JAKARTA – Seorang sopir ambulans, Rein (37), yang sedang dalam perjalanan mengantar pasien korban kecelakaan di Pademangan, Jakarta Utara, memberikan klarifikasi mengenai insiden pertengkaran dengan sopir truk yang diduga menghalangi jalan ambulans.
Rein menjelaskan bahwa saat itu ia tengah melaksanakan tugas yang sangat krusial, yaitu menjemput pasien yang sedang dalam kondisi darurat dan membutuhkan penanganan segera.
“Kami sedang menjemput korban kecelakaan atau pasien di tengah jalan. Pasien mengalami kesulitan bernapas dan gejala asam lambung naik. Kami melakukan evakuasi di Jalan Lodan Raya,” ujar Rein saat dihubungi oleh wartawan, Kamis (8/6/2023).
Saat itu, kendaraan truk tidak mengalihkan jalur untuk memberikan jalan kepada ambulans. Rein juga mengklaim telah menggunakan sirene dan menyala-nyalakan lampu sebagai tanda agar kendaraan lain memberi jalan. Namun, dia menjelaskan bahwa truk tersebut menabrak ambulans, yang mengakibatkan kerusakan pada beberapa bagian kendaraan tersebut. Rein menambahkan bahwa insiden tersebut mengganggu upaya mereka dalam memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan perhatian segera.
“Saat itu, truk tersebut mepet ke kanan saya dan menabrak ambulans saya. Spion sebelah kiri dan tulangan bagian pintu mengalami kerusakan. Spionnya patah dan tulangan pintunya sedikit masuk ke dalam,” paparnya.
Setelah kejadian tersebut, Rein dengan sigap keluar dari ambulans untuk menghadapi sopir truk dan meminta pertanggungjawaban atas insiden yang terjadi. Namun, Rein mengungkapkan bahwa sopir truk tersebut tidak menunjukkan sikap yang kooperatif dalam menghadapinya. Rein mencoba untuk berkomunikasi secara baik, namun ia merasa tidak mendapatkan kerjasama yang diharapkan dari pihak sopir truk dalam menangani masalah tersebut.
“Saya turun hanya untuk meminta pertanggungjawaban dari sopir tersebut. Awalnya saya bertanya dengan baik, tetapi sopir truk tersebut tidak kooperatif. Terkait dengan tuduhan pemukulan, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak melakukan pemukulan. Saya hanya mencoba menyentuhnya, mungkin karena tangan saya besar, jadi terkesan seperti pemukulan,” jelasnya.
Rein kemudian mengambil ponsel sopir truk untuk mencari tahu identitasnya selain itu, dia juga ingin memegang ponsel tersebut sebagai jaminan agar sopir truk dapat bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi pada ambulans.
Rein menekankan bahwa tindakan ini dilakukan dengan maksud baik, untuk menjaga keadilan dan memastikan bahwa kerugian yang timbul akibat insiden tersebut dapat ditanggung dengan semestinya oleh pihak yang bertanggung jawab.
“Saya masih memiliki ponselnya sebagai jaminan. Sejak awal saya mengambil ponsel, saya sudah mengatakan kepada sopir truk bahwa ponsel itu akan dijadikan jaminan dan saya menunggu di RSUD Pademangan,” tambahnya.
Hingga saat ini, sopir truk yang terlibat dalam insiden tersebut belum menghubungi Rein untuk mengambil kembali ponselnya dan bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Rein tetap memegang ponsel tersebut sebagai bukti dan jaminan atas peristiwa yang terjadi. Dia menekankan pentingnya sopir truk mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik dan bertanggung jawab atas kerusakan yang dialami ambulans.
Ia juga berharap agar sopir truk segera menghubunginya dan menunjukkan komitmen untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi demi kebaikan dan keamanan bersama.














