BREBES – Pahit getir kehidupan menyapa keluarga Koriah (29), warga Desa Kalimati, Kecamatan Brebes. Rumah tempat berteduh puluhan tahun akhirnya ambruk tak lagi kuat menahan lapuk dimakan usia. Peristiwa nahas itu terjadi pada Selasa (12/05/2026), ketika dinding bangunan tua itu rubuh seketika, menyeret struktur atap hingga ratusan butir genteng pecah berantakan berserakan di tanah.
Rumah berukuran 4 x 6 meter itu sesungguhnya sudah lama menunjukkan tanda-tanda kerusakan parah. Dindingnya terlihat lapuk, mengelupas, dan kondisinya semakin miring mengkhawatirkan. Lantai yang hanya beralas plesteran semen pun penuh lubang dan retakan di sana-sini. Di bangunan sederhana inilah Koriah hidup bersama suaminya, Arief Durahman (37), serta dua orang anaknya. Namun, selama bertahun-tahun, rumah itu tak pernah tersentuh perbaikan sedikit pun. Alasan sederhana namun menyakitkan: mereka tak memiliki biaya sepeser pun untuk merenovasi.
Mata pencaharian keluarga ini hanya mengandalkan hasil kerja suami sebagai buruh serabutan. Penghasilannya sangat tak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk menutupi kebutuhan makan sehari-hari. Memikirkan biaya perbaikan rumah adalah hal yang mustahil bagi mereka.
“Dari mana kami punya uang untuk rehab? Kami tidak punya apa-apa, ya akhirnya dibiarkan begitu saja sampai rubuh begini. Sudah tak sanggup lagi menahan beban,” ungkap Koriah dengan nada sendu saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis (14/05/2026).
Kini, keluarga kecil itu berada dalam situasi serba sulit dan penuh risiko. Meski bangunan sudah rusak parah dan nyaris tak layak huni, mereka masih terpaksa menempati sisa bangunan yang masih berdiri. Pilihan rasanya tak ada, sebab menumpang di rumah kerabat pun dirasa sangat memberatkan dan tidak mungkin dilakukan dalam waktu lama.
“Terpaksa kami tempati dulu apa adanya, walau tahu bahayanya. Mau ke mana lagi? Numpang ke saudara rasanya sungkan dan tidak enak hati, ya sudah bertahan di sini dulu,” lanjutnya.
Ironisnya, data resmi pemerintah justru mencatat Koriah masuk dalam kategori keluarga tidak mampu Desil 1, golongan warga yang seharusnya menjadi prioritas utama menerima bantuan sosial maupun program Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Hingga rumahnya rubuh, Koriah mengaku tak pernah sekalipun mendapatkan bantuan perbaikan rumah. Ia pun menyuarakan harapan agar musibah ini menjadi perhatian pihak berwenang.
“Selama ini belum ada yang datang menawarkan atau menanyakan soal bantuan. Harapan saya cuma satu, semoga ada perhatian dan saya bisa dapat bantuan RTLH. Saya ingin rumah saya diperbaiki kembali agar layak ditempati anak-anak,” ucapnya penuh harap.
Menanggapi hal itu, Kepala Desa Kalimati, Lukman Hakim, saat ditemui di kediamannya membenarkan status ekonomi Koriah. Namun, ia menyampaikan sisi lain dari persoalan ini. Menurut Lukman, pemerintah desa sebenarnya sudah berulang kali menawarkan bantuan perbaikan rumah, namun selalu menemui kendala yang sama.
“Memang benar Ibu Koriah masuk Desil 1, prioritas utama. Tapi perlu diketahui, kami sudah berkali-kali menawarkan bantuan itu. Masalahnya, bantuan pemerintah itu bentuknya material bangunan saja. Sedangkan Ibu Koriah sama sekali tidak sanggup mengeluarkan uang untuk membayar tukang atau biaya tenaga kerja. Kalau ditawarin, jawabannya selalu sama: tidak ada dana. Begitu kondisinya dari dulu,” jelas Lukman Hakim.
Isu ini kemudian menyita perhatian serius Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Dinperwaskim) Kabupaten Brebes. Kepala Dinas, La Ode Vindar Aris Nugroho, AP., M.Si., langsung merespons cepat pemberitaan tersebut. Ia telah memberikan instruksi tegas kepada seluruh jajarannya agar segera turun ke lokasi dan mencari solusi penyelesaian.
“Sudah saya perintahkan Kepala Bidang beserta tim untuk segera menindaklanjuti kasus ini. Kami bahkan akan berkoordinasi erat dan bekerja sama dengan pihak Baznas, agar solusi terbaik bisa ditemukan dan warga terbantu sepenuhnya, tanpa terkendala biaya apa pun,” tegas La Ode Vindar.














