SIMEULUE – Tak perlu berlayar jauh untuk menemukan panorama pulau kecil yang memesona di Simeulue. Dari ruas jalan umum yang menghubungkan Kecamatan Teupah Barat dan Simeulue Tengah, mata pengendara sudah dimanjakan dengan pemandangan sebuah pulau mungil yang berdiri di tengah birunya laut. Masyarakat mengenalnya sebagai Pulau Anudayan, sementara para pelancong lebih akrab menyebutnya sebagai “Pulau SpongeBob”-nya Simeulue.
Pulau kecil tak berpenghuni yang berada di kawasan pesisir Desa Bunon, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, Aceh, itu menawarkan pesona alam yang masih begitu alami. Hanya ditumbuhi sejumlah pohon kelapa dan tumbuhan liar, Pulau Anudayan justru memiliki daya tarik tersendiri karena bentuknya yang unik dan sekilas mengingatkan pengunjung pada pulau dalam alur cerita film SpongeBob.
Menariknya, keindahan Pulau Anudayan tidak hanya dapat dinikmati dari atas perahu. Pulau ini bisa dilihat langsung dari ruas jalan umum lintasan Kecamatan Teupah Barat menuju Simeulue Tengah. Jaraknya pun relatif dekat, kurang dari 500 meter dari badan jalan.
Lokasinya sekitar 18 kilometer dari Kantor Camat Teupah Barat dan sekitar 42 kilometer dari Kantor Bupati Simeulue. Kondisi tersebut menjadikan Pulau Anudayan sebagai salah satu destinasi wisata bahari yang mudah dijangkau, bahkan bagi wisatawan yang hanya ingin berhenti sejenak untuk mengabadikan panorama dengan kamera telepon seluler.
Saat air laut pasang, Pulau Anudayan tampak seperti pulau kecil yang mengapung di tengah lautan. Namun ketika air mulai surut, hamparan pasir dan bebatuan kecil di sekelilingnya ikut memperlihatkan karakter alam pulau tersebut. Luasnya diperkirakan tidak jauh dari ukuran lapangan bola voli, namun keunikannya menjadikan pulau mungil ini memiliki daya tarik yang jauh lebih besar.
Di balik keindahannya, ternyata nama Anudayan menyimpan cerita yang diwariskan masyarakat setempat.
Menurut cerita warga, pulau tersebut sejak dahulu kerap menjadi tempat singgah burung-burung pemburu ikan di laut, seperti elang, camar dan berbagai jenis burung lainnya. Pulau itu menjadi tempat berlindung ketika cuaca buruk, beristirahat sekaligus menikmati hasil buruan mereka.
Burung-burung yang hinggap di dahan pohon di pulau tersebut terkadang terlihat seperti sedang berjuntai mengikuti hembusan angin laut. Dalam bahasa lokal, aktivitas berjuntai itu disebut “besudday”. Dari sebutan tersebut, secara turun-temurun kemudian berkembang menjadi nama Anudayan.
“Ada historisnya nama pulau itu, dan nama asli pulau itu adalah Pulau Anudayan. Karena bentuknya seperti pulau dalam film SpongeBob, sehingga pengunjung atau pelancong menyebutnya Pulau SpongeBob,” kata Camat Teupah Barat, Muhsin, kepada media ini, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Muhsin, Pulau Anudayan merupakan salah satu magnet pariwisata di Kecamatan Teupah Barat. Keasliannya yang masih terjaga dan belum berpenghuni menjadi kelebihan tersendiri.
“Pulau Anudayan itu salah satu magnet pariwisata yang ada dan dijaga oleh masyarakat Kecamatan Teupah Barat. Kami minta para pengunjung ke sana untuk tidak merusak dan memindahkan setiap benda yang ada di sana,” ujarnya.
Satu Pulau, Banyak Pesona
Pesona Pulau Anudayan tidak berhenti pada bentuk pulaunya. Kawasan di sekitarnya juga menyimpan potensi wisata bahari yang dapat dikembangkan, mulai dari keindahan pantai hingga panorama bawah laut.
Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simeulue, Zulfatah, mengatakan Pulau Anudayan merupakan salah satu aset destinasi wisata yang masih original di Kabupaten Simeulue.
“Pulau Anudayan SpongeBob-nya Simeulue itu merupakan salah satu aset destinasi dan menjadi magnet pariwisata yang masih original di Kabupaten Simeulue. Maka pengunjung sangat dilarang merusak serta memindahkan setiap benda yang ada di pulau tersebut,” tegasnya.
Menurutnya, salah satu kelebihan Pulau Anudayan adalah lokasinya yang dapat dilihat langsung dari ruas jalan umum lintasan Teupah Barat menuju Simeulue Tengah. Kawasan tersebut juga memiliki potensi wisata bahari dan keindahan pantai yang dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan.
“Kelebihan lain pulau itu dapat dilihat langsung dari ruas jalan umum. Di sekitar pulau itu juga menawarkan objek wisata bawah laut serta hamparan pasir pantainya yang juga memikat. Bila pelancong luar daerah belum melihat dan menyaksikan langsung Pulau Anudayan SpongeBob-nya Simeulue, maka belum lengkap kunjungannya,” imbuh Zulfatah.
Meski fasilitas pendukung wisata di kawasan tersebut masih terbatas, keterlibatan masyarakat lokal menjadi modal penting untuk menjaga Pulau Anudayan tetap alami. Masyarakat Teupah Barat secara tidak langsung menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menjaga kelestarian destinasi tersebut.
Bagi Uwo Mahesa (53), warga Simeulue Timur, Pulau Anudayan layak mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah.
“Siapa saja pasti kangen dan tak perlu biaya dapat menyaksikan langsung dari jarak dekat dan jarak jauh pemandangan keindahan Pulau Anudayan SpongeBob-nya Simeulue. Sebaiknya Pemda Simeulue jangan diam dan perlu perhatian khusus untuk objek wisata yang sudah terkenal itu,” katanya.
Hal senada disampaikan Riko (45), warga Kota Sinabang. Menurutnya, Simeulue memiliki banyak potensi wisata pesisir yang tidak kalah menarik dibandingkan daerah lain.
“Saya sangat sependapat dengan apa yang diulas tentang keindahan Pulau Anudayan SpongeBob, karena salah satu destinasi wisata dari beberapa pinggiran pesisir laut Kabupaten Simeulue yang kaya dengan keindahan. Sebagai salah satu spot wisata yang mudah dijangkau, Pemda Simeulue harus support fasilitas pendukung untuk memudahkan dan keselamatan pelancong,” ujarnya.
Pulau Anudayan bukan sekadar pulau kecil di tengah laut. Ia adalah perpaduan antara keunikan bentuk alam, cerita lokal, panorama laut dan potensi wisata bahari yang masih terjaga.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Simeulue, khususnya yang melintas di kawasan Teupah Barat, jangan lupa berhenti sejenak. Arahkan pandangan ke laut dan abadikan siluet mungil Pulau Anudayan. Sebab, di Simeulue ada “SpongeBob” versi nyata bukan di layar televisi, tetapi berdiri alami di tengah birunya Samudera Hindia. (**)















