BANDA ACEH – Seudati merupakan tarian khas yang berasal dari daerah Aceh yang memadukan dua jenis kesenian, yaitu seni tari dan sastra.
Makna Tarian Seudati
Seni sastra yang terdapat pada tarian Seudati tercermin dari syair-syair yang didendangkan dalam setiap gerakan tarian.
Tari Seudati merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari Aceh. Sama seperti tari saman, tarian ini juga dibawakan oleh sekelompok penari laki-laki dengan gerakan yang khas. Dimana gerakannya energik, semangat, dan diiringi oleh alunan musik dan juga syair.
Walaupun sama-sama berasal dari Aceh, tapi tari Saman dan tari Seudati mempunyai perbedaan di gerakan dasar tariannya. Dimana tari Saman dilakukan dengan posisi duduk. Sementara tari Seudati dilakukan dengan posisi berdiri.
Tari Seudati merupakan tarian khas Aceh yang sudah terkenal di seluruh wilayah Indonesia bahkan luar negeri. Tari ini mengusung tema dan makna terkait keteguhan, semangat dan juga jiwa kepahlawanan dari seorang pria Aceh.
Salah seorang tokoh adat asal Pidie, Imam Mureski mengungkapkan, awal mula perkembangan tari ini, dulu hanya dijadikan sebagai sarana penyebaran dakwah Agama Islam yang dilakukan di tanah rencong.
Hal tersebut, kata Imam Mureski, dapat dibuktikan dengan adanya syair di dalam tarian Seudati yang menceritakan tentang ajaran dan juga nilai-nilai Islam.
“Dimasa dahulu tarian Seudati berfungsi sebagai tarian kepahlawanan yang dilaksanakan untuk pelepasan pasukan tentara yang hendak berangkat ke medan perang guna melawan musuh. Tak hanya pelepasan, tarian Seudati juga berfungsi sebagai penyambutan para pasukan yang kembali dari medan dengan membawa pulang kemenangan,” ujarnya Imam Mureski, Jumat (5/5/2023).
Namun, kata dia, dikalangan masyarakat saat ini tarian Seudati berfungsi sebagai hiburan dalam rangka menjalankan tradisi pada kegiatan-kegiatan tertentu yang masih sangat diminati oleh masyarakat.
Di dalam pementasannya, tari Seudati umumnya dilakukan oleh 8 orang penari. Dimana masing-masing penari diberi istilah atau jabatan unik. Mulai dari Syeikh atau pimpinan, Apet atau wakil, Apet bak atau anggota ahli, Apet sak sebagai anggota ahli, Apet neun sebagai anggota biasa, Apet wie sebagai anggota biasa, Apet wie abeh sebagai anggota biasa, dan Apet unuen abeh sebagai anggota biasa.
“Tarian Seudati dimainkan oleh sekelompok laki-laki yang berjumlah delapan sampai sepuluh orang, pada setiap kelempok, dua orang menjadi pelantun syair yang menggiring penari dalam memainkan gerakannya. Pelantun syair tersebut diistilahkan dengan Aneuk dhik atau Aneuk syahi,” kata Imam.
Tak jarang penampilan tarian Seudati ini dijadikan media oleh masyarakat untuk kegiatan pengumpulan dana sosial kemanusiaan. Namun seiring berkembangnya zaman, tarian Seudati mengalami pergeseran secara fungsional.
“Artinya yang dahulunya berfungsi sebagai pelestarian adat dalam berbagai kegiatan, kini fungsi tarian Seudati lebih banyak kita temukan sebagai pelengkap pada acara atau upacara tertentu. Contohnya pada penyambutan hari-hari besar nasional ataupun hari besar lokal,” tuturnya.
Tak hanya itu, kata dia, tarian Seudati saat ini juga digunakan dalam berbagai penyambutan tamu-tamu penting yang berasal dari luar daerah Aceh dengan tujuan untuk memperkenalkan budaya Aceh sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan persembahan hiburan.
Sejarah Tari Seudati
Mengutip dari berbagai sumber dan referensi, tari Seudati merupakan salah satu kesenian tari tradisional yang berasal dari Aceh. Tarian tersebut berkembang di daerah pesisir.
Kesenian tari seudati dianggap sebagai bentuk baru dari tari Ratih atau Ratoh.Tari Ratih ini adalah tarian yang kerap dipentaskan untuk mengawali acara lomba sambung ayam.
Selain itu, tarian ini juga dilakukan ketika akan menyambut panen dan datangnya bulan purnama. Lalu, setelah Agama Islam masuk dan tersebar luas di wilayah Aceh, terjadilah percampuran atau akulturasi budaya serta agama. Sehingga membentuk sebuah tarian yang dikenal sebagai tari Seudati.
Berdasarkan sejarahnya, tarian ini asalnya dari Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Awalnya tari Seudati diprakarsai oleh seseorang yang bernama Syeh Tam. Kemudian tarian ini mulai berkembang lebih luas di sekitar desa. Seperti Kecamatan Mutiara, Desa Didoh, dan Pidie. Tari Seudati dipopulerkan oleh anak asuhan Syeh Ali Didoh. Setelah itu, tarian tersebut tersebar ke wilayah Aceh Utara sampai seluruh wilayah Aceh.
Seudati Sebagai Media Dakwah
Masuknya tari Seudati, ungkap Tokoh Adat ini, bersamaan dengan masuknya Islam ke tanah Serambi Mekah. Tari Seudati dijadikan sebagai media dakwah oleh para ulama atau pemuka agama waktu itu. Syair yang dibacakan di dalamnya kental dengan nuansa nilai-nilai agama yang bertujuan untuk mengingatkan para penonton akan kehidupan yang tidak boleh jauh dari agama.
Ternyata tarian tanpa iringan alat musik ini tak hanya sebagai lambang atau adat bagi kebudayaan daerah Aceh, melainkan budaya ini banyak menyimpan nilai-nilai dakwah didalamnya.
“Nilai dakwah yang pertama dapat kita lihat dari nama nya sendiri yaitu Seudati. Seudati berasal dari bahasa Arab yaitu syahadah, artinya pengakuan,” ujarnya.
Pengakuan dimaksud adalah pengakuan terhadap Keesaan Allah SWT dan Kerasulan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah SWT.
“Oleh karena itu, penyematan istilah Seudati untuk nama tarian ini mengandung nilai dakwah pada bidang akidah. Nilai dakwah selanjutnya terlihat pada praktik gerakannya,” ujarnya.
Dalam tarian Seudati, lanjut Imam, semua gerakan penari harus seiirama dengan senandung dari Aneuk dhik atau Aneuk syahi. Hal ini mengandung makna bahwa masyarakat harus patuh pada pimpinan yang telah mereka percayakan.
Tak hanya itu, pesan-pesan dakwah juga disampaikan melalui syair-syair yang dilantunkan Aneuk syahi dalam mengiringi setiap gerakan.
Isi syair tersebut mengandung ajakan bagi penonton untuk lebih dekat dengan Islam. Oleh karena itu, tema syair Seudati tidak akan terlepas dari nilai-nilai Islam di berbagai aspek kehidupan.
Eksistensi Tari Seudati Perlu Diangkat
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Nurlaila Hamjah menyebutkan, kesenian Aceh tentunya memiliki gerakan yang dinamis, energi yang atraktif jika tampil di panggung nasional atau internasional selalu menjadi “poin of interes” karena penarinya penuh semangat totalitas dan berdedikasi dalam menampilkan pertunjukan,
“Oleh sebab itu, menjadi salah satu indikasi, perlunya kita bersama-sama seluruh masyarakat untuk selalu menjaga dan mengembangkan serta mengangkat eksitensi seni budaya Aceh khususnya tari Seudati,” harap Nurlaila saat ditemui hariandaerah.com di ruang kerjanya, Senin (7/5/2023).
Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap seni budaya Aceh semakin meningkta, oleh karena itu perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.
“Sebagai bentuk dukungan agar budaya Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pelaku budaya dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada di depan mata kita yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” pungkas Nurlaila.
Hal senada juga turut disampaikan Kadisbudpar Aceh, Almuniza Kamal agar merawat dan melestarikan Tari Seudati agar tari ini tetap eksis.
“Kehadiran Seudati di tengah masyarakat masih sangat perlu untuk dilaksanakan. Lewat Seudati, banyak sekali nasihat dakwa di dalamnya, mulai nasihat dari Nabi Muhammad SAW hingga sejarah-sejarah Islam yang disampaikan yang dapat menarik minat warga yang menyaksikannya,” ujarnya.
Pemerintah Aceh melalui Disbudpar, kata Almuniza, berkomitmen terus melestarikan beragam budaya kearifan lokal Aceh.
“Salah satu budaya kita yang perlu dilestarikan adalah tari Seudati. Disbudpar Aceh terus Majukan Pariwisata’. Kiat-kiat pelestarian budaya Aceh akan terus kami gelorakan dan kami tingkatkan,” imbuhnya.














