Aceh Barat Daya – Upaya pengelolaan dan pengembangan fasilitas Guest House yang berada di bawah naungan Dinas Syariat Islam (DSI) dan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Barat Daya masih menghadapi sejumlah kendala yang cukup serius.
Salah satu permasalahan utama adalah tidak adanya anggaran yang memadai untuk mengoperasikan fasilitas tersebut.
Menurut Ubaidillah, kepala DSI dan Pendidikan Dayah Kabupaten setempat, Guest House tidak dapat beroperasi karena ketiadaan dana dan minimnya fasilitas pendukung seperti tempat tidur dan perlengkapan lainnya.
“Pengajuan anggaran telah diajukan kepada Penjabat (Pj) Bupati lalu, namun hingga saat ini belum terealisasi,” kata Ubaidillah kepada hariandaerah.com, Rabu (5/2/2025).
Selain itu, kata Ubaidillah perhatian pimpinan daerah harus lebih difokuskan pada operasional masjid Agung Baitul Ghafur termasuk Guest House.
“Hal ini dikarenakan masjid dan perangkatnya merupakan aset pemerintah yang memerlukan anggaran cukup besar,” kata Ubaidillah.
“Setiap tahunnya, masjid membutuhkan Rp 300 juta lebih untuk biaya operasional, termasuk honor imam masjid, pengamanan, pemeliharaan sarana dan prasarana, serta berbagai kebutuhan lainnya,” sambungnya.
Ia menekankan, salah satu solusi yang diharapkan dapat membantu operasional masjid adalah pengelolaan Guest House yang berada di lingkungan masjid.
“Guest House ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan yang dikelola oleh Badan Kemakmuran Masjid (BKM),” kata Ubaidillah.
Menurutnya, dengan pengelolaan yang baik, pemasukan dari Guest House dapat digunakan kapan saja untuk menutupi kebutuhan masjid yang bersifat mendesak.
Namun, permasalahan yang muncul adalah lemahnya manajemen BKM saat ini. Menurut Ubaidillah, BKM harus diperkuat agar mampu mengelola pendapatan masjid dengan baik.
“Salah satu langkah yang diusulkan adalah peremajaan Badan Kemakmuran Masjid (BKM) melalui pemilihan terbuka dan transparan, sehingga organisasi ini dapat berjalan lebih efektif dan profesional,” ungkap Ubaidillah.
Lebih lanjut, Kepala DSI dan Pendidikan Dayah ini menyebutkan, operasional Guest House juga sangat bergantung pada sinergi antara BKM dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).
“Jika ingin Guest House berfungsi secara optimal, maka perlu dilakukan perombakan total dalam sistem pengelolaannya. Pembenahan ini meliputi manajemen keuangan, fasilitas, serta strategi pemasaran agar Guest House dapat menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi masjid,” pungkas Ubaidillah.
Dengan perencanaan dan komitmen yang matang dari semua pihak terkait, diharapkan Guest House dapat beroperasi.
Guest House dapat dikelola dengan lebih baik untuk mendukung keberlangsungan operasional masjid Agung Baitul Ghafur di Aceh Barat Daya.








