Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Jelang Ramadhan, Pengungsi Aceh Masih di Tenda Panas; LAI Aceh Desak Percepatan Huntara

IMG 20260122 WA0000
Ketua Lembaga Aliansi Indonesia Provinsi Aceh bersama warga korban banjir di langkahan Kabupaten Aceh Utara. hariandaerah.com/ foto.nurmansyah

ACEH — Kehidupan para pengungsi korban bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh kian memprihatinkan. Di bawah tenda-tenda pengungsian, warga harus bertahan menghadapi teriknya panas siang hari, keterbatasan fasilitas, serta kondisi yang jauh dari kata layak.(22/1/26)

Ketua Lembaga Aliansi Indonesia,propinsi Aceh Agussalim Anzib, menyampaikan bahwa kondisi tersebut sangat menguras fisik dan psikologis para korban bencana. Terlebih, harapan terbesar masyarakat saat ini adalah dapat segera meninggalkan tenda pengungsian dan menempati Hunian Sementara (Huntara) yang lebih manusiawi.

“Panas di bawah tenda pada siang hari sangat menyiksa, terutama bagi anak-anak, lansia, dan perempuan. Masyarakat sangat berharap bisa segera dipindahkan ke Huntara agar kehidupan mereka lebih layak,” ujar Agussalim.

BACA JUGA:  Pendaftaran Program Kartu Prakerja Gelombang ke-48 Telah Dibuka, Ini Jumlah Pesertanya

Ia menambahkan, harapan tersebut semakin mendesak mengingat bulan suci Ramadhan yang sudah semakin dekat. Menurutnya, para pengungsi ingin menjalani ibadah puasa dalam kondisi yang lebih aman, nyaman, dan bermartabat.

Namun demikian, Agussalim juga menyoroti berbagai persoalan yang menjadi pekerjaan rumah serius dalam pembangunan Huntara. Ia mengungkapkan bahwa beredarnya informasi di berbagai wilayah Aceh terkait dugaan praktik jual beli dan pungutan liar (pungli) dengan persentase tertentu telah menjadi salah satu faktor yang menghambat realisasi Huntara.

“Informasi yang berkembang menyebutkan adanya praktik jual beli atau pungli dalam proses Huntara. Hal ini sangat merugikan masyarakat dan membuat banyak pekerjaan Huntara menjadi terkendala,” tegasnya.

BACA JUGA:  Bertemu Menteri Hukum, Nugraha Lawyer Yayasan Trisakti, Yakni Beliau Bijak dan Taat Hukum

Lembaga Aliansi Indonesia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan pengawasan ketat, transparansi, serta penindakan tegas terhadap segala bentuk penyimpangan. Menurut Agussalim, percepatan pembangunan Huntara yang bersih dari praktik pungli adalah kunci agar para korban bencana dapat segera bangkit dan menata kembali kehidupan mereka.

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini bukan janji, tetapi langkah nyata. Huntara harus segera terwujud tanpa praktik-praktik yang mencederai rasa keadilan,” pungkas Agussalim Anzib.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *