BREBES – Kondisi memprihatinkan dialami oleh Abdul Latif (56), warga Desa Limbangan, Kecamatan Losari. Sudah lebih dari empat tahun, ia menempati gubuk reyot yang berdiri tepat berdampingan dengan area bekas pemakaman keluarga dan kandang hewan.
Kehidupannya semakin berat sejak dua tahun lalu ditinggal istri meninggal dunia. Kini, ia tinggal berdua bersama anak semata wayangnya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sehari-hari, Abdul Latif bekerja serabutan untuk menyambung hidup. Namun, kondisi fisik dan kesehatan yang menurun membuatnya tidak lagi mampu bekerja maksimal.
Gubuk tempat tinggalnya nyaris tanpa fasilitas layak. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu (geribik), lantainya masih tanah, dan baunya bercampur dengan kotoran hewan dari kandang di sebelahnya.
“Kalau hujan deras, air masuk semua. Atap bocor, air menetes ke tempat tidur dan perabotan. Jadi tidak bisa tidur,” keluh Abdul Latif dengan lesu, Rabu (15/4/2026).
Soal tanah yang ditempatinya, Abdul Latif mengklaim bahwa lahan tersebut adalah warisan leluhur yang dulunya difungsikan sebagai pemakaman keluarga.
“Tanah asalnya milik buyut saya, tanah pribadi untuk kuburan keluarga. Sekarang kan sudah ada pemakaman umum, jadi makam keluarga sudah dipindah,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa tanah tersebut tidak memiliki dokumen kepemilikan resmi atau sertifikat.
“Memang dari dulu tidak ada surat-suratnya. Bahkan tanah saudara saya juga ada yang dijual belikan tanpa akta resmi,” tambahnya.
Berbeda dengan klaim tersebut, Kepala Desa Limbangan, Siswo, memberikan keterangan singkat namun tegas saat dikonfirmasi.
“Tanah tersebut milik desa,” ujar Siswo melalui pesan WhatsApp.
Meski tercatat sebagai penerima bantuan sosial (Bansos) dan sudah mendapatkan pasang listrik gratis, serta pernah mendapat bantuan jambanisasi dua tahun lalu, Abdul Latif mengaku bantuan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Ia tidak memiliki penghasilan tetap, sehingga mustahil baginya memperbaiki gubuk yang sudah tidak layak huni itu.
“Untuk makan saja susah, apalagi memperbaiki rumah. Mandi dan cuci pun saya masih numpang di rumah saudara,” ungkapnya.
Kini, satu harapan besar tersemat di hatinya. Ia sangat berharap mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Brebes melalui program Rumah Layak Huni atau gerakan “Mberesi Umah” yang digaungkan oleh pemerintahan Bupati Paramitha Widya Kusuma dan Wakil Bupati Wurja, agar ia dan anaknya bisa tidur nyenyak tanpa takut air hujan masuk.








