Iklan Diskopukm Aceh
Iklan Diskopukm Aceh

Wartawan Setengah Matang Merebak di Pringsewu, Berita Asal Jadi Bikin Resah

AddText 09 26 06.32.17
Alat berat sedang melakukan pengerukan tanah untuk proses cetak sawah yang hasil tanahnya dimanfaatkan pengrajin tobong batu bata dan genting. (HarianDaerah.com)

PERSPEKTIF – Fenomena wartawan setengah matang menjadi oknum kini merebak di Kabupaten Pringsewu. Mereka tampil percaya diri, mengenakan kartu identitas wartawan, bahkan mengaku bagian dari profesi resmi.

Namun karya yang dihasilkan jauh dari kata layak. Narasi yang ditulis bercampur opini, cenderung tendensius, bahkan lebih mirip karangan anak sekolah ketimbang sebuah berita.

Fakta di lapangan menunjukkan, pemberitaan asal jadi ini justru menimbulkan keresahan. Bukan keresahan masyarakat sebagaimana mereka tuduhkan, melainkan keresahan para pelaku usaha dan warga yang merasa dirugikan akibat pemberitaan ngawur yang tidak sesuai realita.

IMG 20250926 WA0146

Contoh paling nyata adalah isu yang dilempar soal aktivitas galian di Kecamatan Pagelaran Utara. Mereka mengklaim itu sebagai tambang ilegal yang meresahkan.

Padahal, faktanya kegiatan tersebut merupakan jasa cetak sawah yang diinisiasi masyarakat sendiri. Lahan tandus dan sawah tidak produktif digarap ulang agar berubah menjadi lahan pertanian subur.

BACA JUGA:  Kebakaran Hebat Landa Teluk Pandan Pesawaran Lampung, Gudang Diduga Berisi BBM Ludes

Manfaatnya jelas dan nyata yaitu sawah menjadi produktif, petani terbantu, hasil panen meningkat. Itu bukan proyek gelap, bukan pula aktivitas yang merugikan.

Tanah dari hasil pengerukan pun tidak terbuang sia-sia. Para pengrajin tobong batu bata dan genting memanfaatkan tanah liat itu sebagai bahan baku utama.

Industri kecil ini bergantung pada pasokan tanah liat untuk bisa tetap berproduksi. Ketika aktivitas cetak sawah berjalan lancar, roda ekonomi mereka ikut berputar.

Namun karena pemberitaan setengah matang yang menggiring opini, aktivitas dihentikan, pasokan terganggu, dan para pengrajin terancam merugi.

Inilah akibat paling fatal dari wartawan setengah matang yang asal menulis tanpa verifikasi. Berita yang lahir bukan hanya menyesatkan, tetapi juga menghancurkan kehidupan masyarakat kecil.

Mereka menulis dengan semangat sensasi, tapi mengorbankan akurasi. Mereka merasa sedang mengungkap kebenaran, padahal sedang membunuh harapan banyak orang.

BACA JUGA:  Dugaan Garasi Anggaran di Kecamatan Sukoharjo 2024, Rincian Kegiatan Didominasi Honor dan Biaya Rutin Berulang

Fenomena ini jelas mencoreng profesi wartawan. Wartawan sejati berdiri di atas prinsip akurasi, keberimbangan, dan fakta.

Wartawan setengah matang hanya mengandalkan keberanian tanpa isi. Menulis berita asal jadi tanpa logika, lalu berlindung di balik status mengaku wartawan.

Profesi mulia ini bukan tempat untuk coba-coba. Jika masih setengah matang, berhentilah merusak.

Belajarlah dulu bagaimana menulis berita yang benar, pahami etika jurnalistik, dan gunakan pena untuk mencerahkan, bukan menjerumuskan.

Sebab jika terus seperti ini, yang rusak bukan hanya nama pribadi, melainkan marwah seluruh profesi wartawan yang dibangun dengan darah dan keringat para jurnalis sejati. Camkan itu!

( Redaksi Hariandaerah.com)

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *