil instan. Ini adalah proses panjang, kerja kolektif, dan komitmen dari semua elemen pekon,” ujar Adi Sutrisno, Pj Kepala Pekon, usai menerima penghargaan.

Ia juga menegaskan bahwa prestasi ini adalah bentuk pengakuan atas iklim kerja lintas sektor yang selama ini dibangun tanpa pamrih, dan bukan sekadar untuk kompetisi.

BACA JUGA:  Dibuka Bupati Riyanto, Ratusan Peserta Ikuti Tes Magang ke Jepang di Pringsewu

“Kami tidak membangun sesuatu hanya untuk dinilai. Kami menjalankan fungsi karena masyarakat membutuhkannya,” imbuhnya.

Respons Warga: Tiga Pilar Hadir dalam Kehidupan Sehari-hari :

Di sisi lain, respons masyarakat terhadap keberhasilan ini cukup hangat. Banyak warga menyampaikan bahwa keberadaan tiga pilar di pekon tidak hanya terasa dalam momen insidental, tetapi konsisten hadir dalam keseharian mereka.

“Kalau ada keributan, kehilangan barang, atau warga yang stres, mereka cepat datang. Kami merasa dilindungi dan dilibatkan,” kata warga setempat yang ditemui saat kegiatan bersih lingkungan bersama Babinsa.

Menjadi Model Kolaborasi Desa di Masa Depan :

Keberhasilan Pekon Lugusari tak hanya menjadi prestasi lokal, tetapi juga contoh model kolaboratif desa yang layak direplikasi. Dalam konteks pembangunan berbasis komunitas, pendekatan seperti ini terbukti mampu meningkatkan kohesi sosial dan efektivitas pelayanan publik.

“Kolaborasi semacam ini adalah jembatan antara kekuatan negara dan kebutuhan warga. Dan Lugusari sudah membuktikan bahwa itu bisa berjalan,” tutur Brigadir Yori.

Dengan kemenangan ini, Pekon Lugusari menyematkan diri sebagai representasi desa yang tidak hanya aktif secara administratif, tetapi juga resilien secara sosial.

“Kami tidak sedang membangun kemenangan, tetapi membangun kepercayaan. Dan itu harus terus kami jaga,” tutup Adi Sutrisno.

Penulis : Davit Segara

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *