YOGYAKARTA — Perkumpulan Program Studi Pendidikan Agama Islam (PPPAI) Indonesia menyelenggarakan Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge (BoK) Pendidikan Agama Islam (PAI) di Hotel Platinum Yogyakarta, 26–30 Oktober 2026. Kegiatan ini berfokus pada penguatan fondasi keilmuan PAI sebagai dasar pengembangan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) serta strategi peningkatan mutu program studi dalam menghadapi akreditasi.(28/10/26)
Workshop nasional tersebut menjadi forum akademik untuk membahas penguatan struktur keilmuan Pendidikan Agama Islam, penyelarasan kurikulum dengan capaian pembelajaran lulusan, serta pengembangan budaya mutu di lingkungan perguruan tinggi. Upaya ini penting untuk memastikan program studi PAI memiliki arah pengembangan akademik yang terukur, relevan, dan berkelanjutan.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama lima hari tersebut, sejumlah akademisi dihadirkan untuk membahas aspek strategis pengembangan program studi PAI. Materi yang diangkat mencakup misi dan akuntabilitas, penguatan BoK sebagai fondasi kurikulum OBE, serta budaya mutu dan relevansi pendidikan.
Prof. Dr. Suyadi, M.Pd.I., membawakan materi bertajuk “Misi dan Akuntabilitas”. Pembahasan ini berkaitan dengan pentingnya kejelasan misi program studi sebagai arah penyelenggaraan pendidikan, sekaligus perlunya akuntabilitas dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi dan pengelolaan mutu akademik.
Selanjutnya, Prof. Dr. Eva Latipah, S.Ag., S.Psi., M.Si., menyampaikan materi “Penguatan BoK PAI sebagai Fondasi Kurikulum OBE”. Materi tersebut menempatkan Body of Knowledge sebagai landasan penting dalam menyusun kurikulum yang sistematis, dengan keterkaitan yang jelas antara struktur keilmuan, proses pembelajaran, dan capaian pembelajaran lulusan.
Penguatan BoK menjadi bagian penting dalam pengembangan kurikulum OBE. Pendekatan ini menekankan bahwa proses pendidikan perlu dirancang berdasarkan kompetensi yang diharapkan dimiliki lulusan. Karena itu, kurikulum tidak cukup hanya memuat daftar mata kuliah, tetapi juga perlu menunjukkan hubungan antara materi pembelajaran, metode evaluasi, dan kompetensi yang hendak dicapai.
Sementara itu, Prof. Dr. Hj. Fihris, M.Ag., membawakan materi mengenai “Budaya Mutu dan Relevansi Pendidikan”. Materi ini mengangkat pentingnya membangun budaya mutu yang tidak berhenti pada pemenuhan dokumen administratif, tetapi menjadi bagian dari praktik pengelolaan program studi, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, dan perbaikan berkelanjutan.
Dalam konteks akreditasi, penguatan keilmuan, penerapan kurikulum OBE, dan budaya mutu merupakan aspek yang saling berkaitan. Program studi perlu memastikan adanya keselarasan antara visi dan misi, kurikulum, pelaksanaan pembelajaran, capaian lulusan, serta mekanisme evaluasi dan peningkatan mutu.
Tema strategi melampaui standar juga menempatkan peningkatan kualitas sebagai orientasi penting pengembangan program studi. Artinya, upaya peningkatan mutu tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi persyaratan akreditasi, tetapi juga untuk membangun sistem pendidikan yang konsisten, relevan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan.
Melalui workshop nasional ini, PPPAI Indonesia mendorong penguatan kapasitas akademik dan tata kelola program studi PAI dalam mengembangkan kurikulum yang berorientasi pada capaian pembelajaran. Forum ini juga menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman mengenai hubungan antara fondasi keilmuan, akuntabilitas, budaya mutu, dan strategi pengembangan program studi.
Penguatan Body of Knowledge PAI diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan kurikulum yang lebih terarah dan berkelanjutan. Dengan fondasi keilmuan yang kuat, implementasi OBE yang konsisten, serta budaya mutu yang terbangun, program studi PAI memiliki landasan untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansi lulusannya. (man)








