Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Pemkab Simeulue Komit Kembalikan Kejayaan Perkebunan, Usulkan 1 Juta Bibit Cengkeh ke Pusat

1 juta cengkeh simeulue 1200x720 1

SIMEULUE – Pemerintah Kabupaten Simeulue menunjukkan komitmen kuat untuk mengembalikan kejayaan sektor perkebunan yang pernah menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat. Melalui program strategis yang diusulkan kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh, daerah kepulauan di barat Indonesia itu mengajukan pengadaan sekitar satu juta bibit cengkeh sebagai langkah besar membangkitkan kembali komoditas legendaris yang pernah mengantarkan Simeulue menyandang julukan “Petrodollar”.

Usulan tersebut diajukan melalui skema pendanaan APBN dan APBA Tahun Anggaran 2027. Bibit yang diusulkan terdiri atas varietas cengkeh Zanzibar yang dikenal memiliki produktivitas tinggi serta bibit cengkeh lokal yang telah lama beradaptasi dengan kondisi alam Simeulue.

Kepala Dinas Perkebunan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Simeulue, Syuhelmi, SP, mengatakan pemerintah daerah memiliki tekad kuat untuk menghidupkan kembali kejayaan komoditas cengkeh yang selama puluhan tahun menjadi identitas sekaligus sumber penghidupan utama masyarakat Simeulue.

Menurutnya, kebangkitan sektor perkebunan tidak hanya akan meningkatkan produksi cengkeh, tetapi juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani, memperkuat ekonomi daerah, serta mengembalikan kejayaan Simeulue sebagai salah satu sentra penghasil cengkeh terbaik di Aceh.

“Kita serius untuk mengembalikan kekayaan dan masa keemasan cengkeh yang dulu membuat Simeulue dikenal sebagai ‘Petrodollar’ dari cengkeh. Karena itu kami mengajukan usulan pengadaan sekitar satu juta bibit cengkeh kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh untuk Tahun Anggaran 2027,” ujar Syuhelmi, Jum’at (03/07/2026).

BACA JUGA:  Disambut Pedang Pora, AKBP Hendry Ferdinand Kennedy Resmi Jabat Kapolres Simeulue

ChatGPT Image 29 Jun 2026 21.09.32 1536x922 1

Ia menjelaskan, pengajuan tersebut baru dapat dilakukan untuk tahun 2027 karena seluruh alokasi anggaran APBN maupun APBA Tahun 2026 telah ditetapkan sebelumnya, sehingga belum memungkinkan untuk memasukkan program pengadaan bibit cengkeh dalam tahun berjalan.

Program ini dirancang untuk mendukung rehabilitasi kebun cengkeh seluas sekitar 8.230 hektare yang saat ini mengalami kerusakan, sekaligus membuka pengembangan kebun cengkeh baru seluas sekitar 160 hektare. Langkah tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi kebangkitan kembali sektor perkebunan Simeulue dalam beberapa tahun mendatang.

Data Pemerintah Kabupaten Simeulue menunjukkan bahwa luas perkebunan cengkeh saat ini mencapai sekitar 16.026 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 8.602 hektare berada dalam kondisi rusak, 2.024 hektare merupakan tanaman belum menghasilkan, sedangkan sekitar 5.400 hektare masih produktif dan terus dikelola oleh para petani.

Syuhelmi menegaskan bahwa cengkeh bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan bagian dari sejarah panjang Kabupaten Simeulue. Bahkan buah cengkeh diabadikan dalam logo resmi pemerintah daerah sebagai simbol kejayaan ekonomi masyarakat pada masa lalu.

“Sejak dulu Simeulue dikenal sebagai penghasil cengkeh. Itu dibuktikan dengan logo pemerintah daerah yang memuat buah cengkeh. Jadi ikon sebenarnya Simeulue adalah cengkeh. Karena itu pemerintah daerah serius mengembalikan masa keemasan komoditas ini,” tegasnya.

BACA JUGA:  Santuni Yatim dan Buka Puasa Bersama, Anggota DPRK Rita Diana Gelar Reses Tahap I Tahun 2026

Selain fokus pada pengembangan cengkeh, Pemerintah Kabupaten Simeulue juga memberikan perhatian besar terhadap komoditas kelapa yang selama ini menjadi mata pencaharian masyarakat hampir di seluruh kecamatan. Kelapa dinilai memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan sebagai penopang ekonomi masyarakat pesisir.

Saat ini luas perkebunan kelapa di Simeulue mencapai sekitar 8.289 hektare. Namun, sekitar 65 persen tanaman telah berusia lebih dari 40 tahun sehingga produktivitasnya terus menurun. Kondisi tersebut juga menyebabkan tanaman rentan terhadap serangan hama, kualitas kopra menurun, dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani.

Sebagai solusi, Pemerintah Kabupaten Simeulue turut mengusulkan berbagai program pendukung kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Pusat, mulai dari intensifikasi pengendalian hama, pemupukan tanaman, program peremajaan atau penanaman kembali, hingga penyediaan bibit kelapa lokal maupun bibit kelapa unggul agar produktivitas perkebunan rakyat dapat kembali meningkat.

Melalui sinergi antara pemerintah daerah, Pemerintah Aceh, dan Pemerintah Pusat, Kabupaten Simeulue berharap kejayaan sektor perkebunan dapat kembali terwujud. Julukan “Petrodollar” dari cengkeh dan “Pulau Seribu Kelapa” bukan sekadar kenangan, tetapi menjadi target pembangunan yang diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan kesejahteraan petani, serta mengangkat kembali nama Simeulue sebagai salah satu daerah perkebunan unggulan di Indonesia. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *