Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh
Daerah  

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit: Membangun Peradaban Pendidikan Islam melalui Proses, Kesabaran, dan Ketekunan

IMG 20260511 WA0012
Prof Zulfikar Aliboto akademisi uinsuna Lhokseumawe.hariandaerah.com./foto. ist

Tidak ada keberhasilan besar dalam kehidupan manusia yang datang dengan sendirinya. Setiap pencapaian membutuhkan waktu yang lama, kesabaran, pengorbanan, dan ketekunan. Pepatah Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit memiliki pelajaran mendalam tentang betapa pentingnya untuk tetap teguh dalam melakukan kebajikan dan upaya. Pepatah ini sangat relevan dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan Islam. Pendidikan adalah proses panjang yang menghasilkan ilmu, akhlak, spiritualitas, dan peradaban manusia.

Setiap orang Muslim yang ingin belajar digambarkan sebagai penggali sumur. Ia tidak akan menemukan air langsung pada hari pertama, ia harus menggali tanah dengan tekun dan sabar. Demikian pula dalam pendidikan Islam, siswa tidak dapat menjadi alim atau saleh secara instan tanpa melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan. Bahkan Rasulullah Muhammad SAW secara bertahap menerima wahyu selama kurang lebih tiga puluh tiga tahun. Ini menunjukkan bahwa Allah sendiri telah mengajarkan pentingnya proses untuk menghasilkan generasi yang kuat dalam pemahaman dan akhlaknya.

Meskipun sedikit, konsistensi dalam belajar, beribadah, dan memperbaiki diri setiap hari lebih berharga di sisi Allah daripada melakukan amal besar sepanjang musim. Dalam tulisannya, Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun itu hanya sedikit. Oleh karena itu, jika anak-anak lambat berubah dalam pendidikan Islam, orang tua dan pendidik tidak perlu berkecil hati. Kemudian, bukit amal dan ilmu akan terbentuk selama ada usaha kecil yang rutin, seperti membaca satu halaman Al-Qur’an setiap hari atau menghafal satu kosakata Arab seusai salat.
Pepatah ini juga menunjukkan betapa pentingnya untuk tetap sabar saat menghadapi kegagalan kecil. Seorang siswa sering merasa jenuh atau kesulitan memahami materi selama pelajaran. Namun, jika ia terus melangkah sedikit demi sedikit mengulang pelajaran, bertanya kepada guru, dan memperbaiki niat maka setiap tetes usahanya akan mengendap menjadi fondasi yang kuat. Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga, kata Nabi Muhammad. Dengan janji ini, setiap langkah kecil dalam pendidikan Islam merupakan ibadah yang berkelanjutan.

Menurut pepatah Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit, mempelajari ilmu secara bertahap dapat menghasilkan manfaat besar. Dalam beberapa tahun, seorang santri yang menghafal satu ayat Al-Qur’an setiap hari akan menjadi hafiz Al-Qur’an. Lama-kelamaan, seorang siswa yang membaca beberapa halaman buku setiap hari akan memiliki wawasan yang luas. Jika seorang guru terus memperbaiki metode pembelajarannya secara bertahap, dia akan menjadi seorang pendidik yang berpengalaman dan berpengaruh. Setiap perubahan besar dimulai dengan langkah-langkah kecil yang tidak pernah berhenti.
Pendapat ini terkait erat dengan konsep istiqamah. Istiqamah berarti terus menerus melakukan kebaikan, meskipun hanya sedikit. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara konsisten, meskipun hanya sedikit. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar usaha seseorang, tetapi juga seberapa lama usaha tersebut berlangsung. Karena amalan kecil yang rutin akan membentuk karakter yang kokoh, sementara amalan yang besar tetapi terputus-putus tidak akan membentuk kebiasaan yang mengakar dalam jiwa. Inilah alasan mengapa Allah meminta hamba-Nya untuk tetap beristiqamah setelah mereka beriman, sebagaimana Dia berkata, Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka… Quran Surat Fussilat ayat 30. Ketenangan dan pertolongan dari Allah pun hadir bagi mereka yang konsisten, sekecil apa pun amal yang mereka lakukan.

BACA JUGA:  Pemko Padang Tingkatkan Kualitas Juru Parkir, Perkuat Citra Kota Wisata

Filosofi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit benar-benar diterapkan pada pesantren, yang merupakan institusi pendidikan Islam tradisional. Para santri sabar menjalani proses pendidikan. Mereka mempelajari kitab demi kitab, adab demi adab, dan huruf demi huruf. Tidak ada cara pintas untuk belajar. Melalui bimbingan guru dan latihan harian, seorang santri yang awalnya tidak mampu membaca kitab kuning akhirnya dapat memahami berbagai disiplin ilmu Islam. Ketekunan yang dilakukan setiap hari memungkinkan semua ini terjadi. Dengan waktu, gundukan pasir menjadi bukit. Rutinitas sehari-hari di pesantren, seperti menghafal doa-doa singkat, mengulang pelajaran malam hari, dan setoran hafalan setiap pekan, adalah buktinya.
Proses panjang di pesantren tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesabaran mental dan kematangan spiritual. Seorang guru menemukan bahwa kegagalan untuk memahami suatu bab bukanlah akhir dari segalanya, itu adalah panggilan untuk melakukannya lagi dan lagi. Ia dibiasakan untuk bangkit dengan niat yang diperbarui setiap kali ia gagal dalam ujian atau lupa tentang hafalannya. Ini adalah tempat istiqamah menemukan aktualisasinya. Karena mereka telah dididik untuk melakukan hal-hal kecil tanpa bosan, lulusan pesantren sering dikenal memiliki ketangguhan hidup dan kedisiplinan tinggi. Mereka menyadari bahwa membaca satu halaman kitab setiap hari lebih menguntungkan daripada membaca seratus halaman sekaligus dan berhenti membacanya selama berbulan-bulan.

Pesantren mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah perjuangan panjang melawan kemalasan. Dalam kehidupan sehari-hari seorang santri, konsep istiqamah dan filosofi sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit menyatu, mereka melakukan amal kecil secara teratur dari bangun tidur hingga tidur kembali. Ketika orang melihat seorang ulama berilmu seluas samudra, mereka harus ingat bahwa samudra itu berasal dari tetesan air yang tak pernah berhenti mengalir. Dengan segala kesederhanaannya, pesantren terus mencetak generasi yang teguh, bukan dengan keajaiban instan, tetapi dengan konsistensi yang tenang.
Tantangan pendidikan Islam semakin kompleks di era komputer dan internet saat ini. Generasi muda menghadapi arus informasi yang sangat cepat. Media sosial menyebabkan pola pikir instan, yang menyebabkan banyak anak muda kehilangan kesabaran dalam belajar. Mereka lebih tertarik pada hasil cepat daripada proses. Akibatnya, budaya membaca menurun, daya tahan belajar menurun, dan keinginan untuk belajar lebih banyak tentang agama mulai menurun.

BACA JUGA:  Abdya Raih Penghargaan Kepatuhan Pelayanan Publik 2024

Akibatnya, nilai kesabaran dalam belajar harus dihidupkan kembali dalam pendidikan Islam. Guru harus mengajarkan siswa bahwa ilmu adalah perjalanan panjang. Menghafal satu hadis setiap minggu lebih baik daripada tidak menghafal sama sekali, membaca satu halaman setiap hari lebih baik daripada tidak membaca sama sekali. Ilmu akan berkembang menjadi kekuatan besar yang akan membentuk masa depan.
Pepatah ini juga menunjukkan betapa pentingnya optimisme dalam pendidikan. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka menyerah terlalu cepat. Putus asa adalah sikap yang tidak dianjurkan dalam Islam. Allah SWT mengajarkan manusia untuk berusaha dan bersabar terus menerus. Pendidikan Islam harus dapat membangun mental yang tangguh pada siswa agar mereka tidak mudah menyerah saat menghadapi tantangan. Siswa yang gagal dalam pelajaran tidak selalu berarti bodoh. Kemampuan itu dapat ditingkatkan melalui latihan teratur. Tidak mungkin bagi seorang santri untuk menjadi ahli membaca Al-Qur’an jika mereka tidak dapat membacanya dengan lancar. Setiap kemajuan membutuhkan waktu. Yang terpenting adalah terus belajar.

Membangun budaya literasi tidak memerlukan langkah besar. Langkah sederhana yang dapat Anda ambil untuk mengubah dunia di masa depan dapat mencakup membaca beberapa halaman setiap hari, menulis catatan kecil setelah melakukan penelitian, atau berbicara tentang ilmu secara teratur. Budaya ini harus ditanamkan di sekolah, madrasah, dan pesantren sejak dini. Jika ini terjadi, generasi Islam akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berwawasan luas.
Pepatah ini menunjukkan betapa pentingnya pembiasaan dari sudut pandang pendidikan karakter. Kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali membentuk karakter manusia. Anak-anak yang dibesarkan dengan kebiasaan salat berjamaah dan berkata jujur akan tumbuh menjadi orang yang amanah. Sebaliknya, kebiasaan buruk yang dibiarkan secara bertahap juga dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan.

Selain itu, pepatah ini mengingatkan kita bahwa kemunduran moral negara tidak terjadi secara tiba-tiba. Ketika prinsip agama diabaikan, kerusakan akhlak muncul secara bertahap. Jika sedikit ketidakjujuran dibiarkan, itu akan berkembang menjadi korupsi yang besar, dan sedikit kemalasan akan menghasilkan generasi yang tidak produktif. Oleh karena itu, pendidikan Islam memiliki peran penting dalam menjaga moral masyarakat melalui pembinaan yang berkelanjutan.
Pendidikan Islam harus berfungsi sebagai benteng peradaban di tengah kesulitan zaman. Meskipun teknologi berkembang dengan cepat, ajaran Islam harus tetap menjadi dasar. Orang-orang muda harus dididik bukan hanya dengan pengetahuan tetapi juga dengan moralitas, spiritualitas, dan moralitas. Semuanya dibangun melalui pendidikan yang berkelanjutan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *