Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Profil Guru dalam Pendidikan Islam: Penjaga Cahaya Ilmu dan Pembentuk Peradaban

IMG 20260701 171754
Prof. DR. Zulfikar Alibuto Siregar MA (Foto:hariandaerah.com/Dok.Ist).

“Balajar dari sejarah peradaban manusia, tidak ada satu pun negara yang mampu berkembang tanpa guru sebagai motivator utama”

Pendidikan menentukan kualitas manusia, bukan jumlah sumber daya alam, pertumbuhan ekonomi, atau kemajuan teknologi.

Pada saat ini, guru berada dalam posisi yang sangat strategis. Ia bukan hanya memberi tahu orang, tetapi juga membangun karakter, menanamkan nilai, menjaga etika, dan membangun masa depan masyarakat.

Peran guru semakin sulit di tengah arus globalisasi dan revolusi teknologi yang berkembang dengan cepat. Pola belajar generasi muda telah diubah oleh media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan banyaknya informasi. Saat ini, gawai dapat mendapatkan informasi dalam hitungan detik. Aplikasi digital dapat memberikan penjelasan instan tentang konsep ilmiah dan menjawab berbagai pertanyaan akademik yang sebelumnya hanya dapat dijelaskan oleh guru di kelas. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan dasar: apakah guru masih diperlukan ketika teknologi dapat menggantikan sebagian besar tugas komunikasi?

Sebenarnya, pertanyaan tersebut berasal dari pemahaman yang salah tentang apa itu seorang guru. Meskipun teknologi dapat mengirimkan data, ia tidak dapat mengubah kebijaksanaan.

Meskipun mesin dapat mengolah data, mereka tidak memiliki contoh. Algoritma cepat memberikan jawaban, tetapi tidak empati, kasih sayang, atau tanggung jawab moral seperti seorang pendidik.

Oleh karena itu, dalam perspektif pendidikan Islam, guru tidak pernah diposisikan sekadar sebagai pengajar; sebaliknya, mereka diposisikan sebagai murabbi, mu’addib, dan mursyid, yang bertanggung jawab untuk mengantarkan manusia menuju kesempurnaan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia.

Pandangan guru dalam Islam memiliki dasar filosofis yang kuat. Ilmuwan adalah pilar utama pembangunan masyarakat sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم melalui firman Allah dalam Surah Al-‘Alaq. Ayat Iqra’ bukan hanya perintah untuk membaca teks; itu juga menyerukan untuk membangun kebiasaan intelektual yang akan menghasilkan masyarakat yang berpengetahuan.

Sangat menarik bahwa proses turunnya wahyu menunjukkan adanya hubungan pedagogis antara Rasulullah, sebagai penerima dan pendidik umat, dan Malaikat Jibril, sebagai penyampai wahyu. Oleh karena itu, pendidikan merupakan inti dari risalah Islam, dan guru berperan sebagai aktor utama dalam menyampaikan risalah tersebut kepada setiap generasi.

Al-Qur’an berulang kali mengangkat derajat mereka yang memiliki pengetahuan. Allah menyatakan bahwa Dia akan menurunkan derajat orang-orang yang beriman dan berpengetahuan secara bertahap.

Ilmu ini sangat berharga karena menunjukkan bahwa guru bukan sekadar pekerjaan pemerintahan; mereka adalah tugas religius yang memiliki aspek ibadah. Seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab kepada pemerintah atau institusi pendidikan, tetapi juga bertanggung jawab kepada Tuhan atas semua pengetahuan yang mereka ajarkan dan setiap karakter yang mereka bentuk.

Hubungan antara guru dan murid didasarkan pada penghormatan, contoh, dan keberkahan. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan adab kepada murid.

Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan Islam tidak hanya diukur dari nilai akademik yang tinggi; itu juga diukur dari pembentukan individu yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, kedalaman spiritual, dan keluhuran akhlak.

Sayangnya, tujuan pendidikan modern seringkali menjadi kurang signifikan. Administrasi, target capaian kurikulum, dan indikator kinerja kuantitatif semakin membebani guru. Akibatnya, ruang untuk membangun hubungan kemanusiaan antara pendidik dan murid semakin sempit.

Perlahan-lahan, sekolah telah berubah dari tempat menanamkan nilai-nilai moral menjadi tempat berlomba-lomba untuk angka, sertifikat, dan prestasi akademik. Dalam situasi seperti ini, guru cenderung dilihat sebagai operator pembelajaran daripada sebagai guru yang membentuk manusia secara keseluruhan.

BACA JUGA:  Opini. Dona Ing Media: Tentang Hukuman Mati di Indonesia

Ketika pendidikan memasuki era digital, fenomena ini semakin terasa. Meskipun mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan informasi, peserta didik juga menghadapi krisis makna. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi kadang-kadang mereka gagal membedakan kebenaran dari kesalahan. Mereka memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak selalu menggunakannya dengan benar.

Dalam hal ini, peran guru semakin penting. Guru tidak hadir untuk bersaing dengan teknologi dalam menyampaikan informasi; mereka hadir untuk membantu siswa menemukan jalan, arti, dan nilai dalam informasi yang mereka berikan.

Pendidikan Islam menganggap ilmu tidak pernah terpisah dari nilai. Setiap pengetahuan harus membuat manusia lebih mengenal Tuhannya, lebih mencintai sesama manusia, dan lebih bertanggung jawab atas alam semesta. Akibatnya, guru memiliki tugas profesi, yaitu meneruskan misi kenabian untuk membimbing orang-orang menuju kehidupan yang bermartabat. Karena pembinaan hati, pembentukan karakter, dan penanaman kesadaran spiritual adalah bagian dari tugas ini, alat yang paling canggih sekalipun tidak dapat melakukannya.

Guru Islam memiliki aspek peradaban. Sejarah menunjukkan bahwa tradisi pendidikan yang kuat membangun kejayaan peradaban Islam. Masjid, kuttab, madrasah, dan universitas adalah tempat di mana para ilmuwan yang menguasai berbagai disiplin ilmu muncul.

Dalam bidang tafsir, hadis, fikih, kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat, selalu ada guru yang penuh dedikasi yang membimbing mereka. Ini menunjukkan bahwa para guru yang bekerja secara diam-diam menanam ilmu yang akhirnya akan menghasilkan peradaban besar.

Guru bertanggung jawab lebih banyak. Ia tidak hanya mengajarkan siswa untuk menjadi siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk generasi yang religius, toleran, cinta tanah air, dan mampu beradaptasi dengan masyarakat yang beragam. Ketika siswa terpapar berbagai pengaruh negatif, seperti radikalisme, hedonisme, konsumerisme, individualisme, dan penyalahgunaan media digital, masalah ini semakin sulit.

Guru harus mampu menjadi benteng moral dan teladan yang menggambarkan Islam sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Namun demikian, dari sudut pandang Islam, menjadi guru bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan hanya dengan gelar akademik. Guru harus memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, keluasan pengetahuan, kematangan emosional, dan keikhlasan dalam mengabdikan diri mereka kepada masyarakat.

Karena perubahan zaman menghadirkan tantangan baru yang tidak pernah berhenti, ia harus selalu belajar. Jika seorang guru berhenti belajar, dia sesungguhnya telah berhenti menjadi guru, karena pendidikan adalah proses yang tidak pernah berhenti.

Ini adalah titik yang membedakan guru sebagai pekerjaan dan guru sebagai panggilan peradaban. Sebagai profesi, guru menjalankan pekerjaan mereka sesuai dengan standar kompetensi yang ditetapkan oleh negara. Meskipun demikian, sebagai tugas peradaban, guru bertanggung jawab untuk melahirkan generasi yang memiliki kemampuan untuk membangun masyarakat yang berkeadaban. Ia berusaha bukan hanya untuk memenuhi tanggung jawab administratif, tetapi juga untuk menjamin bahwa cahaya ilmu terus bersinar dari generasi ke generasi.

Akibatnya, profil guru dalam pendidikan Islam tidak dapat direduksi menjadi kumpulan keahlian akademik, profesional, sosial, dan kepribadian seperti yang didefinisikan oleh peraturan pendidikan. Meskipun keahlian ini penting, mereka tidak cukup. Nilai-nilai yang dia ajarkan harus diwakili oleh guru pendidikan Islam. Ia mencerminkan ajaran Islam itu sendiri.

Ketika murid melihat seorang guru jujur, mereka belajar tentang jujur; ketika mereka melihat seorang guru sabar, mereka belajar tentang kesabaran; dan ketika mereka merasakan kasih sayang guru, mereka belajar tentang arti rahmat yang diajarkan Islam. Dengan kata lain, kurikulum yang paling efektif dalam pendidikan Islam adalah pribadi guru.

Berbicara tentang profil guru sebenarnya berarti berbicara tentang masa depan dunia. Jika guru kehilangan integritas, pendidikan kehilangan ruhnya, dan jika pendidikan kehilangan ruhnya, maka bangsa hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral. Sebaliknya, jika guru dapat menjaga cahaya ilmu dengan keteladanan, keikhlasan, dan komitmen terhadap nilai-nilai Islam, pendidikan akan terus melahirkan generasi yang bukan hanya mampu mengikuti perkembangan zaman tetapi juga mampu memimpin arah perubahan menuju revolusi.

BACA JUGA:  Warek I IAIN Lhokseumawe, 11 Akademisi Aceh Ikuti TOT di Palembang

Islam memandang guru jauh melampaui batas profesionalisme administratif. Ini berbeda dengan pemahaman modern tentang guru yang dipahami sebagai sebuah profesi yang diukur melalui kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.

Dalam paradigma pendidikan Islam, guru dianggap sebagai pewaris risalah kenabian (waratsat al-anbiyā), yaitu orang yang melanjutkan pekerjaan para nabi dalam memberikan pengetahuan, mengajar orang, menyucikan jiwa, dan membangun masyarakat yang berkeadaban.

Oleh karena itu, menjadi guru bukan sekadar pilihan karir; itu adalah tugas ilahi yang melibatkan aspek teologis, moral, sosial, dan peradaban.

Sudut pandang ini memiliki dasar yang kuat untuk menganjurkan. Al-Qur’an menyatakan bahwa pendidikan adalah tujuan utama kerasulan. Dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 2, Allah SWT menyatakan, bahwa Rasulullah diutus untuk membacakan firman-Nya, menyucikan jiwa manusia (tazkiyah), dan mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah.

Urutan ini benar-benar menarik untuk dilihat. Pendidikan Islam tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membangun karakter dan membersihkan hati. Dengan kata lain, ilmu Islam selalu berjalan seiring dengan pembinaan akhlak, tidak pernah berdiri sendiri. Guru memiliki peran yang jauh lebih luas di sini daripada hanya menyampaikan materi pelajaran.

Konsep pewaris kenabian berarti bahwa seorang pendidik tidak boleh melihat pekerjaannya secara terbatas pada mengajar kelas secara teratur. Guru menjaga kelangsungan budaya Islam. Salah satu tanggung jawabnya adalah menjamin bahwa nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, tauhid, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemanusiaan tidak akan hilang atau hilang dari generasi ke generasi.

Oleh karena itu, kualitas masyarakat yang akan lahir pada masa depan sangat dipengaruhi oleh kualitas guru. Jika guru kehilangan orientasi nilai, pendidikan akan menghasilkan generasi yang cerdas tetapi miskin integritas. Sebaliknya, jika guru mampu melaksanakan misi kenabian, pendidikan akan menjadi kekuatan transformasi sosial yang akan menghasilkan masyarakat yang adil, beradab, dan bermartabat.

Sebagai seorang pendidik, guru harus memiliki kemampuan untuk membangun hubungan emosional yang kuat dengan siswanya. Ia tidak mengajar melalui ketakutan; sebaliknya, ia mengajar melalui keteladanan, kasih sayang, percakapan, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Metode ini sangat relevan mengingat berbagai masalah psikologis yang semakin meningkat yang dihadapi generasi muda.

Masalah itu termasuk kecemasan, krisis identitas, tekanan akademik, dan kecanduan media digital. Guru harus membantu siswa menemukan makna dalam hidup mereka dalam situasi seperti ini, bukan hanya menyampaikan pelajaran. Akibatnya, guru pendidikan Islam harus menjadi teladan hidup dari nilai-nilai yang mereka ajarkan.

Metode pendidikan yang paling efektif adalah keteladanan, karena peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang didengar tetapi juga dari pengalaman hidup guru mereka. Guru memiliki nilai-nilai integritas, kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, dan keikhlasan sebagai “kurikulum hidup” yang akan bertahan jauh lebih lama daripada apa yang diajarkan di kelas.

Penulis: Prof. DR. Zulfikar Alibuto Siregar MA (Direktur Pascasarjana UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *