Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Tari Rabbani Wahed Dari Tanah Samalanga Bireuen Kembali Dipopulerkan, Ini Harapan Disbudpar Aceh

rabbani wahid
Personel Satu Grup Rabbani Wahed Sanggar Selanga Gampong Sangso Samalanga. (Foto: Istimewa).

BANDA ACEHProvinsi Aceh merupakan wilayah di Indonesia yang berada di ujung bagian barat Pulau Sumatera. Aceh memiliki beragam kebudayaan, adat istiadat, dan bahasa daerah yang berbeda-beda.

Salah satu kesenian yang masih hidup dan berkembang hingga hari ini adalah Tari Rabbani Wahed, yaitu tari yang berasal pesisir Aceh yang dikembangkan pada tahun 1989 oleh T.M. Daud Gade di desa Sangso, Samalanga, Kabupaten Bireuen.

Nama Rabbani Wahed dalam tari ini adalah istilah yang dibuat oleh T.M. Daud Gade berdasarkan syair yang dibacakan dalam tradisi Meugrob yang telah lama eksis dan berkembang di wilayah Samalanga dan sekitarnya.

Rabbani Wahid
Personel Satu Grup Rabbani Wahed Pante Rheng Samalanga, Bireuen Sedang Mengikuti Latihan Rutin. (Foto: Istimewa).

Pegiat sekaligus pelatih Tari Rabbani Wahed, M Kasem Ahmad yang akrab dipanggil Syekh Kasem mengatakan, tarian itu mulai diajarkan setelah dirinya mengikuti event Festival Istiqal di Jakarta pada tahun 1991 silam.

“Sebelum mengikuti festival itu, saya juga telah melakukan kesenian ini di meunasah-meunasah, tempat kesenian, di acara hari besar islam dan 17 Agustus,” kata Syekh Kasem kepada media ini, Sabtu (15/4/2023).

Pria asli Bireuen itu menjelaskan, Rabbani Wahed diartikan sebagai Allah sang rabbi yang satu dan menggambarkan identitas dari tari ini yang syair-syairnya berisikan puji-pujian kepada Allah dan Rasulullah, nasehat-nasehat dan cerita-cerita yang semuanya bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Syair yang dibacakan dalam tari Rabbani Wahid kebanyakan berasal dari Meugrob yang berasal dari Syeikh Muhammad Saman.

“Jadi gerak-gerak saja yang sekarang dikolaborasikan supaya lebih terbaru. Perubahan pada gerak itu kembali diadakan juga membahas cara majukan semangat kepada kaum muda,” ucapnya.

BACA JUGA:  SMK Karya Beringin Kembali Membuka Pendaftaran: Pilihan Tepat untuk Masa Depan Cerah

Pada tahun 2022 lalu, kata Syekh Kasem, Disbudpar Aceh menggelar pelatihan kesenian secara umum tradisi Aceh, merupakan kegiatan perdana Disbudpar yang berbasis praktik langsung dengan segmen khusus alat musik.

“Baru pertama kali ini, kita mengambil pelatihan khusus alat musik itu dan mengundang narasumber kompeten, mahir dan memang berkecimpung di bidang itu dan peserta itu langsung diajak praktik,” terangnya.

Hal itu, lanjut Syekh Kasem, agar mereka bisa mempelajari dan mencintai kesenian tradisi Aceh, dan diharapkan mereka mampu mewariskannya dengan baik, apalagi selama pelatihan itu mereka menerima transfer pengetahuan dari narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing.

“Kami berharap mereka bisa mewariskan ilmu itu dengan baik, selanjutnya bisa menjadi penerus bagi warisan seni itu sendiri, kita ajak mereka untuk bisa menjaga seni tradisi Aceh,”tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, melalui Kepala Bidang (Kabid) Bahasa dan Seni, Nurlaila Hamjah, S.S0s, M.M, mengatakan, Disbudpar Aceh membuka ruang dan kesempatan bagi anak-anak milenial dari siswa sekolah umum, madrasah aliyah dan pesantren untuk mempelajari dan belajar senisi tradisi, termasuk seni tari rabbani wahed.

“Ini untuk pembinaan, pelestarian, pengembangan, serta upaya kita bersama untuk diseminasi alat musik tiup serune kale, gendrang dan tarian rabbani wahed agar semakin dikenal dan dicintai masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA:  Polda Aceh Salurkan Bantuan Kadiv Propam ke Aceh Tengah Untuk Penanganan Bencana

Nurlaila Hamjah berharap para pelajar yang mempelajari alat music tradisional dan seni tradisi itu nanti bisa berkontribusi lebih banyak dalam berbagai event, tampil dipangung pertunjukan dan melatih kader-kader potensial untuk menjadi penerus yang akan mengembangkan seni dan tari tradisi.

Lanjut Nurlaila, apresiasi dunia luar terhadap seni budaya Aceh semakin meningkat, oleh karena itu perlu terus dipertahankan oleh pelaku budaya, agar dapat selalu mengembangkan karya dan bangga dengan kebudayaannya.

“Sebagai bentuk dukungan agar budaya Aceh tetap eksis, Disbupar Aceh terus memberikan dukungan kepada pelaku budaya dengan melaksanakan festival, perlombaan dan ajang pertunjukan. Terlebih lagi salah satu even yang paling bergensi telah ada di depan mata kita yakni PKA-8 yang akan digelar pada Agustus mendatang, maka generasi muda dapat ikut serta dalam berbagai perlombaan seni dan budaya,” ujar Nurlaila.

Disbudpar mengajak anak muda agar menjadikan seni tradisi ini sebagai salah satu pengembangan bakat seni di era digitalisasi. Kemudian pihaknya juga mengarahkan anak-anak itu untuk menggali potensi berkesenian.

Selain itu, diharapkan peserta bisa mentransfer pengetahuan mereka kepada rekan-rekan lainnya di sekolah, dan lingkungannya.

“Kami juga ingin membangun kepedulian anak-anak sekolah dan sanggar untuk menyukai seni tradisi Aceh ini,” pungkasnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *