BREBES – Sebuah video berisi aksi debus yang diklaim dilakukan oleh relawan SPPG di Desa Kubangsari, Kecamatan Ketanggungan, Brebes, sempat viral di media sosial. Terkait hal tersebut, pihak SPPG memberikan klarifikasi dan penjelasan lengkap.
Video yang diunggah akun Instagram updatebrebes itu memperlihatkan seorang pria mengenakan kaos biru khas SPPG berdiri di atas mobil, memecahkan kaca bekas lampu tabung (neon), dan memakannya. Pengunggah juga menyertakan narasi bernada negatif serta musik berjudul Mas Bahlil Ganteng (MBG).
Narasi yang disertakan dalam video tersebut antara lain:
1. “Naik ke atas mobil lalu pecahkan dan makan lampu neon, maksudnya apa yah?”
2. “Pamer kekuatan atau nantang rakyat yang kritik MBG?”
3. “Fokus kerja bae mas ora usah kakehen tingkah.”
Dikonfirmasi awak media, Mitra SPPG Kubangsari, Umar, membenarkan bahwa orang dalam video tersebut adalah karyawannya. Namun ia menegaskan bahwa video yang beredar telah dipotong, diedit, dan diberi narasi yang menimbulkan kesalahpahaman.
“Itu memang relawan SPPG di sini, tapi aslinya tidak seperti yang disajikan. Video yang viral sudah dipotong, diedit, lalu diberi narasi negatif yang bisa memicu kebencian,” ujar Umar, Kamis (11/6).
Video asli diambil oleh Dheny Siswanto, Asisten Lapangan SPPG Kubangsari, dan diunggah melalui akun resmi SPPG jauh sebelum perayaan Idul Adha. Menurut Dheny, durasi video asli mencapai 58 detik dan menggunakan musik tarling khas Pantura, bukan lagu yang ada di video viral.
Pria yang tampil dalam video bernama Alfajar, akrab disapa Yayang, yang bertugas di bagian distribusi makanan. Sebelum bergabung dengan SPPG, ia memang bekerja sebagai pemain debus dan pesulap keliling.
“Dia asli warga sini. Dulu memang berprofesi sebagai pemain debus dan sulap keliling, tapi sudah berhenti sejak menjadi relawan,” jelas Dheny.
Ia menjelaskan bahwa video asli tidak hanya berisi adegan debus, tetapi juga atraksi sulap di mana Yayang menyulap wadah ompreng kosong menjadi berisi makanan. Aksi tersebut dilakukan semata-mata sebagai hiburan bagi sesama relawan usai selesai melakukan pendistribusian bantuan ke sejumlah sekolah.
“Bagian sulapnya justru dipotong, lalu diganti musik dan diberi narasi yang menyudutkan. Padahal tujuannya hanya hiburan setelah bekerja, bukan untuk menakut-nakuti atau menantang siapa pun,” tegas Dheny.
Pihak SPPG pun menyayangkan beredarnya video yang sudah diedit tersebut dan berharap masyarakat dapat memahami konteks asli kejadian agar tidak terpecah belah akibat informasi yang tidak utuh.














