Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Soal Penguburan Beras di Depok, Polisi Masih Selidiki

IMG 20220803 122119
Kondisi Beras Yang Ditimbun di Depok. (Foto: CNNIndonesia)

DEPOK – Polda Metro Jaya mengecek lokasi beras bansos yang dikubur di tanah lapang Sukmajaya, Kota Depok. Polda Metro masih menyelidiki apakah beras dikubur merupakan beras rusak atau penimbunan.

“Permasalahannya adalah, itu adalah beras penimbunan atau beras rusak, dan lain sebagainya, itu kami masih melakukan proses penyelidikan. Jadi saya belum bisa menyampaikan beras itu beras apa. Nanti mungkin update hasil penyelidikan akan kami sampaikan,” kata Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Auliansyah Lubis kepada wartawan di sekitar lokasi penguburan beras, Rabu (3/8/2022).

Sejumlah orang telah diperiksa terkait penemuan beras terkubur tersebut. Berdasarkan keterangan dari JNE, polisi menyampaikan beras yang dikubur sebanyak 3,4 ton.

“Hasil sementara yang kami dapat dari keterangan JNE itu 3,4 ton,” ungkapnya.

Auliansyah belum menyebutkan ada berapa orang yang telah diperiksa. Dia mengatakan, akan menyampaikan perkembangan dari hasil penyelidikan kasus ini.

“Kami masih meminta keterangan, mulai dari hilir ke hulu. Yang pasti nanti akan kita rangkai apa yang terjadi sebenarnya. Tapi yang terjadi hari ini, saya belum bisa memberi keterangan. Jadi saya minta waktu, mungkin nanti akan kita update,” tuturnya.

Auliansyah juga belum bisa memastikan apakah yang dikubur di sana hanya beras saja, atau ada bahan pokok yang lainnya.

“Kita juga akan meminta ahli supaya tidak ada permasalahan yang timbul di kemudian hari. Apakah itu hanya beras, atau ada yang lain, saya belum bisa jawab sekarang,” tutur Auliansyah.

Sebelumnya, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kemenko PMK Andie Megantara menjelaskan, beras yang dikubur dalam keadaan rusak dan sudah tidak layak dikonsumsi. Beras tersebut disebutnya rusak dalam perjalanan menuju keluarga penerima manfaat (KPM).

BACA JUGA:  Alasan Rinci Saiful Anwar Hentikan Operasi AMP PT. ALS di Desa Serafon

“Yang kondisinya pada saat ditimbun sudah tidak layak konsumsi karena beras rusak dalam perjalanan menuju ke keluarga penerima manfaat (KPM),” kata Andie.

Andi melanjutkan, dari informasi yang diperoleh dari Polres Kota Depok dan pihak transporter JNE, diketahui beras yang dikubur itu merupakan beras Bantuan Khusus Presiden (Banpres) yang diberikan pada saat pandemi 2020.

Beras itu disalurkan oleh Bulog melalui transporter JNE dengan kemasan 20 kg dan 5 kg. Andie mengungkapkan, pihak JNE juga telah mengganti beras rusak dengan beras yang baru dengan kualitas sama untuk kemudian disalurkan pada KPM.

“Beras yang ditemukan tersebut kemungkinan berasal dari penyaluran Banpres tahap II dan IV tahun 2020. Diketahui, pada 2020 pemerintah membagikan Bantuan Presiden berupa beras 25 kg pada tahap II dan IV untuk 1,9 juta KPM di wilayah Jabotabek,” jelas Andie.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal awalnya menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan pihak ketiga sebagai transporter untuk mengantarkan beras kepada warga penerima manfaat.

“Dalam program tersebut tidak ada warga yang dirugikan, mengingat hasil evaluasi dan monitor yang dilakukan Bulog, termasuk peran pengantarnya pada saat itu berjalan baik sebagai mana mestinya,” kata Iqbal dalam keterangan tertulis, Selasa (2/8/2022).

Dia mengatakan warga penerima beras bantuan presiden telah menerima beras dalam kondisi baik. Menurutnya, beras itu merupakan program bantuan presiden periode Mei-Juni 2020 yang ditujukan kepada sekitar 3 juta warga yang terkena dampak pandemi COVID-19.

Iqbal mengatakan pengeluaran beras dari gudang selalu dicatat dan dicek kualitasnya. Dia mengatakan pembagian peran antara Bulog sebagai penyedia beras dan pihak ketiga sebagai pengantar juga sudah jelas.

BACA JUGA:  Dirreskrimsus Polda Aceh Sahur Bersama Anak Yatim di Panti Asuhan

“Semuanya tercatat jelas. Setiap pengeluaran beras dari gudang ada dokumen serah terima barang yang menyebutkan beras diterima dalam kondisi baik, dan selanjutnya penyaluran beras tersebut menjadi tanggungjawab pihak transporter. Memang dalam proses pengangkutan terbuka kemungkinan terjadi gangguan-gangguan cuaca seperti hujan, kemasan pecah dan lainnya,” kata Iqbal.

Dia mengatakan Bulog saat itu menggandeng pihak ketiga untuk mempercepat penyaluran beras bantuan presiden kepada warga terdampak COVID-19. Dia menyebut kerja sama itu ditujukan agar warga bisa menerima langsung beras di rumah.

“Kerja sama ini bertujuan agar warga terkena dampak pandemi COVID-19 tetap tenang dan bisa melanjutkan aktivitas di rumah walau secara terbatas,” Iqbal.

Iqbal kemudian menjelaskan kronologi temuan beras yang rusak. Dia mengatakan pada periode Mei-Juni 2020, pihak pengantar akan mengirimkan beras kepada warga penerima bantuan beras presiden.

Namun, katanya, ada kendala yang mengakibatkan beras tersebut mengalami kerusakan dalam perjalanan. Iqbal mengatakan pihak ketiga segera menghubungi Bulog untuk membeli beras pengganti agar segera diantar kepada warga penerima.

Dia mengatakan pihak ketiga sudah menggantinya dengan beras berkualitas baik dan diterima juga oleh warga penerima manfaat. Sementara itu, beras yang rusak tersebut menjadi tanggung jawab pihak ketiga dan bukan tanggung jawab Bulog.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *