KOTA TEGAL – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-446 Kota Tegal, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tegal menggelar Rapat Paripurna Istimewa yang berlangsung khidmat dan penuh keakraban, pada Sabtu (11/4/2026).
Mengusung tema besar “Tegal Tangguh Pantang Ngangluh”, acara ini memiliki keunikan tersendiri karena seluruh pengantar dan sambutan disampaikan dengan kearifan lokal menggunakan Bahasa Tegal.
Rapat paripurna ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Tegal, Wakil Wali Kota Tegal, Sekretaris Daerah, serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Satu hal yang membuat acara ini semakin bermakna adalah kehadiran para mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal. Kehadiran mereka memberikan nuansa penghormatan terhadap sejarah panjang dan perjalanan pembangunan kota, sekaligus mempererat tali persaudaraan antar generasi pemimpin.
Dalam sambutannya, Ketua DPRD Kota Tegal, Kusnendro, menegaskan bahwa momentum HUT ke-446 ini bukan sekadar seremonial, melainkan waktu untuk refleksi bersama.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat dan stakeholder untuk terus memperkuat persatuan serta meningkatkan sinergi demi kemajuan daerah.
“Abot pada dipanggul, enteng pada dicangking,” ujar Kusnendro mengutip pepatah khas Tegal.
Ungkapan ini bermakna ajakan untuk bekerja sama, memikul beban berat bersama-sama, dan mengerjakan hal ringan dengan gotong royong, sehingga segala tantangan dapat diselesaikan dengan lebih mudah.
Sementara itu, Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, dalam pidatonya yang juga disampaikan dalam Bahasa Tegal, mengajak seluruh warga untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan ketangguhan.
Tema “Tegal Tangguh Pantang Ngangluh” diharapkan menjadi motivasi agar masyarakat tetap optimis dan pantang menyerah, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang saat ini sedang tidak menentu.
“Kota Tegal harus pintar mengatur kebijakan, berhati-hati, dan tetap efisien sesuai arahan Pemerintah Pusat,” tegasnya.
Dedy Yon juga memaparkan sejumlah tantangan besar yang harus dijawab bersama ke depannya. Mulai dari upaya meraih kembali penghargaan Adipura, pengembangan ekonomi kreatif dan ekonomi syariah yang menjadi fokus tahun 2027, pelestarian budaya, hingga pengembangan pariwisata berkelanjutan.
Semua ini dilakukan agar Kota Tegal semakin berdaya saing namun tetap menjaga kearifan lokalnya.
“Kuwe dewek kabeh kudu bisa digoleti reka dayane ben wujud dadi nyata,” ucapnya tegas.
Kalimat yang berarti “Semua ini harus kita cari solusi dan upayanya bersama-sama agar bisa terwujud nyata” ini menjadi penutup yang menyemangati bagi seluruh hadirin untuk terus bekerja keras membangun Kota Tegal yang lebih maju.












