TANGERANG,– Dalam forum Pertemuan Tim Gerakan Penyelamatan Ibu dan Bayi Baru Lahir yang berlangsung di Hotel Vega Gading Serpong pada Rabu (26/11). Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, dr. Hendra Tarmizi, menyampaikan pemaparan komprehensif mengenai tantangan yang masih ditemukan dalam penanganan kesehatan ibu.
Hendra, berbicara di hadapan jajaran Puskesmas, klinik, bidan, dan rumah sakit, menjelaskan bahwa eklampsia menjadi penyebab kematian ibu paling dominan sepanjang 2025.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar kasus berujung fatal karena keterlambatan penanganan sejak tahap awal, baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun saat rujukan.
“Banyak ibu hamil datang dalam kondisi sudah mengalami kejang. Kondisi ini menunjukkan bahwa hipertensi tidak terdeteksi atau tidak distabilkan pada fase awal. Ketika pasien masuk fase eklampsia, setiap detik berarti. Kita tidak boleh kehilangan waktu,” tegas Hendra.
Ia memaparkan bahwa proses penanganan sering kali terhambat pada tiga titik kritis yang harus segera diperbaiki:
1. Deteksi Dini yang Belum Konsisten
Menurut Hendra, masih ditemukan fasilitas layanan yang belum melakukan skrining risiko kehamilan secara disiplin—mulai dari pemeriksaan tekanan darah, pembengkakan ekstremitas, hingga edukasi tanda bahaya.
“Deteksi dini itu gerbang utama. Kalau luput di sini, konsekuensinya bisa berantai,” ujarnya.
2. Keputusan Rujukan yang Terlambat
Hendra menekankan pentingnya ketegasan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan rujukan. Ia menegaskan bahwa ragu-ragu hanya menambah risiko.
“Dalam kondisi gawat darurat, tidak boleh ada keraguan. Rujukan harus cepat, tepat, dan dilakukan sebelum kondisi memburuk. Administrasi dapat menyusul, keselamatan tidak,” katanya.
3. Stabilisasi Awal yang Belum Seragam
Ia menyebut masih ada fasilitas layanan yang belum menerapkan standar penanganan awal sesuai SOP pada ibu hamil dengan gejala hipertensi berat.
“SOP bukan formalitas. SOP adalah penyelamat nyawa. Jika prosedur awal tidak dilakukan dengan benar, maka rumah sakit rujukan pun kesulitan menyelamatkan,” tambahnya.
Pesan Tegas: “Jangan Sampai Kematian Terjadi Karena Kelalaian Kita”
Dalam penutup pemaparannya, Hendra memberikan pesan tegas, mengingatkan bahwa setiap fasilitas kesehatan memegang peran signifikan dalam upaya penurunan angka kematian ibu dan bayi.
“Kita harus jujur melihat fakta di lapangan dan memperbaiki titik lemah. Jangan sampai ada kematian ibu atau bayi yang sebenarnya bisa dicegah. Ini tanggung jawab bersama, dari lini pertama hingga rumah sakit,” ucapnya.
Ia berharap melalui pertemuan ini seluruh fasilitas kesehatan dapat meningkatkan kesiapsiagaan, memperbarui prosedur kerja, dan memperkuat koordinasi agar tidak ada lagi kehilangan nyawa yang bisa dihindari. (Ar/Dy)














