SIMEULUE – Puluhan tahun kabupaten Simeulue merasakan gangguan dari hewan ternak yang turun temurun dibiarkan berkeliaran yang mengakibatkan hewan-hewan itu merusak kebun warga di kepulauan tersebut, terutama kerbau liar yang tidak dipelihara oleh pemiliknya
Peristiwa serupa kembali dialami seorang Pensiunan Perwira Polri di Desa Malasin Kecamatan Simeulue Barat.Kebun miliknya seluas 2 hektar yang telah ditanami berbagaimacam tanaman habis diacak-acak hewan ternak yang tidak diketahui pemiliknya.
“Seluruh kebun saya hancur diacak sekelompok kerbau ,saya tidak mengetahui pemilik kerbau ini,” kata D.Harefa, Senin (13/10/2025).
Dia mengaku telah melaporkan hal tersebut kepada Pj Kepala Desa setempat dan tim telah turun untuk melihat kondisi kebunnya.
“Ya benar pak kondisi kebun tersebut telah kita investigasi kebenarannya ,seluruh tanaman didalam habis dimakan sekelompok kerbau Liar tanpa tersisa .Kerbau yang masuk dikebun itu bukan hanya satu dua ekor ,tapi sekelompok tak terhitung ,sehingga kami dari Pihak Desa kewalahan dalam mengambil kebijakan terkait hal ini.Pasalnya ,tidak kita ketahui pemilik Hewan yang mana yang merusak kebun tersebut,” ungkapnya
Menurut Pj Kepala Desa Malasin, Ajis tim dari desa telah turun memastikan kondisi kebun milik D.harefa dan melihat seluruh tanaman habis dimakan kerbau tanpa tersisa
“Memang benar ada kebun Pak Harefa yang terletak di desa Malasin pinggir laut. Kerbau yang masuk di kebun milik D.harefa bukan hanya satu dua ekor tapi berkelompok ,kita tak tau bagaimana menyikapinya sebab ,tidak diketahui pemilk kerbau itu, ” kata Ajis.
Kata Pj Kades, Peristiwa serupa bukan kali ini aja dan bukan hanya kebun D.harefa saja tapi warga yang memiliki kebun juga mengalami hal.yang sama.
“Dulu gitu juga ratusan batang kelapa dimakan kerbau ,walaupun sudah dipagar, namanya kerbau pagar besi (kawat berduri) aja di terobos mereka,”tambahnya.
“Ya kami upayakan untuk memediasi, namun kami tidak mengetahui pemilik kerbau itu. Kebun pak Harefa itu diketahui sudah jadi padang hewan liar itu ,tempat tidur mereka tiap malam karna pinggir laut,” kata Ajis lagi.
D Harefa menjelaskan, kerugian yang dialami berupa tanaman yang rusak akibat dimakan Hewan ternak liar tersebut, berupa:
Kelapa Hibrida sebanyak 250 batang , Pisang 350 batang, Durian Mu Sangking 4 batang, Ubi Kayu dan tanaman lainnya.
Kata Harefa, akibat kerusakan kebunnya tersebut diperkirakan mengalami kerugian hingga R100 juta ,mulai dari bibit ,harga pupuk ,pagar hingga upak kerja.
Ia meminta pemilik hewan ternak itu bertanggung jawab atas kerugian yang dialaminya.
“Saya menunggu respon dan itikad baik atas kesadaran sendiri bagi seluruh pemilik ternak jika tidak saya akan menempuh jalur hukum yang ada untuk itu,” tutup Harefa.














