LHOKSEUMAWE — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Lhokseumawe mengajak masyarakat kembali mengoptimalkan penggunaan uang logam Rupiah sebagai bagian dari upaya mendukung kelancaran sistem pembayaran dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Ajakan tersebut disampaikan Kepala KPwBI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, dalam Temu Media bertema “Sinergi untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan” di Kantor BI Lhokseumawe, Jumat (14/8/2026).
Yudo mengatakan, ajakan tersebut diwujudkan melalui program Jeumpa Logam yang menjadi bagian dari rangkaian Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026. Kegiatan bertajuk “Peukan QRIS Meusare Sare” akan berlangsung Minggu (16/8/2026), pukul 09.00–15.00 WIB. Masyarakat dapat menukarkan uang logam Rupiah secara gratis tanpa biaya administrasi, dengan uang logam yang masih berlaku, bersih, dan memenuhi ketentuan.
“Melalui kampanye Jemput, Tukar, Putar Kembali, kami ingin memastikan uang logam yang masih layak dan berlaku sebagai alat pembayaran tidak hanya tersimpan di rumah, tetapi kembali beredar dalam perekonomian,” ujar Yudo. Proses penukaran akan dilakukan melalui penyortiran dan penghitungan menggunakan Mesin Sortasi Uang Logam (MSUL).
BI Lhokseumawe juga menyiapkan apresiasi bagi masyarakat yang berpartisipasi. Setiap penukaran 50 keping uang logam akan mendapatkan satu kupon undian. Kupon tersebut akan diundi pada puncak PQN 2026, 17 Agustus 2026. Yudo berharap program tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa uang logam tetap memiliki peran penting dalam sistem pembayaran nasional.
Di sisi lain, penggunaan transaksi digital melalui QRIS di wilayah kerja KPwBI Lhokseumawe terus mengalami pertumbuhan. Hingga Juni 2026, tercatat 136.179 merchant telah menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran. Menurut Yudo, perkembangan tersebut menunjukkan semakin luasnya adopsi transaksi nontunai sekaligus mendorong BI untuk terus memperkuat literasi masyarakat mengenai pembayaran digital dan perlindungan konsumen.
Sepanjang Januari–Juli 2026, KPwBI Lhokseumawe telah melaksanakan 15 kegiatan sosialisasi dan edukasi terkait QRIS serta perlindungan konsumen dengan jumlah peserta sekitar 3.000 orang. Edukasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar mampu melakukan transaksi digital secara aman dan mengantisipasi risiko fraud maupun scam. “Dengan meningkatnya literasi keuangan digital, masyarakat diharapkan mampu memanfaatkan QRIS secara lebih bijak, aman, dan bertanggung jawab,” kata Yudo.(man)








