DHARMASRAYA – Bertepatan dengan 14 Ramadan 1446 H, kegiatan koordinasi pengentasan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Dharmasraya mencapai lokus terakhirnya di Kecamatan Sungai Rumbai. Kegiatan ini melibatkan seluruh nagari di tiga kecamatan, yakni Sungai Rumbai, Koto Besar, dan Asam Jujuhan.
Dalam kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini, pelibatan pemerintah nagari menjadi faktor utama keberhasilan program pengentasan ATS. Pemerintah daerah dan nagari bekerja sama secara sinergis, mengingat pemerintahan nagari memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan lebih memahami akar permasalahan ATS.
“Kunci sukses dalam pengentasan Anak Tidak Sekolah adalah pelibatan pemerintah nagari. Mereka yang paling memahami kondisi warganya dan mampu menangani persoalan sosial secara lebih tepat dan cepat,” ujar salah satu perwakilan pemerintah daerah dalam acara tersebut.
Salah satu catatan penting dalam diskusi hari ini adalah kasus anak yang putus sekolah akibat permasalahan keluarga. Bahkan, beberapa di antaranya mengalami pelecehan seksual di lingkungan keluarga sendiri.
“Kita tidak bisa menutup mata terhadap fakta bahwa banyak anak berhenti sekolah karena masalah keluarga. Ada kasus anak yang mengalami pelecehan oleh anggota keluarganya sendiri. Ini bukan hanya terjadi di sini, tetapi juga sering kita dengar di berita televisi dan media sosial,” ungkap seorang peserta diskusi.
Sebagai langkah solutif, sinergi antara pemerintah daerah, nagari, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi semakin penting. Upaya ini mencakup fasilitasi konseling psikologis serta pencerahan dari pemuka agama di tempat-tempat ibadah.
“Kami percaya bahwa pendampingan psikologis dan peran aktif pemuka agama dalam memberikan pencerahan sangat penting. Ini bukan sekadar masalah pendidikan, tetapi juga perlindungan sosial bagi anak-anak yang rentan,” tambah seorang tokoh masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Dengan pendekatan yang komprehensif dan melibatkan berbagai pihak, diharapkan angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Dharmasraya dapat terus berkurang, sehingga setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak serta lingkungan yang aman dan mendukung.














