Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Cuaca Panas di Arab Saudi, Dinkes Aceh: Ini Yang Harus Diperhatikan Jemaah Haji

Jamaah Haji
Sub Koodinator Surveilans dan Imunisasi, Dinkes Aceh, Cut Efri Maizar, SKM, MKM. (Foto: hariandaerah.com/Herlin).

BANDA ACEHArab Saudi saat ini sedang memasuki musim panas dengan suhu di atas 40 derajat Celsius. Meski puncak musim panas jatuh pada Juli-Agustus 2023, namun kondisi Arab Saudi saat ini, khususnya Madinah, terbilang terik. Dihimbau kepada Jamaah haji asal Indonesia khususnya provinsi Aceh tetap menjaga kesehatan dalam melaksanakan ibadah haji.

Hal tersebut, disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh melalui Kabid Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, M Imran, yang disampaikan Sub Koodinator Surveilans dan Imunisasi, Dinkes Aceh, Cut Efri Maizar, SKM, MKM, kepada hariandaerah.com, saat dikonfirmasi via WhatsApp, Minggu (11/6/2023).

“Di Indonesia paling panas 33-35 derajat celsius dengan kelembaban di atas 60 persen saja. Sementara di Arab Saudi kelembabannya kering, di bawah 50 persen,” kata Cut Efri.

Tingkat kelembaban itu, Cut Efri menyebutkan, bisa membuat jamaah haji tidak berkeringat meski panas menyengat. Padahal, keringat itu mekanisme untuk pertahanan tubuh melawan panas, dengan membuat permukaan kulit menjadi lebih dingin.

Sementara, dampak cuaca panas ini terhadap kesehatan, menurut Cut Efri terdapat tiga penyakit yang bisa mengiringi.

Pertama, infeksi saluran pernapasan atau ISPA ditandai dengan batuk.

Infeksi yang terjadi di saluran pernapasan, baik saluran pernapasan atas maupun bawah. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala batuk, pilek, dan demam. ISPA sangat mudah menular dan dapat dialami oleh siapa saja, terutama anak-anak dan lansia.

Sesuai dengan namanya, ISPA menimbulkan peradangan di saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Pada sebagian besar kasus, ISPA disebabkan oleh virus dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus.

Kedua, dehidrasi, kondisi ini cukup serius sebab cuaca kering ini membuat orang yang beraktivitas di luar ruangan tidak gampang haus karena lambatnya penguapan.

Dehidrasi adalah kondisi ketika cairan tubuh yang hilang lebih banyak daripada yang dikonsumsi. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh tidak berfungsi secara normal.

Tubuh memiliki kandungan air sebanyak 55–80% dari total berat badan. Air dalam tubuh berperan untuk membantu kerja sistem pencernaan, mengeluarkan kotoran dan racun dari dalam tubuh, menjaga suhu tubuh, serta melumasi sendi.

Ketiga,  heat stroke. Bila sudah heat stroke penanganannya harus di rumah sakit.

Heat Stroke merupakan kondisi paling berat pada tubuh akibat cuaca panas karena tubuh tidak dapat mengontrol suhu badan.

Suhu badan meningkat dengan cepat hingga 41° C dalam 10 sampai 15 menit dan tubuh sudah tidak dapat mengeluarkan keringat.Heat Stroke dapat memperberat kondisi orang yang sedang sakit dan menyebabkan kematian.

“Di Arab Saudi penguapan lambat jadi tidak gampang haus, Karena itu  jamaah haji harus minum 200 mililiter per jam. Namun tidak diminum sekaligus, melainkan minum 1-2 teguk tiap berapa menit,” katanya.

Cara mengurangi dampak negatif pada musim panas ini, pihaknya menghimbau jamaah untuk menggunakan payung, masker, dan membawa spray air untuk wajah.

“Jadi bila panas, tinggal menyemprotkan air ke wajah dan kulit yang terpapar sinar matahari,” tuturnya.

Hal ini bisa mengurangi dampak negatif panas. Bila menemukan orang yang kepanasan, bawa orang tersebut ke tempat teduh. Kemudian gunakan sprai berisi air dingin untuk mencegah heat stroke.

“Bawa ke tempat teduh, siram pakai air dingin selama 30 menit,” ucap Cut Efri.

Bila terjadi kedaruratan, lanjut Cut Efri, maka jamaah haji bisa langsung menghubungi KKIH dengan mengoptimalkan aplikasi tele jamaah, Dalam aplikasi tersebut ada kolom panic button yang bisa dimanfaatkan jamaah haji saat membutuhkan pertolongan kesehatan.

BACA JUGA:  PJ Bupati Aceh Selatan Akan Segera Dilantik

Jemaah Harus Selalu Membawa Kartu Kesehatan Jemaah Haji (KKJH)

Jemaah juga disarankan untuk selalu dan terus membawa kartu kesehatan jemaah haji ini, terutama saat beribadah, agar memudahkan petugas bila sewaktu membutuhkan pelayanan kesehatan.

Kartu kesehatan jemaah haji (KKJH) merupakan kartu identitas bagi jemaah haji yang memuat informasi Kesehatan seperti rekam medis, vaksinasi, dan riwayat pembinaan kesehatan jemaah haji.

Didalam kartu ini dilengkapi barcode dan QR code yang bisa digunakan bagi tenaga kesehatan untuk mengakses informasi kesehatan dari jemaah haji sesuai nomor porsi melalui aplikasi tele-petugas.

KKJH memiliki 2 kelompok warna yaitu oranye dan putih. Jemaah haji dengan KKJH warna oranye merupakan jemaah haji yang masuk dalam status kesehatan risiko tinggi. Sedangkan jemaah yang masuk dalam kategori putih masuk dalam status kesehatan tidak berisiko.

Status kesehatan risiko tinggi ditetapkan bagi jemaah haji dengan kriteria yaitu berusia 60 tahun atau lebih; dan/atau memiliki faktor risiko kesehatan dan gangguan kesehatan yang potensial menyebabkan keterbatasan.

KKJH sangat memudahkan bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan bagi jemaah haji. Harapannya kesehatan dari jemaah haji lebih terjaga sehingga ibadanya dapat berjalan lancar.

Setiap jemaah haji disarankan untuk selalu membawa KKJH terutama saat meninggalkan pondokan. Hal ini dilakukan supaya memudahkan petugas kesehatan mengakses informasi kesehatan jemaah dari scan barcode yang tercantum dalam KKJH.

Jemaah Haji Lansia Diimbau Hindari Aktivitas di Luar Ruangan

Dalam kesempatan tersebut, Cut Efri juga mengimbau kepada jamaah haji lanjut usia (lansia) untuk menghindari aktivitas di luar ruangan selama di tanah Suci. Menurut Cut Efri, langkah ini merupakan upaya untuk menjaga kesehatan para jemaah lansia.

“Pemerintah mengimbau kepada para jemaah khususnya para lansia untuk senantiasa tetap menjaga kesehatan dan menghindari aktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Kemudian pihaknya mengingatkan, bahwa saat Ini kondisi cuaca di Madinah sedang dalam kondisi panas, dengan suhu mencapai sekitar 39 derajat Celcius. Dirinya meminta agar jemaah lansia tidak memaksakan diri melakukan ibadah Arbain di Masjid Nabawi.

“Bagi jemaah lansia mohon jangan memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah sunnah. Jangan memaksakan diri jika kondisi fisiknya tidak memungkinkan untuk ikut shalat berjamaah di Masjid Nabawi,” tuturnya.

Ibadah bagi para lansia, lanjutnya, dapat dilakukan di dalam pemondokan untuk menghindari kelelahan.

“Jemaah juga bisa menunaikan shalatnya di pemondokan guna menghindari kelelahan,” tambahnya.

Kemudian Jamaah harus tetap menjaga kesehatan dalam melaksanakan ibadah maka dari itu Ada beberapa faktor yang harus dilakukan oleh jamaah haji dalam menjaga kesehatan antara lain:

  • Kebutuhan obat-obatan terkait penyakit yang diderita Jemaah
  • Kelengkapan seperti alas kaki yang nyaman digunakan untuk berjalan jauh
  • Botol air minum yang bisa di si ulang
  • Membawa makanan kecil, seperti buah atau biscuit
  • Masker

Kemudian, kata Cut Efri, terkait adanya perbedaan yang sangat signifikan antara cuaca di Indonesia dan cuaca yang ada di tanah Suci Mekkah, membuat seluruh jemaah haji yang ada di Indonesia harus melewati serangkaian pemeriksaan kesehatan sebelum benar-benar dinyatakan siap dan mampu untuk menjalankan perjalanan dan ibadah haji di Tanah Suci Mekkah.

BACA JUGA:  Kejanggalan Pengambilan Besi Jembatan, Surat Dinas PUPR Simeulue Dipertanyakan

“Saat masa penyesuaian diri dengan kondisi cuaca di tanah Suci, masyarakat juga harus melakukan beberapa hal untuk menghindari atau meminimalisir adanya potensi paparan penyakit dan pingsan saat melakukan prosesi ibadah haji. Ada beberapa tips dalam menjaga kesehatan selama menjelankan ibadah haji,” tuturnya.

Tips Menjaga Kesehatan Selama Menjalankan Ibadah Haji

  • Tidak memaksa ibadah, namun menyesuaikan sesui dengan kemampuan Jemaah masing-masing
  • Istirahat yang cukup
  • Fokus dengan Ibadah wajib
  • Makan dan minum yang cukup dan teratur
  • Konsumsi vitamin tambahan sesuai kebutuhan
  • Memanfaatkan tim TKHI untuk konsultasi terkait masalah kesehatan jika terjadi dan kebutuhan obat-obatan
  • Menggunakan masker saat berada di keramaian

Dalam kesempatan itu, Cut Efri juga menghimbau  kepada seluruh jemaah haji asal Indonesia khususnya Provinsi Aceh, harus mewaspadai suhu panas di Madinah. Jemaah haji harus menyiapkan perlindungan tambahan agar tetap bisa beribadah dengan sempurna di tengah cuaca panas di Madinah.

“Jemaah harus waspadai cuaca panas di Madinah. Panas di Madinah akan terasa lebih menyengat namun tubuh tidak berkeringat. Hal ini bisa menyebabkan masalah kesehatan yang bisa menghambat jemaah untuk menjalankan ibadah,” imbaunya.

Kemudian jemaah haji janngan memaksakan diri untuk berjalan kaki tanpa alas kaki. Dengan suhu Madinah seperti saat ini, berjalan tanpa alas kaki sejauh minimal 10 meter, sudah bisa mengakibatkan kaki melepuh.

“Banyak jemaah kita yang masih membawa kebiasaan di tanah air yaitu meninggalkan sandal di depan masjid. Di Masjid Nabawai besar kemungkinan akan hilang karena banyaknya jemaah. Bisa juga jemaah keluar dari masjid dengan pintu yang berbeda sehingga tidak menemukan sandalnya,” tuturnya.

Kondisi kaki melepuh ini memerlukan penanganan lebih lanjut dan bisa membuat ibadah terhambat.

“Jemaah dengan kaki melepuh bisa dirawat di KKHI selama kurang lebih 10 hari sehingga tertinggal rangkaian ibadahnya. Belum lagi jika pasien memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus yang menyebabkan penyembuhan bisa mencapai 2 minggu,” imbuhnya.

Untuk mengatasi kaki melepuh, lanjutnya, jemaah haji di imbau agar membawa kantung untuk tempat sandal saat hendak salat di Masjid Nabawi. Selama di dalam masjid sandal bisa disimpan di kantung dan dibawa sendiri-sendiri.

Jemaah disarankan untuk membawa sendiri sandalnya dan tidak menitipkan kepada temannya karena ada risiko terpisah dari rombongannya. Bila jemaah kehilangan sendal pada saat matahari masih terik, diimbau juga untuk tetap berada di masjid.

“Supaya tidak terjadi kasus kaki melepuh, sandal disimpan di dalam kantung dan dibawa masuk ke masjid. Jemaah harus membawa sendiri dan jangan dititipkan temannya karena ada kemungkinan untuk terpisah dari rombongan,” ungkapnya.

Dengan melakukan pencegahan yang cukup, diharapkan jemaah haji dapat terhindar dari masalah kesehatan karena suhu panas dan beribadah dengan lancar. Jika jemaah haji memiliki masalah kesehatan, diimbau untuk segera berkonsultasi dengan tenaga Kesehatan di kloter masing-masing.

“Kami harapkan kepada jamaah haji jangan mamaksakan ibadah di luar kemampuan jamaah, istirahat, makan dan minum yang cukup untuk persiapan ibadah utama haji. Jika ada kendala atau masalah dengan kesehatan untuk segera berkonsultasi dengan petugas Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Kloter masing-masing,” pungkasnya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *