Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Malahayati: Pencegahan Stunting Melalui Rumoh Gizi Gampong

kapus ulka malahayati
Kepala Puskesmas Ulee Kareng Malahayati, SKM, MPH. (Foto: hariandaerah.com/JR)

BANDA ACEH – Rumoh Gizi Gampong (RGG) merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat di tingkat desa/gampong dalam upaya pencegahan Stunting. Adapun kegiatan RGG mencakup kombinasi program-program spesifik dan sensitif untuk pencegahan serta penanganan Stunting di kota Banda Aceh.

Hal tersebut, dikatakan Kepala Puskesmas Ulee Kareng Malahayati, SKM, MPH saat dijumpai hariandaerah.com diruang kerjanya, Senin (18/12/2023).

Kepala Puskesmas Ulee Kareng Malahayati, SKM, MPH mengatakan, bahwa kegiatan utama Rumoh Gizi Gampong memberikan edukasi Gizi dan monitoring terhadap pertumbuhan dan konsumsi secara terstruktur pada kelompok risiko ibu hamil, ibu balita, remaja putri dan anak.

“Rumoh Gizi Gampong sangat efektif untuk pencegahan dan penanganan stunting atau gizi buruk,” kata Malahayati.

“Pemantauannya bisa sampai 3 kali di RGG,” tambahnya.

Malahayati juga mengungkapkan, di wilayah kecamatan Ulee Kareng terdapat 9 Gampong yang sudah menjalankan Rumoh Gizi Gampong, yaitu Gampong Pango Raya, Gampong Lamteh, Gampong Lambhuk, Gampong Lamglumpang, Gampong Doy, Gampong Ie Masen Ulee Kareng, Gampong Ceurih, Gampong Ilie dan Gampong Pango Deah.

gizi-ulka
Rumoh Gizi Gampong.

Malahayati menjelaskan, bahwa di RGG semua anak-anak yang terindikasi Stunting akan didata oleh kader RGG di masing-masing gampong dengan kerjasama Bidan Desa, unsur PKK dan Puskesmas itu sendiri. Sehingga, tidak ada yang luput dari program RGG tersebut.

“Semua anak yang terindikasi Stunting di RGG akan ditindak lanjuti Bidan Desa, unsur PKK dan Puskesmas itu sendiri,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Koordinator Program Gizi UPTD Puskesmas Ulee Kareng, Novita, Amd, Gz mengatakan, bahwa Stunting atau gagal tumbuh adalah kondisi ketika pertumbuhan anak terhambat dan tidak mencapai tinggi badan yang normal. Oleh sebab itu, diperlukan Gizi dengan aneka ragam, seperti makanan rumahan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga berat badan ideal bagi ibu Hamil.

BACA JUGA:  Cegah Stunting, Kandinkes Pidie Ajak Petugas Untuk Terus Lakukan Inovasi

“Konsumsi makanan yang beraneka ragam terutama makanan rumahan, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menjaga berat badan ideal bagi ibu Hamil,” katanya.

Oleh sebab itu, Novita mengungkapkan, bahwa Gizi dalam pencegahan Stunting sangat berperan penting, terhadap asupan yang baik dan seimbang dan juga sangat menentukan status gizi anak kedepan, terutama pencegahan Stunting.

“Khususnya status gizi anak usia 0-2 tahun yang merupakan periode emas anak yang tidak bisa di ulang dimasa mendatang,” ungkapnya.

Meski demikian, Novita menambahkan, Stunting bukan hanya mengganggu pad pertumbuhan tinggi badan anak. Namun juga perkembangan otak, dimana usia 2 tahun pertumbuhan otak anak paling maksimal sampai mencapai 80%. Stunting pada anak dapat mengakibatkan penurunan daya produksi di masa dewasa. Anak stunting juga mengalami kesulitan dalam belajar membaca dibandingkan anak normal.

“Sangat berpengaruh, jika asupan gizi kurang terutama di 1000 hari pertama kehidupan 0 bulan dala kandungan – 2 tahun, maka akan sangat berpengaruh pada tumbuh dan kembang si anak, jika si anak pendek dan perkembangan otaknya juga kurang, maka kedepan SDM berkualitas di negara kita akan rendah,” tambahnya.

gizi
Rumoh Gizi Gampong.

“Anak yang pendek juga memiliki risiko terjadinya penyakit-penyakit degeneratif dimasa mendatang,” ujarnya.

Kendati demikian, Stunting ini bukan hanya tentang asupan, banyak faktor penyebab lainnya seperti kondisi sanitasi yg kurang baik, status sosial, ekonomi keluarga dan lainnya.

BACA JUGA:  Dinkes Aceh Ajak Masyarakat Ikut Posyandu Cegah Stunting Pada Anak

“Jadi tidak semuanya Stunting ini disebabkan oleh masalah gizi,” ujarnya.

Maka dariitu, dikatakan Novita, bahwa pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini. Bahkan, sejak masa kehamilan. Salah satunya adalah memenuhi gizi ibu sejak hamil, memberi ASI sejak 6 bulan, memberikan ASI dengan MPASI dan memantau kembang tumbuh anak.

“Di berikan saat si ibu sedang mempersiapkan kehamilan. Bahkan dari pasangan yang akan menikah dilakukan screening kesehatan, karena mereka akan menjadi calon ibu. Jadi mulai dari remaja sekarang sudah kita berikan juga tablet tambah darah, sbg upaya mencegah terjadinya anemia pda remaja putri, yang nantinya akan menjadi calon ibu. Intinya sedini mungkin kita sudah memperhatikan asupan sebagai ikhtiar kita dalam mencegah stunting itu sendiri,” ungkapnya.

Novita juga berharap, kedepannya Stunting dapat menurun derastis di kecamatan Ulee Kareng dan Aceh khususnya dengan memberikan upaya-upaya pemehaman serta memperhatikan asupan anak dan kesehatan.

“Semoga kedepannya angka stunting kita semakin berkurang, kita akan mengupayakan memberikan pemahaman ibu dan para calon ibu utk memperhatikan asupan makan, kesehatan dll sehingga ketika hamil nntinya bisa melahirkan akan yg sehat dan bebas stunting,” harapnya.

“Perlu terus kita lakukan advokasi ke setiap lintas sektor utk mau terlibat dalam upaya pencegahan stunting. Seperti, rutin membawa balita ke posyandu sbg bentuk deteksi dini pada balita jika mengalami masalah pertumbuhan dan perkembangan, pemberian makanan tambahan dari pangan lokal dan kegiatan lainnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *